
Malam ini pertama kalinya Soraya berada di ruangan yang sama dengan Dalvin. Ia begitu canggung meski matanya tidak dapat menemukan keberadaan lelaki itu.
Setelah memintanya beristirahat di atas tempat tidur, Dalvin malah berbaring di ranjang kecil seberang tempat tidurnya.
Biasanya ia akan menggunakan ranjang itu untuk bersantai menikmati pemandangan luar. Namun mulai dari hari ini ia akan menggunakannya untuk tidur di malam hari.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Dalvin ketika mendapati Soraya masih bersandar di kepala tempat tidur.
"Ka-kamu dimana? Kenapa tidak tidur juga?" Soraya malah balik bertanya. Ia gugup mengetahui bahwa Dalvin ternyata masih berada di sekitarnya.
"Aku bahkan telah beberapa kali bermimpi, bagaimana bisa kamu mengatakan aku tidak tidur?" Ketus Dalvin.
"Tidur dimana?" Tanya Soraya tampak kebingungan.
"Di tempat tidur kecil seberang mu... Kenapa memangnya? Jangan berharap aku akan tidur bersamamu..." Sarkas Dalvin.
"Jelas aku tidak berharap..." Kilah Soraya. "Aku hanya penasaran dengan keberadaan kamu saja, nanti jangan-jangan kamu malah berpikir untuk menggangguku..."
"Hey... Siapa juga yang akan mengganggumu hah? Ingat, kita menikah karena terpaksa, meski aku sendiri yang memintamu..." Gerutu Dalvin begitu kesal dengan tuduhan Soraya terhadap dirinya.
"Ya, mana tahu saja, kan? Kalau begitu kembalilah kamu ke alam mimpimu. Jangan mengintip..." Sarkas Soraya sambil menarik selimut di kakinya, lalu buru-buru menghempaskan tubuhnya ke kasur membelakangi Dalvin.
Dalvin tak menyahut lagi. Ia menatap punggung Soraya dengan sendu.
Bagaimana mungkin aku bisa menjalani pernikahan ini? Sementara bayangan Rio selalu hadir seolah mengutukku... Dan aku pun juga belum bisa melupakan Amira seutuhnya...
Dalvin merebahkan tubuhnya kembali, namun ia tidak dapat tertidur seperti sebelumnya. Dengkuran halus dari Soraya mulai terdengar, membuat ia menoleh kepada gadis itu.
"Secepat itu kah?"
Dalvin kembali bangkit, lalu berjalan menghampiri Soraya. Ia memandangi wajah gadis itu dengan seksama dari tepi tempat tidur.
Seperti gadis-gadis pada umumnya. Ia terlihat lugu dan polos, namun membuatku tak bisa meninggalkannya. Soraya, kamu telah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Maaf dengan membawamu masuk ke dalam kehidupanku, berarti aku telah dengan sengaja menambah beban untukmu...
Dalvin membenarkan selimut Soraya, kemudian ia mengelus pelan kepala gadis itu. Ia sendiri tiba-tiba terkejut. Ia bingung, mengapa ia melakukan hal itu.
Cepat-cepat Dalvin kembali ke ranjang kecilnya. Ia bergegas tidur dan berusaha melupakan kejadian hari ini.
__ADS_1
****
Pagi-pagi sekali Dalvin telah rapi dengan stelan jas kantor, sementara Soraya hanya duduk di sofa kamar itu sambil mendengarkan suasana di sekelilingnya.
"Hari ini aku akan keluar mencari pekerjaan... Tetaplah disini, kamu tidak perlu kemana-mana... Untuk makan siang-mu, aku akan meminta bi Yuna mengantarnya kesini... Aku akan kembali lebih awal, jika aku tidak mendapatkan pekerjaan hari ini..." Jelas Dalvin sambil terus berkemas.
"Aku do'akan semoga kamu dapat pekerjaan..." Jawab Soraya. Dari raut wajahnya, ia tampak cemas. Ia tidak terbiasa dengan suasana di rumah Dalvin.
"Terimakasih, Sora..." Ucap Dalvin menyahuti.
Tok tok tok
"Sepertinya bi Yuna yang datang..."
Dalvin berjalan ke pintu. Seperti yang ia duga, seorang pekerja rumah datang mengantarkan dua porsi sarapan ke kamarnya.
"Ini sarapannya, Tuan..." Ucap bi Yuna sembari menyodorkan nampan makanan kepada Dalvin.
Setelah Dalvin menerimanya, perempuan paruh baya itu masih celingukan melihat ke dalam.
"Memang bolehkah, Tuan?" Bi Yuna bertanya sambil malu-malu.
"Boleh, Bi... Sekalian Dalvin mau minta tolong..." Jawab Dalvin sembari tersenyum.
"Ayo, Bi..." Dalvin kembali masuk ke dalam kamarnya dan diikuti oleh bi Yuna dari belakang.
"Sora, ada bi Yuna disini..." Seru Dalvin.
Soraya menoleh kearah suara Dalvin.
"Halo, Nona Soraya..." Sapa bi Yuna.
"Halo juga, Bi..." Sahut Soraya sambil tersenyum senang.
"Begini, Bi, nanti siang Bi Yuna bisa antar makanan untuk Sora kemari, kan, Bi?" Tanya Dalvin.
"Bisa, Tuan... Dengan senang hati Bibi akan melakukannya..." Jawab bi Yuna terlihat begitu tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot, Bi... Biar Sora..."
"Tidak usah membantah, Sora..." Potong Dalvin cepat.
"Iya, Non Sora... Biar Bibi saja yang mengantar..." Timpal bi Yuna seolah mengerti arti kemarahan Dalvin kepada Soraya.
"Kalau begitu Bibi kembali ke dapur, Tuan..." Pamit bi Yuna.
"Iya, Bi... Terimakasih atas bantuan Bibi..." Ucap Dalvin.
Setelah mengantar bi Yuna keluar dari kamarnya, Dalvin kembali menghampiri Soraya.
"Ayo kita sarapan..." Ajak Dalvin.
"Kenapa sarapan disini? Kamu malu mengajakku sarapan bersama keluargamu?" Tanya Soraya merendah diri.
Dalvin menatap Soraya untuk sejenak. Ia menghela napas kasar, lalu kembali bersikap tak peduli.
"Aku malas bergabung dengan mereka..." Ucap Dalvin.
"Ke..."
"Dan jangan tanya kenapa, karena aku sudah mengatakannya kepadamu semalam, kan?" Potong Dalvin cepat.
Soraya mengangguk. "Maaf..."
"Sekarang makanlah!" Perintah Dalvin seraya menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Soraya.
Mereka makan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
.
.
.
.
__ADS_1