MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
21. Apa Aku Jatuh Cinta?


__ADS_3

Dalvin resah. Ia sangat yakin bahwa Duta sedang mengamati mereka tadi. Ia menjadi cemas kepada Soraya. Ia takut jika Duta akan merencanakan sesuatu kepadanya lewat Soraya.


"Ini terakhir kali kamu ke balkon..." Ucap Dalvin.


Soraya terperangah. Ia menolehkan wajahnya kearah suara Dalvin.


"Kenapa?" Tanya Soraya tampak kebingungan.


"Tidak perlu tanya kenapa, yang jelas patuhi saja..." Ketus Dalvin.


"Sekarang makanlah burgermu, ini sudah sangat dingin..." Perintah Dalvin seraya menyodorkan burger yang ia beli tadi ke hadapan Soraya.


Soraya menurut, hanya saja wajahnya tiba-tiba berubah sedih. Baru saja ia merasa bahagia atas perlakuan Dalvin, namun lagi-lagi lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat tanpa ia tahu penyebabnya.


Dalvin yang melihat perubahan di wajah Soraya, langsung menggenggam tangannya, membuat gadis itu tersentak.


"Apa pun yang aku lakukan, itu demi kebaikanmu... Percayalah..." Ucap Dalvin.


Soraya mengangguk walau ia tidak tahu kebaikan apa yang dimaksud Dalvin. Melihat kepolosan Soraya, hati Dalvin merasa sedikit tenang. Ia mengelus rambut Soraya dengan lembut, membuat gadis itu kembali nyaman.


Mereka mulai memakan burger itu bersama. Posisi Dalvin yang begitu dekat, terus memerhatikan wajah Soraya.


Kamu begitu cantik, Sora... Sangat cantik... Aku takut jika Duta berbuat yang tidak-tidak kepadamu, jika ia percaya bahwa kamulah perempuan yang membuat aku menolak perjodohan itu...


Di sisi lain, Duta menggerutu. Ia cemburu, dan itu selalu karena ia tidak senang jika melihat Dalvin bahagia. Ia sangat kesal melihat tatapan Dalvin kepada Soraya terang-terangan tatapan cinta, dan itu penilaian matanya.


Duta melepas paksa cincin pertunangannya dengan Amira, lalu membantingnya ke lantai.


"Aaaaahhh..." Erangnya kesal.


"Gila... Gila... Gila... Kenapa kali ini aku bisa terkecoh? Aku bahkan tidak pernah melihatnya berjalan dengan gadis buta itu sebelumnya." Umpat Duta sambil meremas kedua tangannya sendiri.


Ponsel Duta tiba-tiba berdering. Ia menoleh sesaat, lalu mematikan nada ponselnya itu. Namun ponselnya terus saja mengganggu. Ia mulai melihat layar, dan tiba-tiba ia mengoceh.


"Ambar..." Ucapnya jengkel. Ia mematikan ponselnya dan kemudian menghempaskannya ke atas tempat tidurnya.


****

__ADS_1


Dalvin merasa tidak nyaman sedari tadi. Ponselnya selalu berdering, dan itu atas panggilan dari Amira. Ia tidak menyangka bahwa ia sama sekali tidak tertarik untuk mengangkatnya.


Dulu saja, ia yang berusaha cari-cari alasan agar bisa berkomunikasi dengan gadis itu.


"Angkatlah teleponmu... Itu sangat berisik..." Omel Soraya.


"Suka-suka aku, ini kamarku..." Balas Dalvin mengomeli Soraya.


"Tapi aku mau tidur, setidaknya matikan nada ponselmu itu..." Rutuk Soraya lagi.


Dalvin menggerutu tak jelas, tapi ia mengalah dengan mematikan nada ponselnya. "Sudah ku matikan, sekarang tidurlah..."


Soraya berdumel lalu menghempaskan tubuhnya dengan kesal. Melihat itu, Dalvin ikut berbaring di ranjang kecilnya. Ia mengabaikan panggilan dari Amira yang entah sudah berapa kali.


Pagi-pagi sekali Dalvin terbangun. Ia terpana seketika. Matanya yang terbuka langsung mengarah pada wajah istrinya yang juga mengarah kepadanya.


Lama ia baru berkedip. Dalvin tersenyum. Ia melihat istrinya masih tertidur pulas di sana.


"Kenapa dia selalu cantik begitu?" Gumam Dalvin sambil terus mengamati wajah Soraya.


Dia bergerak ke kamar mandi meski hatinya belum puas memandangi wajah Soraya.


"Apa aku jatuh cinta?" Tanyanya sambil menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin.


Lama ia berpikir, lalu ia menggeleng dan menolak anggapan tentang perasaannya sendiri.


"Setidaknya ia membuatku terus berjuang untuk mencari pekerjaan. Aku tahu sekarang bagaimana tanggung jawabku sebagai seorang suami..." Kilahnya seolah tak mempercayai perasaannya terhadap Soraya.


Usai mandi, ia melihat Soraya sudah berada di depan cermin.


"Kamu ngapain di sana?" Tanya Dalvin spontan. Ia sangat keheranan melihat Soraya seakan perempuan normal yang bisa melihat.


"Bercermin..." Jawab Soraya.


"Bercermin? Kamu sedang tidak bercanda, kan, Sora?" Tanya Dalvin seakan tidak puas.


Soraya berbalik menghadap kearahnya, lalu berjalan menghampiri dirinya yang masih terbengong.

__ADS_1


"Aaaawww..." Tiba-tiba Soraya terjatuh.


Dalvin segera berlari menuju ke arah Soraya yang tersungkur. "Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Sakiiit..." Rintih Soraya sambil mengusap-usap lututnya.


"Andai aku bisa melihat seperti dulu..."


"Mungkin kamu tidak akan menikah denganku..." Sambung Dalvin cepat Sambil membantu Soraya bangkit.


Soraya tak menyahut. Ia hanya terlihat sendu.


"Jangan salahkan takdirmu yang buta..." Ucap Dalvin menasehati. "Tapi, tadi kamu bercermin untuk apa?"


"Cuma menghayal saja... Dulu aku cantik, apa sekarang masih? Aku pikir tanpa melihat, cermin bisa menyampaikan langsung kepadaku..." Jawab Soraya asal.


Tuk


"Awww, sakit..." Teriak Soraya sambil mengusap-usap kepalanya. Dalvin mengetuk kepala Soraya dengan jari telunjuk karena merasa ucapan Soraya begitu konyol baginya.


"Mandilah, aku harus berangkat sekarang... Ada interview pagi ini, do'akan semoga aku diterima kerja hari ini..." Ucap Dalvin.


"Oke..." Soraya berjalan perlahan-lahan menuju kamar mandi sambil menyembunyikan senyumnya.


Sesampai di kamar mandi, Soraya bersandar di pintu. Ia meletakkan kedua telapak tangannya ke hidungnya, lalu menghirupnya dalam-dalam.


"Dia wangi sekali... Oh Tuhan, aku jadi betah bersamanya..." Gumam Soraya terlihat begitu bahagia.


Sementara di luar, Dalvin tersenyum mengingat tingkah Soraya tadi. "Kamu masih cantik, Sora..." Ucapnya seolah menjawab pertanyaan Soraya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2