MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
42. Pesan Dari Rio


__ADS_3

Hampir sebulan berlalu, dan rasa sabar di hati Soraya juga telah habis. Soraya begitu kesal. Ia mengamuk dengan menghempaskan semua benda yang ada dalam jangkauannya. Amarah tengah menguasai dirinya saat itu.


"Kamu mempermainkan aku, ya? Kamu pikir aku tidak bisa bayar? Berapapun pasti ku bayar..." Teriak Soraya membabi buta kepada Rio yang menatapnya dengan iba dari sudut kamar.


"Siapa kamu sebenarnya? Apa rencana yang kamu pikirkan terhadapku? Kenapa sampai detik ini belum juga ada kepastian?" Desak Soraya semakin meradang.


Lama kelamaan ia mulai lelah. Ia bersandar di sudut lemari, lalu menjatuhkan diri disana. Ia memangku kedua lututnya dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku bosan... Aku bosan terkurung disini, terkurung dalam gelap duniaku..." Umpat Soraya dengan suara yang terdengar lunak di sela-sela isak tangisnya.


Melihat Soraya sudah mulai sedikit tenang, Rio mulai mendekat lalu berjongkok di hadapan Soraya. "Bersabarlah sedikit lagi, Soraya... Cangkok kornea mata itu ada prosedurnya. Harus mencari Kornea yang bersih dan sehat..." Bujuk Rio dengan hati-hati.


"Bohong..." Ketus Soraya seolah tak terima penjelasan apa pun dari Rio.


"Di rumah sakit ada seorang pasien yang menderita kanker stadium lanjut... Prediksi dokter, umurnya sudah tidak akan lama lagi, dan kornea matanya juga sangat bagus. Dia pun juga bersedia mendonorkan kornea matanya setelah ia meninggal nanti..." Tutur Rio berusaha membuat Soraya mengerti.


Soraya terdiam. Tiba-tiba wajahnya terlihat kebingungan. "Meninggal? Mata orang yang meninggal?"


"Iya... Tidak mungkin orang yang masih hidup dapat mendonorkan matanya... Lagipula dokter tidak akan menyetujui itu..." Jelas Rio.


"Hah?" Soraya tercengang mendengar penuturan Rio. "Jahat sekali aku... Berarti aku sangat jahat, ya?" Umpat Soraya terhadap dirinya sendiri dengan begitu tiba-tiba.


"Jahat bagaimana? Kamu tidak melakukan apa-apa..." Bantah Rio.


"Setiap kali aku berpikir tidak sabaran untuk dapat melihat lagi, berarti setiap kali itu pula aku mengharapkan kematian seseorang..." Ucap Soraya terlihat merasa bersalah.


Rio memegang bahu Soraya. "Itu sudah kodratnya, Soraya..."


"Tidak..." Soraya menggeleng cepat. "Selamatkan saja pasien itu... Jangan harapkan matanya untukku. Mulai hari ini, aku akan belajar untuk bisa lebih menghargai kekurangan dalam diriku sendiri..." Lirih Soraya.


"Sudah tidak mungkin untuk mengharapkan kesembuhannya, Soraya... Aku menyerah..." Bantah Rio berputus asa.


Soraya meraba bahu Rio lalu perlahan sampai ke pipinya.


PLAAKK


Satu tamparan mendarat keras di pipi Rio hingga ia sendiri terkejut karenanya.


Rio hanya terdiam menerima tamparan itu. Ia tidak lagi berani menatap wajah Soraya yang berang.


"Kamu dokter, kan?" Hardik Soraya sambil meraba dada Rio hingga berakhir di dagunya. Ia mencengkram dagu Rio dengan marah.

__ADS_1


"Apa pantas kamu disebut sebagai seorang dokter, hah?" Teriaknya lagi. Gigi Soraya bergemelatuk menahan diri dari amarah yang membuncah jiwanya.


"Sembuhkan dia... Jangan pikirkan aku, dan jangan pernah menyerah sampai akhir..." Perintah Soraya masih dikuasai amarah.


Rio memegang tangan Soraya yang saat itu tengah mencengkram lengannya, lalu perlahan melepaskan diri dari cengkeraman Soraya.


"Jika aku pulang terlambat malam ini, datanglah ke rumah sakit... Aku mau cek up... Besok kamu akan dapat melihat lagi, Soraya... Aku akan menghubungi teman dekatku untuk membantumu..." Ucap Rio berpesan. Ia bangkit dari hadapan Soraya lalu pergi keluar dari kamarnya.


Soraya menggeleng. "Rio..."


Panggilan pertama Soraya terhadap Rio membuat langkah kakinya berhenti. Ia menoleh sesaat ke sisi kanannya, namun kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Rio menutup pintu kamar. Ia kemudian bersandar di dinding samping pintu kamar itu, lalu perlahan menjatuhkan dirinya. Tiba-tiba ia menangis sendiri dan terisak-isak disana.


Rio kembali bangkit dan keluar dari rumahnya dengan sempoyongan. Ia merasa dunia berputar saat itu. Dengan gontai, ia terus berusaha melangkah ke jalan untuk mencari taksi.


****


Soraya tertidur di samping lemari sejak kejadian tadi. Ia teringat pesan Rio sebelum pergi. Ia berusaha meraba apapun untuk mencari keberadaan jam tangannya.


Cukup lama mencari, akhirnya ia menemukan jam itu di bawah tempat tidur. Jam tangannya ikut terpelanting ketika ia marah sore tadi.


Ia meraba pelan jarum jam yang tidak dilapisi kaca agar ia tahu jarum jam itu berada di angka berapa.


"Rio..." Panggil Soraya sambil berjalan perlahan kearah yang ia sendiri tidak tahu. Ketika tangannya mencapai dinding, ia mempercepat langkahnya mencari keberadaan pintu.


Soraya tampak panik. Ia menemukan pintu kamar setelah berkali-kali tersandung benda yang ia sendiri melemparnya tadi. Beberapa kali memanggil, tidak ada sahutan sama sekali dari Rio.


"Apa aku harus ke rumah sakit?" Gumam Soraya ragu-ragu.


Soraya masih bertahan menunggu, namun sudah entah berapa lama ia menunggu, tanda-tanda kedatangan Rio tak kunjung ada.


Ia perlahan berjalan sambil memapah ke dinding, mencari keberadaan pintu luar rumah.


Hawa dingin mencekam. Ia terus berjalan menyusuri jalanan. Pendengarannya yang tajam menangkap suara mesin mobil menderu dari arah belakangnya. Ia berharap mendapatkan tumpangan menuju ke rumah sakit Mitra Cahaya, namun malah klakson panjang yang memekakkan telinga yang ia dapatkan.


Seiring itu dentuman keras ikut menyusul. Tubuhnya menggigil ketakutan ketika mendengar jerit seseorang meminta pertolongan. Tanpa pikir panjang Soraya bergegas ke arah suara itu.


"Astaga... Apa yang telah aku lakukan?" Ucap Soraya berusaha mengulurkan tangannya ke dalam mobil. "Berikan tanganmu..."


Beruntung orang-orang yang tinggal disekitar sana cepat berdatangan dan mengantarkan Soraya bersama korban kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Soraya cemas.


"Dia mengalami benturan yang sangat keras... Kami akan menunggu keluarga pasien untuk tindak lanjutnya..." Tutur Dokter itu menjelaskan.


"Ini rumah sakit apa, Dok?"


"Rumah sakit Alaska, Nona..."


Soraya semakin dihantui perasaan bersalah. Sampai korban kecelakaan itu sadar, Soraya diam-diam tetap memantau perkembangannya.


"Hantarkan saya ke rumah sakit Mitra Cahaya, Pak..." Pinta Soraya pada sopir taksi yang ia tumpangi.


"Baik, Nona..."


Sesampai di rumah sakit Mitra Cahaya, Soraya mencari-cari keberadaan Rio. Ia menanyakan kepada seluruh jajaran rumah sakit tentang Dokter disana yang bernama Rio.


"Maaf, Nona, disini tidak ada dokter yang bernama Rio..." Jawab salah seorang dokter di rumah sakit.


"Tidak mungkin sejauh ini dia menipuku..."


"Tunggu, Nona... Apa Nona sedang mencari Rio Anggara?" Salah seorang dokter lainnya datang menghampiri.


"Rio Anggara?" Soraya terlihat bingung. "Aku juga tidak tahu namanya Rio Anggara..."


"Nona Soraya, bukan?"


"Benar... Saya Soraya..." Jawab Soraya cepat.


"Berarti memang Rio Anggara yang Nona cari..." Ujar Dokter itu.


"Tapi, bukankah tidak ada dokter yang bernama Rio?"


"Dia memang bukan dokter, melainkan pasien kanker di rumah sakit ini..."


Soraya terhuyung. Ia benar-benar terkejut mendengar penuturan sang dokter.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2