MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
50. Masa Kelam Sandra


__ADS_3

Duta memandangi bayangan wajahnya yang memar di balik kaca. Ia masih menyendiri di kamarnya sejak kejadian tadi. Badannya terasa ngilu hanya karena memikirkan keegoisannya. Mungkin ia merasa bersalah, karena pada dasarnya ia masih punya hati nurani yang baik, apalagi untuk saudaranya sendiri.


Duta tiba-tiba kembali seperti kecilnya dulu, begitu perasa dan cengeng. Ia bersandar di tepi tempat tidurnya sambil memeluk lututnya sendiri. Ia seketika terisak-isak. Dia begitu khawatir terhadap Dalvin, tapi dia juga merasa malu dan tidak pantas untuk berada di rumah sakit.


Waktu terus berjalan, dan semalaman ia masih menunggu kabar tentang adiknya itu di dalam kamarnya yang gelap. Pukul empat pagi pintu kamarnya berderik, seseorang membuka dengan pelan dari luar.


Setelah pintu tertutup kembali, seseorang itu menyalakan lampu. Duta tetap menunduk, ia tahu mamanya lah yang datang tanpa ia harus melihat terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaannya, Ma?" Tanya Duta tanpa menoleh sama sekali kepada Sandra yang mulai mendekat kearahnya.


Sandra belum menjawab. Ia langsung duduk di samping Duta lalu memeluknya dengan sangat erat. Sandra tiba-tiba terisak.


"Maafkan Mama, Nak..." Ucap Sandra di sela tangisnya. "Maafkan Mama..."


"Dulu Mama sayang sekali sama Dalvin, dan karena ku, Mama jadi berubah juga, kan?" Ucap Duta.


Sandra terdiam. Ia bergeser untuk mengambil jarak, lalu menatap dalam-dalam wajah putranya yang dipenuhi ketakutan. Hati seorang ibu mana yang tidak akan luluh dan tersentuh melihat penyesalan di mata anaknya yang tidak sepenuhnya bersalah.


"Sampai sekarang, Mama masih sayang sekali sama Dalvin... Sampai sekarang..." Ungkap Sandra dengan bibir bergetar. Air matanya mengalir begitu saja di pipinya yang pucat.


"Dan Mama tahu, sepuas apa pun kamu membuat adikmu kesal, kamu tidak pernah benar-benar membencinya... Ketidakmengertian kamu terhadap perasaan papamu, membuat kamu cemburu terhadap adikmu sendiri... Dan itu adalah hal yang sama dengan yang mama rasakan..." Ujar Sandra menjelaskan.


"Siapa yang mendapat tempat di hati papa, jika aku dan Mama sebenarnya tidak? Sementara Dalvin juga merasa papa tidak pernah menganggapnya sama sekali... Apa mendiang mama Dalvin? Apa papa begitu mencintai istri pertamanya itu?" Tanya Duta sambil menoleh kearah mamanya. Ia mendesak seolah butuh akan jawaban.


Sandra menggeleng. "Awalnya Mama pikir begitu, tapi sebenarnya tidak, Sayang... Kasihan papa kalian... Yang mendapat tempat di hatinya hanyalah perasaan bersalah... Bertahun-tahun hidup dilema dipenuhi rasa penyesalan..."


"Menyesal karena telah menikahi Mama, dan akhirnya aku ada?" Potong Duta cepat.


"Mana mungkin papamu menyesali keberadaan dirimu, Sayang... Dia sangat menyayangimu, papamu bahkan tidak ingin pergi jika kamu diserang demam, meskipun hanya demam ringan..." Elak Sandra meyakinkan Duta. Jangan sampai putranya membenci suaminya.

__ADS_1


"Lalu, papa menyesal karena apa, Ma?" Tegas Duta bertanya.


Sandra merebahkan pipinya ke kasur. Ia terlihat kelelahan, lalu mulai bercerita.


****


Dean muda duduk di samping Sandra yang membelakanginya. Wajahnya begitu kusut, dan pandangannya nanar menatap ke punggung istri sirinya itu.


"Orang tuaku mendesak aku untuk menikahi kamu, San…." Ungkap Dean seperti tak berdaya.


Sandra hanya menegakkan kepalanya sedikit tanpa berkata apa-apa.


"Aku sebenarnya masih butuh waktu, tapi aku tidak berdaya melawan perintah mereka... Beri aku waktu untuk bisa bersikap seperti semula, San..." Ucap Dean tersekat.


"Berapa lama?" Sandra mulai bicara sambil menoleh sedikit kearah Dean.


Ia beristri dua, dan berbohong kepada kedua-duanya. Sering tidak pulang kepada salah satunya, lalu melontarkan berbagai alasan yang membuat mereka terpaksa mengerti karena memiliki suami pebisnis, tanpa mereka ketahui kebohongan apa yang telah disembunyikan Dean terhadap mereka.


"Tapi Wulan?" Sandra kembali menundukkan kepalanya. Mendengar kabar kematian Wulan membuat ia diliputi rasa bersalah.


"Jangan pikirkan Wulan, cukup aku saja yang terbebani dalam perasaan bersalah ini terhadapnya... Kamu cukup jadi ibu yang baik untuk anaknya, sayangi Dalvin kami seperti kamu menyayangi Duta kita... Wulan perempuan yang baik dan istri yang bijaksana, hanya saja dia mengetahui kita di saat tak tepat..." Pinta Dean mengiba.


Sandra merapatkan bibirnya menahan tangis, lalu mengangguk mengiyakan permintaan Dean. "Aku percaya kamu..."


Dean berangsur mendekati Sandra, mengikis jarak di antara mereka, lalu memeluk perempuan berhati tulus itu.


"Aku tahu, kamu tersakiti sama seperti Wulan.Maaf pernah membohongimu, aku tidak bermaksud menyembunyikan statusku yang telah beristri... Aku hanya tidak ingin penolakan..." Ucap Dean penuh penyesalan.


Hati Sandra semakin sakit mendengar pengakuan Dean, namun tidak ada yang bisa ia perbuat selain menerima kenyataan bahwa dirinya memanglah perempuan perebut suami orang.

__ADS_1


"Jangan bersandiwara lagi, jangan pernah bertingkah hanya untuk membuatku meninggalkanmu, karena itu tidak akan pernah terjadi... Kamu istriku, dan aku komitmen dengan itu..." Bisik Dean membuat harapan.


Apa juga kamu akan mencintaiku? Sungguh, meski hanya dalam hati, aku merasa malu untuk memintanya... Batin Sandra menahan tangis.


Hari pernikahan itu tiba, Duta kecil sangat bahagia tinggal setiap hari dengan papanya. Tapi meskipun ia masih kecil, ia bisa merasakan perubahan sikap orang dewasa terhadapnya, sikap papanya sendiri terhadap dirinya. Bertemu dengan orang-orang baru di sekitarnya, dan adik bayi yang juga mencuri kasih sayang ibunya.


"Kenapa kita tinggal disini, Ma? Kita pulang saja... Duta tidak ingin disini... Duta tidak suka adik bayi... Duta juga tidak suka nenek..." Protesnya kepada Sandra.


"Sabar, Sayang... Perasaan ini hanya sementara, suatu hari nanti kamu akan terbiasa di rumah ini..." Bujuk Sandra sambil mengelus pipinya dengan lembut.


Duta merengut, ia berlari ke kamarnya lalu tertidur dalam hati yang menyimpan kekecewaan. Tapi satu hal yang tidak ia tahu, setiap kali Dean pulang kantor, papanya itu akan melihat keadaannya dan mengecup dahinya dengan kasih sayang.


Lambat laun Sandra mulai bosan. Cucu yang diperhatikan orang tua Dean hanyalah Dalvin, sementara Duta sama sekali tidak dianggap. Ia menjadi sedih, apalagi Dean seakan melupakan janjinya. Jika Dean tidak lupa, lalu kapan waktu yang dimintanya itu berakhir?


"Aku ingin bercerai..." Ucap Sandra suatu kali.


"Tolong jangan bahas hal itu sekarang, San... Aku lelah..." Dean langsung membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, lalu memejamkan matanya untuk mengabaikan ucapan Sandra.


Hati Sandra semakin pedih. Ia berjalan perlahan ke kamar mandi, lalu menghidupkan keran air sebesar-besarnya. Ia menangis tersedu-sedu mengenang kehidupan yang tak layak di rumah mewah itu. Ia hanya seorang diri dikuatkan oleh keberadaan Duta di sisinya.


Ia bahkan lebih baik jika dijadikan pembantu disana, daripada tidak dianggap sama sekali. Bahkan suami untuk berbagi cerita sama sekali tidak menghiraukan keluhan yang tergambar jelas di wajahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2