MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
61. Secarik Kertas Terakhir


__ADS_3

Duta berangkat sore itu juga ke rumah Soraya setelah mendapatkan alamat mereka dari papanya. Ia sangat berharap kali ini dapat menebus kesalahannya terhadap rumah tangga adiknya sendiri. Mendengar panggilan Dalvin kepadanya tadi, hatinya terenyuh. Ia benar-benar merasakan memiliki adik setelah sekian lama hidup dalam membenci.


Duta juga sangat merasa bersalah jika ternyata benar Danesh adalah keponakannya. Berarti selama ini ia tidak hanya memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, melainkan juga antara seorang ayah dengan anak kandungnya.


Beberapa saat kemudian ia sampai di sebuah rumah yang mewah. Banyak pertanyaan yang berperang dalam benaknya, berlomba-lomba meminta jawaban cepat.


Seorang lelaki paruh baya berpakaian satpam datang menghampiri Duta yang masih bengong di depan pagar rumah itu.


"Cari siapa, Tuan?" Tanyanya pada Duta tanpa berniat membukakan pagar.


"Soraya..." Jawab Duta cepat.


"Maaf, Tuan... Tuan ini dari keluarga Fernando, kah?" Tanya satpam itu lagi.


"Benar... Apa majikan Anda sudah berpesan untuk tidak menerima tamu dari keluarga Fernando?" Giliran Duta menanyai satpam itu.


"Maaf, Tuan... Benar... Ini perintah, saya tidak berani membantahnya..." Tegas satpam itu.


"Baiklah... Tapi saya butuh bantuan Anda..." Ucap Duta tak menyerah.


"Sebisa mungkin saya akan membantu Anda, Tuan..."


Duta mengambil kertas kecil dari dalam mobilnya, lalu ia menulis permohonan kepada Soraya di dalam kertas itu.


Sora, aku mohon temui aku lima menit saja. Setelah itu terserah padamu...


Duta...


Duta menyodorkan kertas itu kepada satpam. "Tolong berikan ini pada Soraya..."


"Baik, Tuan..."


Satpam itu bergegas ke dalam rumah. Ia meminta pelayan rumah untuk memberikan kertas dari Duta kepada Soraya.


Tak beberapa lama, satpam itu kembali ke pagar untuk menemui Duta dengan muka yang lesu. "Bagaimana?"


"Tolong pergi saja, Tuan... Non Sora mengancam akan memecat saya jika saya tidak berhasil mengusir Tuan..." Ucap Satpam itu dengan wajah memelas.


"Astaga..." Keluh Duta mulai berputus asa. Bagaimana mungkin ia akan menolong adiknya, sementara Soraya saja sama sekali tidak mau bertemu dengannya.


Duta belum kehabisan akal. Ia kembali mengambil kertas kecil dari dalam mobilnya, lalu menuliskan sesuatu lagi di dalam kertas itu.


"Tidak, Tuan... Jangan paksa saya... Saya masih sangat butuh bekerja disini..." Tolak satpam sebelum Duta memintanya kembali memberikan kertas itu kepada Soraya.


"Tolong, ini tidak hanya menyangkut pekerjaan. Tapi ini menyangkut hidup adik saya, dan juga Soraya sendiri... Jika Anda sampai dipecat gara-gara kertas ini, saya janji akan mempekerjakan Anda lebih layak..." Ucap Duta bersikeras.

__ADS_1


Satpam itu tampak berpikir sejenak. Raut wajahnya menegang, namun melihat kesungguhan di mata Duta, ia akhirnya menerima kertas itu.


Tak beberapa lama ia menunggu, satpam itu kembali sambil berlari kecil menuju kearahnya.


"Bagaimana?"


"Anda diijinkan masuk ke dalam, Tuan..." Jawab satpam itu terengah-engah sambil membuka gembok pagar.


****


Setelah suasana mulai sedikit tenang, Raya mengambil Danesh dalam gendongan Soraya. Entah mengapa, sejak pulang dari rumah Dalvin, Soraya begitu enggan melepaskan putranya. Ia seperti ketakutan, kalau-kalau putranya akan diambil Dalvin darinya.


Sementara itu Angkasa dengan hati-hati mengajak putrinya berbicara.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Sora?" Tanya Angkasa dengan lembut.


Soraya menyeka sisa air matanya. Ia merebahkan kepalanya ke bahu papanya itu. "Dia papanya Danesh, Pa..."


Dean dan Raya terkejut.


"Apa dia berbuat jahat kepadamu, Nak? Apa dia memanfaatkan kekuranganmu waktu itu?" Tanya Angkasa menggebu.


Soraya tidak menyahut. Ia hanya menangis tersedu-sedu di pelukan papanya itu.


"Permisi, Tuan, Nyonya..." Pelayan di rumah mereka datang dengan takut-takut sambil membawa secarik kertas di tangannya.


"Ada pesan untuk non Sora, Nyonya..." Ucap pelayan itu gemetaran sambil menyodorkan kertas dari Duta.


Raya memberikan kertas kecil itu kepada Soraya setelah sempat ia baca, lalu meminta Danesh untuk ke kamarnya bersama pelayan itu.


Soraya tidak peduli, ia langsung merobek kertas itu.


"Kenapa kamu tidak mau menemuinya, Sayang? Bukankah Dalvin yang berbuat salah?" Tanya Raya dengan lembut.


"Ma, sudah..." Ucap Angkasa menengahi.


"Mama penasaran dengan apa yang terjadi, Pa..." Bantah Raya sedikit keras.


"Duta hampir melecehkan Sora ketika Sora sudah sah menjadi istri Dalvin, Ma... Dia lebih bejat..." Ungkap Soraya kesal. "Karena dia anak mendiang sahabat Mama, lalu Mama akan tutup mata dengan kesalahannya?"


"Istri? Kapan kalian menikah?" Giliran Angkasa yang mulai penasaran ketika mendengar setitik cerita Soraya.


"Mama selalu ingin menjodohkan Sora dengan anak sahabat Mama, dan Sora tidak percaya diri dengan keadaan Sora, sehingga Sora memutuskan untuk pergi..."


Raya terenyuh mendengar pengakuan Soraya. Ia terduduk lesu di sofa karena merasa bersalah menjadi penyebab semua ini.

__ADS_1


"Sora datang ke rumah sakit, dan bertemu seorang pasien kanker disana. Namanya Rio. Awalnya dia berniat mendonorkan matanya kepada Sora setelah dia meninggal, tapi Sora tidak sengaja membuat seseorang celaka dan mengakibatkan ia kehilangan penglihatannya. Sora sedih, Sora merasa bersalah, dan akhirnya Sora merelakan mata itu untuknya yang tidak lain adalah Dalvin sendiri..." Soraya terisak mengenang kembali kisahnya bertemu dengan Dalvin.


"Dalvin? Maksudnya gimana, Sayang?" Tanya Angkasa semakin dibuat penasaran.


"Dalvin dan Rio bersahabat. Malam itu ketika ia mengetahui sahabatnya kritis, Dalvin langsung ingin menemuinya ke rumah sakit. Dan malam itu Sora juga hendak ke rumah sakit, tapi karena Sora menghadang perjalanan Dalvin, ia kecelakaan dan menjadi buta..." Soraya semakin terisak-isak. Angkasa segera memeluknya dengan erat.


"Sebulan setelah Rio meninggal, Dalvin datang. Dan seterusnya ia selalu datang. Sampai akhirnya ia mengajak Sora menikah... Tapi dia menikahi Sora karena terpaksa, demi amanat Rio, sahabatnya..." Lanjut Soraya.


"Dia mengatakan itu?" Tanya Raya merasa tidak percaya.


"Dia mengatakan itu, Ma... Dia bilang sendiri... Berbulan-bulan kami tidak pernah melakukan apa-apa, sampai pada akhirnya ia meminta haknya sebagai seorang suami... Kami tinggal di rumah Rio... Dia meninggalkan rumah orang tuanya, karena Sora hampir diperkosa oleh Duta. Sora pikir dia marah karena Sora istrinya, tapi karena dia memang membenci kakak tirinya itu... Kakak tirinya yang selalu merebut kebahagiaannya, bahkan perempuan yang ia suka..." Jawab Soraya dengan suara keras.


Raya terhenyak. Ia menggeleng seolah tidak percaya bahwa Dalvin benar-benar melakukan hal itu kepada putrinya, bahkan kepada perempuan manapun.


"Ma..." Panggil Angkasa berusaha menenangkan istrinya.


"Pertama kali Mama melihat wajah Dalvin, Mama selalu merasa dia lelaki baik dan bertanggung jawab, Pa..." Ucap Raya berlinang air mata.


"Tapi pada kenyataannya setelah ia berhasil membuat Sora dapat melihat lagi, dia pergi, Ma... Dia campakkan Sora... Dia kembali kepada perempuan yang ia suka... Bahkan ia tidak pernah mencari Sora walau hanya sekali..." Bantah Sora merasa kesal.


Belum sempat mereka beradu argumen kembali, satpam datang dengan gugup menghadap mereka.


"Ada apa lagi, Pak Tora?" Tanya Angkasa yang masih berusaha tetap tenang di antara mereka bertiga.


"Maaf, Tuan... Orang itu benar-benar ngotot meminta saya untuk mengantarkan kertas ini kepada non Sora..." Jawab satpam itu dengan tubuh gemetaran.


"Buang kertas itu, Pak Tora..." Perintah Soraya.


"Ta-tapi..."


"Buang, Pak... Anda benar-benar ingin saya pecat?" Tegas Soraya.


"Ja-jangan, Non... Bapak akan buang..." Jawab satpam itu ketakutan.


"Berikan kepada saya, Pak..." Pinta Raya.


"Ma..." Soraya menatap mamanya dengan tatapan memelas.


Raya tidak peduli. Dia tahu betul sebagai seorang ibu, putrinya marah karena di mata putrinya itu terdapat cinta yang masih mendalam terhadap lelaki yang dianggapnya telah mengkhianati dirinya. Selama ini, jika bukan karena Danesh, mungkin Soraya hidup dalam kehampaan yang begitu dalam. Maka dari itu Raya berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya.


Raya membuka kertas kecil itu. Wajahnya terlihat tegang ketika membaca pesan dari Duta. Tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2