MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
26. Dia Masih Saja Menggodaku


__ADS_3

Dalvin menatap Soraya sendu. Sarapan yang ia siapkan tadi sekarang dalam genggamannya untuk disuapi pada Soraya yang masih demam.


"Apa nama desa asalmu?" Tanya Dalvin.


"Hah?" Soraya tiba-tiba berubah gugup. "Emmm... Kenapa bertanya?"


"Bukankah kamu merindukan keluargamu? Kita mungkin bisa berkunjung…," kata Dalvin.


"Emmm, itu tidak perlu… Biayanya sangat besar jika kita kesana…" Elak Soraya.


"Aku akan usahakan biayanya. Sebentar lagi aku pasti dipanggil untuk bekerja di perusahaan itu. Kamu tenang saja…" Ujar Dalvin meyakinkan Soraya.


"Terserah kamu…" Jawab Soraya dengan suara lunak.


"Ini makan lagi…" Dalvin kembali menyuapi Soraya.


Seminggu berlalu, dan Dalvin masih berusaha mencari pekerjaan. Belum ada panggilan sama sekali sehingga Soraya menjadi iba mendengar keluhannya.


"Aku tidak mungkin mengemis kepada papaku, Sora. Jadi, maafkan aku jika makanan yang aku sajikan tidak mewah. Dan mungkin kita akan sering makan mie atau telur…." Kata Dalvin terlihat berputus asa.


"Tidak masalah. Yang penting kamu jangan Pernah menyerah, Vin… Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, semua akan indah pada waktunya?" Ucap Soraya mengingatkan ia pada kata-katanya sendiri.


"Siapa bilang aku akan menyerah? Aku malah akan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan. Percayalah…" Tukas Dalvin percaya diri.


Mendengar ucapan Dalvin yang bersemangat, Soraya diam-diam tersenyum. Entah mengapa ia bahagia jika mendengar Dalvin bahagia.


Dalvin menarik Soraya ke Sofa. "Duduklah, aku akan membawakan semangkok mie untuk kita berdua. Persediaan bahan makanan di dapur habis, jadi, jangan protes..." Ujar Dalvin.


"Oke..." Soraya mengangguk.


Siang itu mereka menyantap satu mangkok mie bersama, dan mereka terlihat bahagia seperti sepasang suami istri pada umumnya.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa bagianku sedikit? Aku belum kenyang..." Protes Soraya.


"Sebentar lagi aku akan keluar untuk membeli persediaan makanan. Kamu tahan saja dulu..." Ketus Dalvin. Ia lalu melihat pipi Soraya belepotan.


"Ada bekas minyak di pipimu," kata Dalvin.


Soraya dengan malu-malu mengusap pipi kanannya.


"Bukan disitu..." Dalvin mengusap pipi kiri Soraya dengan jemarinya. Matanya menatap lekat wajah Soraya. Tiba-tiba ia menjadi gugup.


"Sudah bersih?" Tanya Soraya tanpa tahu bagaimana perasaan Dalvin.


"Aku akan membereskan ini..." Ucap Dalvin cepat-cepat mengambil mangkok beserta gelas yang sudah kosong. Ia bahkan sampai tidak menjawab pertanyaan Soraya.


"Hey, ada apa denganmu?" Teriak Soraya yang merasakan keanehan pada Dalvin.


Dalvin mondar-mandir di kamar mandi. Ia merasakan gejolak yang sama setiap kali berhadapan dengan suasana ketika ia menatap wajah Soraya.


"Karena dia tidak bisa melihat, bukan berarti dia tidak merasakan apa yang aku rasakan, bukan? Anuku serasa sekuat tiang listrik, dan dia masih saja menggodaku..." Rutuk Dalvin kesal.


Dalvin menggigit kukunya sendiri, dan ia sampai mengabaikan panggilan Soraya berkali-kali dari luar.


Setelah cukup lama ia berada di kamar mandi, ia segera mencari keberadaan Soraya kembali. Namun beberapa kali memanggil, sahutan dari Soraya tak kunjung terdengar.


Soraya tiba-tiba datang dari luar membawa sebungkus roti.


"Kamu dari warung?" Tanya Dalvin menghampirinya.


"Iya... Aku masih lapar. Kamu aku panggil tidak menyahut sama sekali. Darimana saja?" Ketus Soraya sambil berjalan dengan tongkatnya menuju sofa.


"Sakit perut..." Jawab Dalvin asal.

__ADS_1


"Kamu mau?" Soraya menyodorkan roti di tangannya ke sembarang arah, berpikir bahwa Dalvin berada disana.


Sementara Dalvin yang berada di sisi lain segera mendekat. "Makanlah, aku sudah kenyang..."


"Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan orang di luar. Katanya, ada perusahaan yang membutuhkan karyawan baru…." Ujar Soraya.


"Oh ya? Apa nama perusahaannya? Aku ingin melamar pekerjaan ke sana…." Kata Dalvin sangat berambisi.


"Emm tadi aku sempat menanyakan, kalau tidak salah Ang… emmm… Angkasa Raya… Iya, aku yakin itu nama perusahaannya…." Jelas Soraya dengan yakin.


"Angkasa Raya?" Dahi Dalvin berkerut seketika. Ia tampak tidak bersemangat lagi.


"Tapi, aku rasa kamu pasti tidak akan tertarik…." Ucap Soraya membuat Dalvin terkejut. Ia pikir gadis itu akan tahu permasalahannya.


"Mereka hanya butuh personalia, emmm bahkan masih di bawah HRD, katanya… Kamu pasti keberatan, secara kamu terbiasa sebagai anak dari pemilik perusahaan." Cerocos Soraya.


"Siapa bilang aku tidak mau? Aku mau bekerja disana…." Kilah Dalvin merasa tertantang.


"Gajinya cuma sedikit, kamu pasti tidak betah…." Goda Soraya lagi.


"Ya, kalau untuk gaji personalia memang tidak seberapa, tapi cukuplah untuk kita berdua…." Kata Dalvin dengan entengnya.


Soraya tersenyum. Ia senang mendengar pernyataan Dalvin, meski dari suaranya terdengar seperti orang yang terpaksa.


"Jadi, kapan mau melamar kesana?" Tanya Soraya memastikan.


"Secepatnya, kalau perlu besok pagi…." Jawab Dalvin meyakinkan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2