
"Mamaaa..." Danesh berlari mengejar posisi Soraya yang masih menapaki pintu masuk rumah. Seperti biasa, ia akan menunggu kedatangan mamanya sebelum tidur.
"Hey, Sayang..." Soraya yang tadinya lesu, setelah bertemu putranya langsung kembali ceria. Ia mengangkat Danesh ke dalam gendongannya. "Kenapa belum tidur, hmm?"
"Danesh tundu Mama..." Jawabnya sambil memainkan pipi Soraya dengan jemarinya yang lentik.
"Emmm... Kangen sama Mama, Ya?"
"Ummm..." Angguk Danesh cepat. "Tadi, Danesh temu om danteng..."
"Om Ganteng? Om ganteng siapa?"
"Anaknya mendiang sahabat Mama, Sora..." Tiba-tiba Raya datang menyahuti pembicaraan dua beranak itu.
"Owh..." Soraya membulatkan bibirnya menanggapi ucapan mamanya.
"Barusan Mama menghubungi papanya, Sora... Besok Mama dan Papa akan berkunjung ke rumahnya, kamu ikut, ya?"
"Besok. Emmm, Sora ada meeting sama klien, Ma... Gimana kalau Mama sama Papa duluan saja ke sana, usai meeting, Sora akan susul..." Jawab Soraya.
"Baiklah... Tapi, Mama bawa Danesh, ya?" Sahut Raya bersyarat.
****
Sandra terlihat sibuk membongkar-bongkar laci lemari kamarnya, mengeluarkan segala yang menumpuk dan kemudian melihat seberapa penting barang-barang itu. Tiba-tiba perhatiannya terfokus pada album tebal yang baru saja ia keluarkan.
Ia membuka lembar demi lembar album itu, garis senyum terlukis di wajahnya. Ia menaruh album itu di sampingnya, lalu kembali mengemaskan sisanya. Setelah itu ia membawa album itu ke ruang tamu dan membukanya disana sambil bersantai.
Sementara itu, Raya bergegas masuk ke dalam rumah kediaman Fernando meninggalkan suami dan cucunya yang berjalan beriringan bersama Dean. Setelah mendengar kabar dari Dean bahwa Dalvin semalam pingsan, ia terlihat begitu mengkhawatirkan putra dari mendiang sahabatnya itu.
"Raya?" Sandra meletakkan album dalam pangkuannya ke atas meja, dan kemudian berdiri menyambut kedatangan Raya.
"Hey, San... Maaf, aku pikir kamu tidak ada di rumah..." Ucap Raya terlihat kikuk karena masuk tanpa permisi.
Sandra tersenyum, pandangannya beralih pada suaminya yang datang bersamaan dengan Angkasa bersama seorang bocah kecil.
"Silakan duduk, Raya..." Ajak Sandra mempersilakan tamunya dengan sopan.
"Aku dengar Dalvin sakit, San... Bisakah aku bertemu dengannya?" Tanya Raya masih terlihat sungkan.
"Tentu... Mari aku antar ke kamarnya..." Jawab Sandra.
"Pa, Mama antar Raya ke kamar Dalvin dulu, ya..." Pamit Sandra pada Dean, namun pandangannya terhenti pada Danesh yang berada dalam gendongan Angkasa. "Oh, ini cucumu yang diceritakan Dalvin kemarin, ya...?"
"Benar... Ini cucu kami..." Jawab Angkasa. "Ayo, Sayang, sapa oma Sandra dan opa Dean dulu..."
"Halo, Oma... Halo, Opa..." Sapa Danesh.
__ADS_1
"Halo, Sayang..." Sandra mengelus pipi Danesh. "Emmm gemesnya..."
Sandra tak henti-hentinya memandangi wajah Danesh.
"Ayo, Ma, antar Raya menemui Dalvin... Dari sejak tadi ia merisaukan anakmu itu..." Perintah Dean mengingatkan istrinya.
"Oh iya... Ayo, Raya..." Sandra menuntut Raya menuju ke kamar Dalvin.
Di kamarnya, Dalvin sibuk membolak-balikkan dokumen. Pagi tadi ia ingin ke kantor, namun Sandra dan Dean bersikeras melarangnya. Ia masih terlihat belum segar, wajahnya masih lesu dan pucat.
Ia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, dan dengan perlahan ia berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Vin, ada tamu untukmu..." Ucap Sandra, sementara Raya bergeser ke belakangnya untuk menampakkan diri pada Dalvin.
"Tante Raya..." Sapa Dalvin sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu, Vin... Kata papamu, kamu sakit..." Raya segera mendekat ke posisi Dalvin, ia meletakkan telapak tangannya ke dahi putra dari mendiang sahabatnya itu.
"Sudah tidak apa-apa, Tante... Ada mama yang memberiku vitamin dan obat..." Sahut Dalvin membuat Sandra tersenyum haru.
Raya melirik ke arah Sandra sambil ikut tersenyum, namun dengan senyuman yang sulit diartikan. Terakhir kali Dalvin begitu ketus kepada kedua orangtuanya, walau ia tahu Dalvin diperlakukan sangat baik oleh Sandra dari kecil. Tapi suasana kali ini benar-benar berbeda, membuat ia menghapus segala dugaan-dugaan yang tidak-tidak kepada Sandra.
"Oh, ya... Istrimu mana, Vin?" Tanya Raya sambil celingukan ke dalam kamar Dalvin.
"Eee... Emmm..." Dalvin terlihat gugup dan gusar.
"Ada Danesh juga kah, Tan? Mungkin aku akan lebih baik jika bertemu cucu Tante..." Timpal Dalvin cepat.
"Ada, Danesh sama opanya di depan... Tapi, kamu kan masih sakit, Vin..." Cegah Raya mencemaskan Keadaan Dalvin.
"Sudah baikan kok, Tan... Lagian aku suntuk seharian di kamar..." Ujar Dalvin seraya menarik gagang pintu kamarnya.
Danesh melambaikan tangan ke arah Dalvin sambil tersenyum malu-malu. "Om Danteng...!"
"Hey, Ganteng..." Dalvin segera mengambil alih Danesh dari Angkasa. "Apa kamu merindukan Om?"
"Tidak, aku hanya merindukan papa..." Jawab Danesh dengan wajah terlihat polos.
Angkasa dan Raya saling beradu pandang, raut muka mereka berubah tegang.
"Memangnya papamu kemana?" Tanya Dalvin sambil menatap lekat wajah Danesh.
"Tejha..." Jawabnya.
"Mamamu?"
"Tejha uga..."
__ADS_1
"Mama Danesh sebentar lagi akan datang menjemput, Vin... Sekarang masih di kantor... Tadi Tante sudah kirimkan alamat rumah ini ke mamanya..." Sela Raya.
"Papanya?" Dean ikut bertanya.
Raya dan Angkasa terlihat murung.
"Sejak Danesh masih berada dalam kandungan, papanya tidak pernah muncul. Putri kami telah melalui hal berat sendirian, bahkan papa Danesh tidak pernah berusaha mencarinya..." Tutur Raya dengan berlinang air mata.
"Ma, sudah... Jangan bahas itu di depan Danesh..." Bujuk Angkasa sambil mengusap lembut bahu istrinya.
"Kalau begitu, Danesh jadi anak Om saja, ya?" Ucap Dalvin.
Dean dan Sandra beradu pandang sambil tersenyum penuh arti. Dean menganggukkan kepalanya seolah ada sesuatu yang ia rencanakan bersama istrinya itu.
"Opa dan Oma Sandra pasti senang sekali punya cucu seperti Danesh..." Ucap Dean memulai aksinya. Mendengar hal itu, Raya tersenyum senang.
"Iya... Apalagi wajah mereka mirip, ya..." Sandra ikut menimpali ucapan suaminya.
"Benar, kan, mereka mirip? Aku pikir, aku saja yang merasakan hal itu..." Raya juga menyahuti dengan riang.
Sandra mengambil album yang ia letakkan di atas meja tadinya, lalu membuka album itu dan segera memperlihatkannya pada Raya. "Lihat saja, ini aku masih menyimpan foto Dalvin waktu kecil..."
Raya mendongakkan wajahnya ke salah satu foto dalam album yang ditunjukkan Sandra kepadanya.
"Pa, lihat..." Pekik Raya pada suaminya. "Pantesan Mama selalu mengingat seseorang ketika melihat Danesh. Ternyata dia mirip Dalvin waktu kecil..."
Angkasa hanya tersenyum. Ia tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa yang dikatakan istrinya itu benar adanya.
"Iya, seperti pinang dibelah dua, ya? Mungkin anak kita bisa berjodoh..." Ucap Dean tiba-tiba, dan hal itu membuat Dalvin terlihat tidak nyaman seketika.
Asik mengobrol, Danesh tiba-tiba melonjak kegirangan. "Mama datang...!" Serunya.
Suara mesin mobil mamanya sangat hapal di benaknya, sehingga ia bergegas menggeliat dari pangkuan Dalvin.
Di luar, Soraya memasuki pekarangan kediaman Fernando. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera turun tepat di depan pintu utama rumah itu. Mendadak jantung Soraya berdetak keras. Dunianya seolah berhenti untuk sesaat.
"Selamat datang di kediaman Fernando, Soraya Amarta..."
Ucapan Dalvin yang pernah ia dengar dahulunya tiba-tiba terngiang di telinganya. Dengan perasaan gugup ia melangkah ke dalam rumah itu. Sesampai di depan pintu, perasaannya semakin tak karuan. Ia memejamkan matanya dan mulai melangkah kembali seperti yang terdengar dalam hatinya.
"Mamaaaa...!" Danesh berlari memeluk lututnya. Ia tersentak, matanya kembali menyala.
Dalvin terpana. Tidak hanya dia, Dean dan Sandra ikut ternganga akan kedatangan Soraya ke rumah mereka.
Mata Dalvin memerah, berkaca-kaca dan terasa pedih. Ia bangkit seketika saat menyadari bahwa yang datang itu adalah istrinya.
"Soraaa..." Ucapnya lirih. Ia bergeming untuk sesaat lamanya.
__ADS_1