
Soraya dengan cepat menoleh ke belakang. Dadanya bergemuruh hebat. Ia terpana untuk sesaat.
"Sora?" Seorang perempuan muda melambaikan tangannya memanggil Soraya.
"Dalvin?" Ucap Soraya dalam lamunannya.
Orang yang memanggilnya semakin mendekat. "Hey, bengong saja..."
Soraya mulai mengedipkan matanya. "Astaga..."
"Kenapa?"
"Eh, ti- tidak ada apa-apa, Rena..." Jawab Soraya dengan gugup.
"Kebetulan bertemu disini. Sudah lama tidak menyapamu..." Ucap perempuan itu dengan sumringah. "Katanya kamu punya anak, kapan kamu menikah? Kenapa aku tidak pernah mendengar kabar pernikahanmu, Sora?"
Soraya tersenyum sesaat, lalu seolah merapikan rambutnya yang tergerai. "Aku belum meresmikan pernikahanku. Tapi, untuk pesta nanti aku tidak akan melupakanmu..."
"Kamu masih sama... Selalu mengutamakan karir..." Celoteh Rena.
Soraya mulai terlihat risih. Ia berusaha memikirkan bagaimana caranya menghindari perempuan itu. "Berikan kartu namamu, aku sedang terburu-buru... Jika nanti sudah waktunya untukku memperkenalkan suamiku dan anakku, aku akan mengundangmu..."
Rena tersenyum kegirangan sambil mengeluarkan kartu namanya. "Jangan lupa, ya.."
"Oke..." Jawab Soraya sambil berpamitan dengan cepat.
Dadanya semakin terasa sesak. Ia masuk ke dalam mobilnya, dan kemudian menangkupkan wajahnya ke stir mobil. Soraya terisak-isak. Rasanya ia semakin disakiti oleh kerinduan yang selama ini ingin ia bunuh.
"Tidak seharusnya aku masih memikirkan dia..." Maki Soraya pada dirinya sendiri. Waktu yang ia habiskan bersama Dalvin tidaklah seberapa, namun tidak cukup baginya sebanyak apapun waktu untuk melupakan suaminya itu.
Soraya tiba-tiba terkejut karena keributan di area parkir. Ia cepat-cepat mendongakkan kepalanya ke luar jendela mobil, dan tidak jauh dari posisinya tampak segerombolan orang membopong seorang pemuda ke dalam sebuah mobil.
Soraya terpana ketika menyaksikan wajah pemuda itu melintas di hadapannya, yang tidak lain adalah Dalvin, suaminya sendiri. Pandangannya terus tertuju pada wajah Dalvin yang terlihat tidak sadarkan diri, sehingga ia tidak menyadari yang menyetir mobil Dalvin merupakan pak Dwi.
"Ada apa, Pak?" Tanya Soraya pada seseorang yang ikut mengantar Dalvin ke mobilnya.
"Tamu itu tiba-tiba pingsan, Nona... Kami hanya membantu temannya untuk membopong ke mobilnya..." Jawab orang itu.
__ADS_1
Soraya mangut-mangut. Namun ia terus mengingat wajah itu, wajah yang begitu familiar di matanya.
Pemikirannya yang terpusat pada Dalvin, membuat ia melajukan mobilnya ke rumah Rio. Sesampai disana, ia melihat banyak perubahan dari yang terakhir ia temui. Pekarangan yang bersih dan rapi, seperti rumah berpenghuni.
Soraya dengan hati-hati melangkah ke pintu rumah. Ia mencoba menekan handel pintu, namun pintu itu terkunci. Ia mengetuknya beberapa kali, dan sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.
Soraya mengeluarkan kunci rumah yang ia miliki dari dalam dompetnya. Meski ia berniat melupakan, namun ia belum sanggup untuk membuang kunci itu.
Alangkah terkejutnya ia ketika pintu itu terbuka dengan kunci miliknya. Dengan perasaan gugup Soraya menekan handel pintu hingga terbuka.
Soraya perlahan berjalan ke dalam rumah yang gelap. Meski sudah hampir empat tahun ia tidak berkunjung, ia masih mengingat dengan jelas tata letak setiap jengkal di rumah itu.
Ia menghidupkan lampu di ruang utama, dan sekali lagi ia dibuat terpana, ruangan itu berubah rapi dan bersih. Ia melangkah ke kamar, dan ia menemukan kamar yang bersih dan rapi pula.
Soraya memejamkan matanya untuk mencoba kembali ke masa ia berada di rumah ini bersama Dalvin, namun tidak sampai semenit, air matanya menetes seketika.
"Kenapa aku masih merindukanmu, Vin? Kenapa aku masih saja tidak bisa terima bahwa kamu nyata-nyata telah mencampakkan aku?" Soraya terisak. Tubuhnya terasa lemah karena menahan kepedihan hatinya.
Pandangan Soraya terhenti pada kaca rias. Sebuah tulisan MAAF membuat ia terpana. Ia perlahan mendekat ke arah kaca rias sambil terus menatap ke tulisan itu.
****
"Apa yang terjadi, Vin?" Tanya Sandra mencemaskan anak tirinya itu.
"Tidak apa-apa, Ma... Tadi aku sedikit pusing, makanya pak Dwi ini mengantarku..." Jawab Dalvin terdengar lemas.
"Terimakasih, Pak... Mari mampir dulu..." Ajak Dean kepada pak Dwi.
"Tidak perlu repot-repot, Tuan... Saya langsung pulang saja..." Tolak pak Dwi terlihat sungkan.
"Ayolah, Pak... Maaf, saya sedikit memaksa... Putra kami ini tidak akan mengatakan keadaan dirinya, jika bukan Bapak yang menceritakan kepada kami..." Pinta Sandra berharap.
Pak Dwi melirik kearah Dalvin, lalu ia mulai mengangguk.
Sandra mengantarkan Dalvin ke kamarnya. Setelah menyelimuti Dalvin, ia kembali ke ruang tamu untuk menemui pak Dwi yang tengah mengobrol bersama suaminya.
"Ternyata pak Dwi ini bekerja di perusahaan miliknya Raya, Ma... Dan Dalvin selama mandiri bersama istrinya dulu, juga bekerja disana." Ujar Dean mengulang cerita pak Dwi.
__ADS_1
"Oh ya, Pa? Sebagai apa?" Tanya Sandra terlihat tak percaya.
"Personalia..."
"Hah?" Sandra ternganga mendengar jawaban suaminya. "Benar begitu, Pak?"
"Benar, Nyonya... Bahkan Dalvin juga ambil part time sebagai sopir online..." Jelas pak Dwi meyakinkan kedua orang tua Dalvin.
"Astaga..." Wajah Sandra berubah sendu. Ia tidak mampu membayangkan betapa menderitanya Dalvin kala itu.
"Tapi saya sangat salut sekali kepada Dalvin. Dia benar-benar profesional dan bertanggung jawab... Dia tidak pernah mengeluh walaupun seringkali dibully oleh teman-temannya..."
"Dibully?" Sandra dibuat terkejut oleh penuturan pak Dwi.
Pak Dwi tergelak. "Dalvin pemuda tampan, bekerja sebagai personalia di perusahaan. Ia pendiam dan tertutup, tapi mobilnya mewah. Hal itu yang membuat teman-temannya suka mengolok-oloknya. Tapi dia tidak pernah melawan, karena pada dasarnya ia bukanlah orang sembarangan."
"Dalvin memang begitu, Pak... Keras kepala sekali..." Ucap Dean menimpali.
"Bagus itu, Tuan... Tandanya ia pria yang berprinsip... Bahkan karena keras kepalanya ia, ia tidak mau saya ajak ke rumah sakit tadinya..." Ujar pak Dwi seakan membela kepribadian Dalvin.
Dean dan Sandra mangut-mangut sambil tersenyum haru mendengar penjelasan pak Dwi tentang Dalvin.
Ketika pak Dwi telah pulang, Dean mendatangi Dalvin ke kamarnya. Putra bungsunya itu telah tertidur pulas di balik selimut. Ia kembali membayangkan betapa menyedihkannya Dalvin saat itu. Ia pernah merasakan di posisi Dalvin, hidup dalam kehampaan karena merindukan seseorang yang sangat dicintainya. Berharap dapat bertemu walau sekali hanya untuk mengucapkan kata maaf.
Usai memastikan putranya dalam keadaan baik-baik saja, Dean kembali ke kamarnya. Sandra telah menunggu dirinya di atas tempat tidur.
"Pa, ada pesan dari nomor baru. Katanya dari Raya..." Ujar Sandra sambil menyodorkan ponselnya kepada Dean.
"Raya?" Dean menerima ponsel itu dengan wajah tampak kebingungan. Tidak ada angin tidak ada hujan, sahabat mendiang istrinya itu menghubungi dirinya setelah baru tadi sore mereka membahasnya dengan Dalvin.
.
.
.
.
__ADS_1
.