
Soraya dan Dalvin telah berada di sebuah restoran. Keluarga kecil yang hangat dan penuh kebahagiaan. Mereka saling berbincang dengan mata berbinar dan dipenuhi oleh rasa yang nyaman.
"Kamu sudah memberikan alamat restoran ini ke temanmu?" Tanya Dalvin mulai mengarahkan pembicaraan mereka ke rencana semula.
"Sudah... Kemarin kami bertemu setelah hampir lima tahunan ini tidak pernah berbagi kabar. Namanya Sona... Dia sekarang jadi relawan di rumah singgah. Seperti ia telah mengetahui siapa aku, sehingga keajaiban mempertemukan kami di rumah singgah Mikha..." Tutur Soraya.
"Menurut kamu, kak Duta akan marah nggak jika kita atur pertemuannya dengan Sona?" Tanya Dalvin tampak ragu-ragu.
"Marah atau tidak, nanti kita pikirkan... Sekarang kita coba dulu... Anggap saja Sona tidak sengaja bertemu dengan kita..." Usul Soraya menenangkan Dalvin, walau sebenarnya ia juga merasa gugup.
"Semoga saja kak Duta dan temanmu itu cocok, ya... Mama sudah begitu mengkhawatirkan dia yang terus memikirkan pekerjaan..." Ucap Dalvin.
"Kita doakan saja yang terbaik untuknya..." Sahut Soraya.
"Papa Danteng, Danesh mau esciim..." Pinta Danesh seraya menggamit lengan Dalvin.
"Anak Papa mau eskrim?"
Danesh mengangguk cepat.
"Mama mau juga?" Tanya Dalvin pada Soraya.
"Mau, Pa... Strawberry ya..."
"Oke... Sekarang Papa ke sana dulu, ya... Kamu bareng mama di sini... Jangan nakal. Oke..."
"Ote, Papa..." Jawab Danesh sembari mengacungkan jempolnya.
Baru saja Dalvin hendak bangkit dari kursinya, seorang perempuan datang ke meja mereka.
"Hey, Sora...!" Sapa perempuan itu.
"Hey, Sona... Akhirnya kamu sampai juga. Ayo, duduk..." Soraya tersenyum lebar atas kedatangan temannya.
Dalvin terpana. Sontak raut wajahnya berubah kelam. "Amira?"
Soraya dan temannya yang tidak lain adalah Amira serentak menoleh kepadanya.
"Dalvin!" Amira mendekati Dalvin dengan senyuman yang berbinar. Tanpa tahu malu ia langsung memeluk Dalvin, membuat Soraya terkejut dan heran.
"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Soraya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Buru-buru Dalvin melepaskan diri dari pelukan Amira.
__ADS_1
"Vin... Aku senang sekali bisa bertemu kamu... Aku rindu kamu, Vin..." Ucap Amira seraya menggamit kembali lengan Dalvin, namun secepat mungkin Dalvin menepisnya.
"Kamu punya masa lalu apa dengan suamiku, Sona?" Tanya Soraya mulai merasa tidak nyaman.
"Suami?" Dahi Amira mengernyit. "Kamu jangan bercanda, Sora... Dia Dalvin, lelaki yang sangat mencintaiku... Mana mungkin dia bisa menikah dengan perempuan lain, walaupun itu kamu..."
"Tapi, itu kenyataannya, Amira. Aku dan Soraya sudah menikah, bahkan kami sudah dikaruniai seorang anak yang tampan..." Sela Dalvin cepat dan mematahkan ambisi Amira yang angkuh.
Amira melirik Dalvin dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ia menggeleng keras seolah menolak kenyataan.
"Banyak sekali yang tidak aku ketahui dari kamu, Amira... Aku bahkan sama sekali tidak menyangka bahwa teman istriku yang bernama Sona adalah kamu aslinya..." Ucap Dalvin terdengar mengejek.
"Aku juga tidak tahu nama lain kamu adalah Amira..." Imbuh Soraya membenarkan ucapan Dalvin.
"Apa jangan-jangan kamu juga tidak tahu bahwa dia anaknya mantan direktur di perusahaan mama dan papamu, Sayang?" Tanya Dalvin lagi sembari merangkul Soraya.
Wajah Amira berubah pucat. Terlihat Soraya menggeleng sambil menatapnya dengan penuh kecurigaan.
"Namaku Amira Sonata... Kamu tahu sendiri kan, Vin?" Kilah Amira merasa terpojok.
"Jadi, kamu yang dimaksud pelayan hotel itu?" Tanya Soraya berapi-api.
Soraya bergegas mendekati posisi Amira, lalu mencengkram lengannya dengan kuat.
Danesh yang melihat pertama kali mamanya berteriak, tampak terkejut. Ia mengapit lengan Dalvin dengan bibir bergetar. Dalvin juga penasaran mengapa Soraya tiba-tiba marah besar kepada Amira hanya karena mengetahui bahwa ia merupakan anak dari mantan direktur di perusahaannya.
Dalvin mengangkat Danesh ke dalam gendongannya. Ia berusaha menenangkan anaknya dengan mendekapnya erat.
"Ada apa dengannya, Sayang?" Tanya Dalvin seraya mendekap bahu Soraya.
Amira mundur perlahan-lahan. Ia tampak kecemasan dan ketakutan melihat lirikan mata Soraya yang dipenuhi oleh amarah.
Ia menggeleng sambil berucap, "Bukan aku, Sora... Bukan, bukan aku yang melakukannya..."
Soraya dengan cepat mengejarnya. Ia mencengkram erat lengan Amira sambil terus menatap lekat wajah yang hampir diguyur keringat dingin itu.
"Aku juga tidak menanyakan hal itu, Sona... Tapi secara tidak langsung kamu telah membuka kebusukan kamu sendiri..." Ujar Soraya dengan bengis. "Kamu pelakunya...!"
"Ada apa ini, Sayang?" Tanya Dalvin lagi masih keheranan melihat kemarahan dalam diri istrinya.
"Dia telah dengan sengaja memberi racun ke dalam pancake yang aku makan sebelum aku buta dulu, Vin... Dan dokter bilang, ada sejenis racun yang menyebabkan aku menjadi buta..." Jelas Soraya menggebu-gebu.
Dalvin tercengang. Ia memberikan Danesh ke dalam dekapan Soraya, lalu cepat-cepat mencengkram lengan Amira sebelum gadis itu melarikan diri.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Vin? Lepaskan aku...!" Bentak Amira sambil meronta-ronta ingin dilepas.
"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu, Amira..." Ucap Dalvin tegas.
"Tapi aku tidak salah... Aku tidak melakukan apapun..." Kilah Amira bersitegang.
"Mungkin kamu bisa bicara langsung kepada pihak berwajib..." Ucap Dalvin tanpa rasa belas kasih.
"Vin, jangan... Aku mohon, Vin..." Amira mulai memelas. Matanya memerah menahan tangis.
"Ada apa ini, Vin?" Tiba-tiba Duta datang. Ia yang belum tahu apa-apa hanya terpelongo melihat drama yang terjadi di depan dirinya.
"Ada kenyataan yang pastinya akan membuat kakak tidak percaya..." Sahut Dalvin.
"Tapi, ini tidak ada kaitannya dengan masa lalu kamu lagi kan, Vin?" Tanya Duta terlihat cemas, namun ketika ia menoleh kepada Danesh yang berada dalam gendongan Soraya, ia langsung mengambil alih.
"Mama malah-malah, Paman..." Adu Danesh padanya.
Amira menangis. Ia segera berlutut di depan kaki Soraya. "Ampun, Sora... Jangan penjarakan aku..."
Tadinya yang berapi-api mendadak redup. Soraya terenyuh dan mulai melirik Amira dengan rasa kasihan.
"Duduklah..." Perintah Soraya melunak.
Dalvin tercengang, namun ia sama sekali tidak ingin ikut campur terlebih dahulu. Amira pun begitu, ia ragu-ragu menatap Soraya dengan rasa takut.
"Ayo duduk..." Ulang Soraya lagi.
Amira menurut. Ia perlahan bangkit lalu duduk di kursi yang tadinya berhadapan langsung dengan Soraya. Ia mengambil nafas panjang, dan kemudian bersiap untuk menjelaskan.
"Aku ingin sekali memenangkan reward itu, Sora... Makanya aku berusaha menyingkirkan kamu dan membuat kamu tereliminasi. Ditambah papaku juga berharap naik jabatan menjadi direktur di perusahaan orang tuamu..." Tutur Amira memulai.
"Aku salah, Sora... Aku bersedia menerima hukuman apapun, asal jangan penjarakan aku..." Bibir Amira bergetar menahan tangis.
"Menurutmu, hukuman apa yang pantas kamu terima?" Tanya Soraya menguji.
Amira terdiam. Tampak kepasrahan tersirat dalam raut wajahnya.
.
.
.
__ADS_1
.