MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
39. Aku Ingin Tahu Semuanya


__ADS_3

Dalvin memasangkan seat belt untuk Soraya, tatapannya untuk sementara singgah di wajah cantik itu. Ia tersenyum mengingat sebentar lagi Soraya akan dapat melihat lagi.


Dalam perjalanan pulang, Dalvin memutar lagu yang menjadi soundtrack di film tadi.


"Lagunya bagus..." Ucap Soraya begitu tenang ketika menghayati lirik demi liriknya.


"Nanti aku download di ponselmu. Jika kamu suntuk, kamu bisa mendengarkan lagu ini..." Ujar Dalvin sambil menggenggam jemari Soraya.


Soraya tersentak, lalu dengan gugup menganggukkan kepalanya.


Dalvin mulai melajukan mobilnya keluar dari basemen.


"Mau makan apa?" Tanya Dalvin sambil memerhatikan jalanan.


"Emmm... Jika kamu masih ada uang, aku mau makan-makanan seafood ala restoran... Sudah lama sekali tidak mencoba makanan itu..." Jawab Soraya terlihat canggung dan merasa sungkan.


"Maafkan aku... Selama ini aku memang tidak pernah membelikan kamu makanan itu, ya? Hemmhhh... Aku terlalu berhemat..." Dalvin tersenyum getir. Ia merasa bersalah setelah tahu apa yang diinginkan oleh istrinya itu.


"Eh? Emmm... Tidak masalah... Biasanya aku juga tidak pernah menginginkannya... Tapi aku tidak tahu kenapa, hari ini aku ingin sekali memakan seafood... Dan itu jika kamu tidak keberatan... Maaf..." Raut wajah Soraya berubah sendu. Ia terlihat malu-malu setelah mengutarakan keinginannya saat itu.


"Dibungkus atau kita makan di restoran saja?"


"Eh? Kamu sungguh mau membelinya untukku?" Tanya Soraya menjadi begitu senang.


"Iya, jawablah sebelum aku berubah pikiran..." Ucap Dalvin berpura-pura jengkel.


"Dibungkus saja... Aku ingin makan di rumah... Porsi dobel, ya..." Pinta Soraya sambil berusaha menyembunyikan perasaan senang di hatinya.


"Dobel?" Dalvin tercengang mendengar permintaan Soraya yang berambisi. Ia semakin dibuat bingung ketika melihat anggukan Soraya yang begitu cepat.


Dalvin celingukan mencari restoran di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba ia tersenyum ketika melihat sebuah restoran mewah di sisi kiri. Ia segera memarkirkan mobilnya di depan restoran itu.


"Hemmm... Baiklah, kamu tunggu di mobil sebentar, ya... Aku akan memesannya untukmu..." Perintah Dalvin seraya keluar dari mobilnya.


Soraya menurut. "Jangan lama, ya..."


"Iya... Selesai dipesan, aku akan menemanimu di dalam mobil." Jawab Dalvin sembari mengelus pucuk kepala Soraya.


Ini memang berbeda, namun Soraya merasa tersanjung karenanya. Ia merasa seperti Alana dalam film yang mereka tonton tadi. Diistimewakan oleh pasangan, meski tidak sempurna dari segi fisik maupun materi.


Tidak beberapa lama Dalvin kembali. Ia mengambil tangan Soraya dan diletakkannya ke atas pahanya sendiri. "Sebentar lagi pelayan restoran akan mengantarkan pesanan kita..."

__ADS_1


"Terimakasih, Vin..." Ucap Soraya sambil tersenyum.


"Lain kali kalau kamu menginginkan sesuatu, kamu harus mengatakan langsung kepadaku... Aku bukan Tuhan yang bisa tahu isi hatimu..." Ucap Dalvin.


"Iya... Lagi pula selama ini aku memang tidak menginginkan apa-apa... Kali ini saja aku merasa ingin..." Jawab Soraya merasa bersalah.


Beberapa saat kemudian, pesanan Dalvin diantar oleh pelayan restoran. Ia tidak lupa memberi tips dan senyuman terimakasih kepada pelayan itu.


"Kita pulang... Sepertinya kamu sudah begitu ingin memakannya..."


Soraya mengangguk antusias. "Ayo... Aku lapar..."


****


Dalvin melongo melihat Soraya yang begitu rakus memakan Seafood. Ia tidak menyangka bahwa istrinya itu menyukai makanan ala restoran yang biasa disajikan untuk orang-orang elit.


"Makannya pelan-pelan, Sora..." Tegur Dalvin.


"Hemmhh..." Soraya menyeringai. "Enak... Kamu tidak mencobanya?"


"Aku kenyang melihat cara kamu makan... Memang sewaktu di desa, kamu suka makan seafood? Di desamu ada restoran juga?" Tanya Dalvin bingung.


"Uhuk... uhuk..." Tiba-tiba Soraya tersedak.


Soraya meneguk habis air putih di tangannya. Ia terdiam sejenak. "Di desaku banyak seafood... Tapi aku baru tahu kerang, cumi-cumi, udang dan makanan laut lainnya disebut seafood begini... Aku pernah mencoba makanan ini dulu waktu aku baru-baru saja sampai di kota, dan kali ini aku jadi ingin memakannya lagi... Hmmm, terlihat kampungan, ya?"


"Maaf... Aku pasti membuatmu merasa tersinggung... Jadi, di desamu ada laut?" Tanya Dalvin merasa bersalah.


Soraya mengangguk pelan. "Ada gunung juga..."


"Setelah kamu bisa melihat lagi, kita akan mengunjungi desa asalmu... Pasti kamu sangat merindukan kehangatan keluargamu, kan? Dan juga, kenalkan aku kepada mereka..." Ujar Dalvin panjang lebar.


Soraya terhenyak. Ia menghentikan makannya untuk sesaat. "Aku pasti akan mengenalkan kamu kepada keluargaku..."


Mendadak suasana menjadi hening. Dari sikapnya, Soraya tampak terlihat canggung.


"Kenapa tidak dilanjutkan makannya? Tinggal sedikit lagi..." Dalvin mengumpulkan seafood di piring Soraya menggunakan sendok makan yang dipegangnya.


"Rasanya aku sudah kenyang... Kamu mau bantu menghabiskan?" Tanya Soraya sambil menggeser piring berisi sisa seafood miliknya kearah Dalvin yang berada di sisi kanannya.


"Sisa sedikit lagi padahal..." Dengus Dalvin seraya menarik piring yang belum tepat di hadapannya, lalu menyantap beberapa kerang yang masih tersisa di dalam piring itu.

__ADS_1


"Aku mau istirahat... Aku yang jarang keluar, sesekali keluar malah membuatku cepat lelah..." Ucap Soraya sembari berdiri dengan hati-hati lalu berjalan menuju kamarnya.


Dalvin hanya menatapnya keheranan. "Ada apa dengannya?"


Usai makan, Dalvin langsung membereskan meja makan yang berantakan dipenuhi kulit udang dan setumpuk cangkang kerang bekas makan Soraya tadi.


"Rasanya dia sempat berubah jadi aneh... Apa dia sakit?" Gumam Dalvin cemas. Ia secepat mungkin membereskan pekerjaannya dan kemudian menyusul Soraya ke kamar.


"Sora, ada apa?" Tanya Dalvin ketika melihat istrinya itu bersandar sedih di kepala tempat tidur.


Soraya tersentak. Ia terlihat gugup saat langkah Dalvin terdengar mendekat kearahnya.


"Me-memangnya ada apa?" Soraya balik bertanya.


"Kamu terlihat sedih... Apa kerinduan hatimu sudah tidak terbendung lagi untuk keluargamu?" Tanya Dalvin merasa iba.


"Eh?"


"Bersabarlah sebentar... Dokter Sony pasti akan segera menghubungiku setelah ia mendapatkan pendonor untukmu..." Ucap Dalvin berusaha menenangkan Soraya.


"Ummm..." Soraya mengangguk. "Tapi..."


"Tapi apa?"


"Emmm... Apa, pernikahan kita ini sungguhan?" Soraya dilema. Ternyata keraguan tengah menguasai dirinya.


"Kenapa bertanya? Kamu pikir ada pernikahan pura-pura yang diselenggarakan oleh negara?" Dalvin menggenggam tangan Soraya sambil menatap manik indah yang kosong di hadapannya itu.


"Kamu belum banyak tahu tentang aku... Rio-" Soraya menghentikan ucapannya.


"Kamu belum bisa melupakan Rio?" Dalvin ikut terbawa perasaan. Juga rasa bersalah terhadap almarhum sahabatnya itu kembali menghantui dirinya.


"Aku sangat bersalah... Aku bahkan mengkhianati sahabatku sendiri rasanya, setiap kali aku menatapmu, Sora..." Kesah Dalvin.


"Tidak, Vin... Kamu tidak salah, dan tidak seharusnya merasa bersalah... Disini, ketidakjujuran diriku yang membuat aku merasa sulit sendiri... Aku takut kamu marah jika aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu..." Tutur Soraya.


"Ada lagi yang tidak aku ketahui setelah kemarin aku dikejutkan oleh penjelasan Dokter Sony tentang kamu? Beritahu aku sekarang, Sora... Aku ingin tahu semuanya... Aku tidak ingin menyesal karena keterlambatan ku..." Desak Dalvin sambil bergeser ke hadapan Soraya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2