MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
25. Untung Dia Buta


__ADS_3

Sesampai di rumah Rio, Dalvin segera membereskan rumah itu. Beberapa hari ditinggalkan, rumah itu dipenuhi banyak debu. Sementara Soraya langsung menuju kamar mandi.


BRAAKK


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan keras, membuat Dalvin terkejut ketika melihat kepanikan di wajah Soraya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Dalvin mengejar posisi Soraya.


"Hujannya deras sekali… Suara genteng membuat aku takut…" Jawab Soraya sambil merangkul bahu Dalvin.


"Kamu takut hujan?" Dalvin mengelus lembut bahu Soraya. Sejak kejadian tadi, Dalvin menjadi begitu perhatian dan sabar ketika berhadapan dengan istrinya itu.


"Suara hujan yang menimpa genteng sangat berisik… Aku resah, dunia serasa semakin sempit… Aku ingin bebas dari kebutaan ini… Aku ingin melihat…." Tangis Soraya pecah.


Dalvin merasa iba. Ia menarik tubuh Soraya ke dalam dekapannya.


"Semua akan indah pada waktunya, Sora… Percayalah…" Bisik Dalvin sambil mengelus rambut Soraya.


Soraya mulai tenang. Ia mengeluarkan dirinya dari dekapan Dalvin, sehingga Dalvin tidak sengaja melihat kembali bekas perbuatan Duta di bahu Soraya.


Hati Dalvin merasa panas. Andai ia terlambat sedikit saja tadinya, entah apa yang akan terjadi. Dan ia tidak ingin memikirkan hal itu lagi, karena hanya akan membuat darahnya terasa mendidih saja.


Dalvin teringat, memang di kamar mandi tidak terpasang plafon, sehingga jika hujan deras suaranya akan terasa memekakkan telinga apabila kita berada di dalamnya.


"Kalau dengan hujannya kamu tidak takut?" Tanya Dalvin.


"Kenapa harus takut?" Ketus Soraya.


"Main hujan, yuk..." Ajak Dalvin sambil tersenyum.


"Seperti anak kecil saja… Nggak mau ah…" Elak Soraya.


"Ayolah…." Paksa Dalvin seraya menarik lengan Soraya.

__ADS_1


"Dalviiiiin…" Pekik Soraya memberontak.


Semenit kemudian mereka telah berada di halaman belakang.


"Basaaaah…." Teriak Soraya berpura-pura jengkel.


"Nikmati, Sora… Sore ini kita harus bersenang-senang... Kita akan menari bersama di bawah hujan." Kata Dalvin dengan mengeraskan suaranya. Deras hujan bahkan membuat ia tidak mendengar suaranya sendiri.


Soraya tersenyum. Ia mulai mempererat pegangan tangannya di pinggang Dalvin. Mereka mulai berdansa diiringi suara guyuran hujan.


Kaki Soraya yang putih menari-nari di atas rumput hijau tanpa alas. Ia terus mengikuti gerakan Dalvin, hanyut dalam suasana yang membuat ia merasa bahagia.


Soraya menengadahkan wajahnya ke langit, dan air hujan menimpa wajahnya itu. Dalvin terbuai melihat keelokan paras istrinya sendiri. Ia terperdaya dan langsung mengecup leher Soraya.


Soraya ikut hanyut merasakan setiap ritme sentuhan bibir Dalvin yang bermain di lehernya. Jemarinya mulai meremas bahu Dalvin dan mengikuti setiap permainan dalam kuyupnya berhujan.


"Hmmmm hhhhh…"


Soraya bahkan menyadari bahwa ia sama sekali tidak dengan terpaksa melakukannya. Dia mengangkat tangannya dan meraba wajah Dalvin. Ia sungguh nyaman jika lelaki yang memeluknya adalah Suaminya sendiri.


Dalvin membuka mata lalu mengecup bibir Soraya. Lama mereka terbuai, hingga gigi Soraya mulai terdengar bergemelatuk menahan kedinginan.


Dalvin mengangkat tubuh Soraya dan menggendongnya ke dalam.


"Hujannya mulai reda, sekarang mandilah… Kita sudah berada di depan pintu kamar mandi…." Suruh Dalvin.


Soraya tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan hati-hati. Mereka mandi dengan bergantian, namun Soraya merasa Dalvin sangatlah lama berada di dalam kamar mandi.


"Kamu bersemedi di dalam? Kenapa begitu lama?" Omel Soraya.


"Aku sakit perut…." Jawab Dalvin asal. Ia tampak tegang untuk sesaat.


Untung dia buta... Kalau tidak, mungkin dia akan tahu betapa gugupnya aku sekarang...

__ADS_1


****


Dalvin telah selesai menghidangkan sarapan pagi, namun Soraya belum kunjung terbangun. Sedari tadi ia bolak-balik ke kamar untuk memeriksa gadis itu, namun tetap saja tidur Soraya terlalu nyenyak.


"Hey, bangun… Perempuan kok bangunannya siang-siang? Banguuun…." Seru Dalvin sambil menarik selimut Soraya.


Dalvin memeluk selimut Soraya, dan tiba-tiba saja ia menjadi kebingungan.


"Kenapa selimutnya panas begini?" Gumam Dalvin. Ia segera melihat wajah Soraya, dan betapa terkejutnya ia, wajah Soraya tampak pucat.


Dalvin segera duduk di samping Soraya. Ia menempelkan telapak tangannya di kening istrinya itu.


"Ya Tuhan, badanmu panas sekali…." Ucap Dalvin cemas. Ia segera berlari ke belakang untuk mengambil bahan kompres penurun panas.


"Maafkan aku, Sora… Ini salahku…." Ucap Dalvin berkali-kali. Ia merasa bersalah dan menyesal telah mengajak Soraya hujan-hujanan.


Soraya yang mendengar kecemasan Dalvin, segera bangkit dan malah tidur di pahanya.


"Aku pinjam sebentar, aku sangat merindukan kehangatan seorang keluarga… Mama dan papa…." Lirihnya.


Dalvin membelai rambut Soraya dengan lembut. Ia membiarkan gadis itu memeluk pahanya. Ia sangat iba, begitu kasihan sekali, bahkan mungkin lebih menyedihkan menjadi Soraya daripada dirinya sendiri.


"Aku akan membawamu ke dokter," kata Dalvin.


"Tidak perlu... Aku hanya demam biasa, nanti Pasti sembuh..." Tolak Soraya dengan suara yang lemah.


"Kalau begitu, kita sarapan... Setelah sarapan aku akan memberimu obat penurun panas..." Bujuk Dalvin.


Soraya mengangguk, lalu bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba ia sempoyongan, dan beruntung Dalvin cepat menahan tubuhnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2