MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
33. Semoga Tercapai Semua Keinginanmu


__ADS_3

Soraya sudah mulai tenang. Ia terlelap setelah dipeluk Dalvin sambil dielus lembut kepalanya di atas tempat tidur. Dalvin merapikan kembali ruang tengah yang berantakan, lalu tersandar di sofa dalam keadaan lelah.


Ia cukup dewasa semenjak mengemban amanah Rio untuk menjaga Soraya, gadis buta sebatang kara yang ia sendiri tidak tahu pasti identitasnya.


"Ada apa Duta datang kesini?" Gumam Dalvin bertanya-tanya.


Rasa lelah hilang seketika. Ia bangkit dan mengecek keadaan Soraya di kamar. Ia sedikit lega melihat gadis itu tidur pulas sambil memeluk guling.


Ia segera mengambil kunci mobil lalu keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Soraya.


Amarah berulang menguasai dirinya. Sudah hampir tengah malam, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung rasa takut mengemudi pasca kecelakaan lalu hanya sebentar menyerang mentalnya.


Beberapa saat kemudian ia telah sampai ke depan rumah orang tuanya. Ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa lalu berlari ke pintu rumah.


"Dutaaaaa..." Panggil Dalvin sambil menggedor-gedor pintu itu.


"Duta, keluaaaar..." Teriak Dalvin membabi buta.


Beberapa kali memanggil, pintu berderik dibuka seseorang dari dalam.


"Ada apa kamu malam-malam begini teriak-teriak, Vin?" Dengus Dean begitu kesal.


Dalvin tidak menghiraukan kemarahan papanya, ia segera masuk dan mencari keberadaan Duta.


Sandra juga terlihat disana. Ia melirik Dalvin dengan kebencian dari pintu kamarnya.


"Kenapa malam-malam mencari putraku? Mau menghajarnya lagi?" Ketus Sandra.


Dalvin tidak menggubris perkataan ibu tirinya, ia terus berjalan ke kamar Duta.


Sementara itu di depan pintu kamarnya, Duta telah menantikan Dalvin yang siap menyerang.


"Tidak perlu teriak-teriak, aku tidak tuli..." Ucap Duta sambil tersenyum sinis.


"Apa tujuanmu mendatangi Soraya hah?" Tanya Dalvin tanpa basa-basi.


"Owh... Tadinya aku mau menemui kamu juga... Walau bagaimanapun kamu adalah adikku, Vin..." Tutur Duta dengan santainya.

__ADS_1


"Cwwiiiih... Aku tahu maksudmu, Duta... Setelah mencampakkan Amira karena tahu aku tidaklah menyukainya, lalu sekarang kamu malah mengganggu istriku... Begitu, kan?" Ketus Dalvin.


"Apa maksudmu? Walau bagaimanapun niat Duta, dia tidak mungkin mengincar istrimu yang buta itu... Aku bahkan tidak Sudi..." Bela Sandra terhadap putra kandungnya.


"Tidak perlu ikut campur, Nyonya... Pernahkah Anda mendengar pepatah, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya? Seperti halnya diri Anda, putra Anda juga begitu... Sama-sama perebut kebahagiaan orang lain... Pengganggu, dan bahkan perusak rumah tangga orang lain-."


"Dalviiiiin..." Teriak Dean mulai murka. "Apa yang ada dalam benakmu? Kenapa kamu selalu saja bertentangan dengan saudaramu, hah?"


"Saudara?" Dalvin tersenyum sinis, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya saudara, yang tidak bermoral sepertinya..."


Tangan Duta mengepal. Bukannya sadar, tetapi malah kebenciannya semakin besar terhadap Dalvin.


"Dan untuk Nyonya, tolong ajari anak Anda agar tidak lagi menjadi pengganggu kehidupan orang lain..." Ketus Dalvin seraya berbalik meninggalkan ibu dan anak itu yang masih diliputi rasa kesal bercampur dendam.


Sementara Dean hanya terdiam melihat kepergian Dalvin. Sorot matanya berubah sangar menatap Duta yang bermuka masam.


****


Dalvin telah sampai kembali ke rumah kecilnya yang ia huni bersama Soraya. Hatinya masih panas sepulang dari rumahnya tadi. Ia masuk ke kamar untuk memastikan keadaan Soraya. Ternyata isterinya itu masih terlelap dalam tidurnya.


Dalvin tersenyum. Ia semakin mendekat ke tempat tidur untuk melihat wajah Soraya, lalu mengelus lembut kepalanya.


Dalvin membaringkan tubuhnya di samping Soraya. Ia terus mengamati wajah teduh yang tengah pulas dalam damainya. Karena lelah, Dalvin sampai tertidur disana.


Paginya Dalvin tersentak, dan betapa terkejutnya ia ketika bangun malah mendapati wajah Soraya berjarak satu inchi dengan wajahnya. Gadis itu masih tidur, dan sepertinya tidak pula menyadari keberadaannya disana.


Dalvin cepat-cepat bangkit. Ia tidak ingin lengah, karena ia sadar bahwa tubuhnya tidak akan normal jika terus memandangi wajah Soraya dengan begitu dekat, apalagi cuaca dingin dan masih sangat pagi.


Karena semalam ia tidak sempat mandi, bahkan hanya untuk sekedar ganti baju pun juga tidak, maka pagi itu ia langsung bersemedi sambil mengurangi hawa panas yang sempat menggerayanginya.


"Kenapa dia sepertinya sangat nyaman dan merasa aman jika bersamaku? Mungkinkah dia sudah jatuh cinta padaku?" Dalvin bertanya sendiri sambil memikirkan sikap Soraya padanya.


"Ckkk... Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta padaku, sementara dia tidak dapat melihat wajahku... Bukankah kata orang cinta itu datang dari mata, barulah nanti turun ke hati..." Ucap Dalvin seolah meralat kembali dugaannya tadi.


"Mungkin karena dia hanya memiliki aku, makanya dia bersikap manja seperti itu kepadaku... Dia seolah-olah mengerti kelemahan diriku, bahwa aku sangat memegang janji... Heeehhh... Ckkk... Aku bahkan sangat suka direpotkan olehnya akhir-akhir ini..."


Sepanjang di dalam kamar mandi, Dalvin tak henti-hentinya memikirkan Soraya, dan juga menduga-duga perasaannya terhadap istrinya itu.

__ADS_1


Sudah hampir sejam ia di dalam barulah ia keluar.


"Astaga..." Dalvin terperanjat.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Soraya yang telah berdiri di hadapannya.


"Dari kapan disini?" Tanya Dalvin mengacuhkan rengut di wajah Soraya.


"Aku sudah memanggilmu beberapa kali, dan ketika aku hendak masuk ke kamar mandi, rupanya terkunci... Aku kebelet..." Sungut Soraya.


"Maaf... Badanku rasanya lengket sekali. Semalam aku tidak sempat mandi, makanya aku sedikit lama..." Tutur Dalvin beralasan.


"Hemmm... Sekarang minggirlah... Aku ingin masuk..." Ketus Soraya.


"Kamu bisa masuk, Sora... Aku sudah di pinggir..." Jawab Dalvin seraya menarik tangan Soraya ke dalam kamar mandi.


Sebelum berangkat ke kantor, Dalvin berkeliling rumah untuk memastikan semua aman. Ia tidak ingin jika nanti Duta datang lagi, dan kakak tirinya itu dapat masuk dengan mudahnya ke dalam rumah.


"Sudah jam berapa? Kenapa belum ke kantor?" Tanya Soraya yang mendengar kasak-kusuk di jendela samping.


"Aku hanya memastikan semua aman... Kamu jangan takut lagi jika ada yang datang, oke?" Tegas Dalvin.


"Iya... Terimakasih..." Jawab Soraya.


"Dan yang paling penting, jangan lupa hubungi aku jika ada sesuatu yang mencurigakan..." Tekan Dalvin lagi.


"Iya, iya... Pergilah, nanti keburu terlambat..." Usir Soraya.


"Iya, aku pergi..." Pamit Dalvin mulai menarik pintu rumah.


Pintu berderik dan dikunci dari luar, diiringi suara mesin mobil yang terdengar halus. Di saat itulah Soraya tahu bahwa Dalvin benar-benar sudah berangkat.


"Semoga tercapai semua keinginanmu, Dalvin..." Ucap Soraya berharap untuk Dalvin, dan harapan itu diam-diam selalu ia ucapkan setiap Dalvin keluar dari rumah untuk bekerja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2