
Dalvin terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Hatinya menggebu, dadanya terasa sesak tak karuan. Berkali-kali ia mengangkat lengannya untuk melihat jarum jam.
Ia mulai merasa tidak sabar, lalu berjalan keluar kamar menemui orang tuanya.
"Kenapa, Vin?" Tanya Sandra seraya mendekati Dalvin yang berjalan kearahnya dengan gelisah.
"Aku ingin menyusul kak Duta, Ma... Pa, tolong beri aku alamat rumah Tante Raya..." Pinta Dalvin memelas sembari mengalihkan pandangannya kearah papanya.
Sandra melirik Dean. Ia begitu iba mendengar permintaan Dalvin.
"Apa kamu tidak mempercayai kakakmu?" Tanya Dean sambil menatapnya prihatin.
"Bukan begitu, Pa... Tapi..."
"Ayo, Pa... Sebaiknya kita juga harus ke sana... Kita tidak bisa berdiam diri saja, Pa... Jika benar Danesh putranya Dalvin, berarti dia juga cucu kita... Kita harus memperlihatkan perjuangan kita sebagai opa dan Omanya Danesh..." Ucap Sandra ikut membujuk suaminya.
Dean mangut-mangut. "Ucapan Mama benar... Tapi, bisakah kamu berjanji untuk tidak terlalu memaksakan diri jika Soraya belum siap? Kasihan dia, Vin..."
Dalvin mengangguk cepat. "Aku janji, Pa..."
****
Raya mengusap air matanya. Ia menatap Soraya yang juga menatapnya dengan kebingungan.
"Apa kamu mencintainya?" Tanya Raya dengan lembut.
Soraya tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan mamanya.
"Jawablah, Nak... Apa kamu mencintainya, dan sampai saat ini masih mencintainya?" Desak Raya sambil mencengkram kedua bahu Soraya.
"Sora tertipu olehnya, Ma... Dan Sora akan berusaha keras untuk melupakannya mulai dari sekarang..." Jawab Soraya mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan orangtuanya.
"Dia sudah banyak menderita... Tolong jangan sakiti dia lagi, Nak... Dia seperti ibunya. Keras kepala, namun sayangnya luar biasa... Dia sangat menyayangimu... Coba kamu pikirkan lagi, sebelum kalian berpisah apa saja hal yang telah dilakukannya? Apa dia menyakitimu? Apa dia menyiksa batin mu?" Tanya Raya mulai melunak kembali.
__ADS_1
Soraya terdiam. Memang, tidak bisa dipungkirinya, Dalvin memperlakukannya begitu istimewa. Tidak pernah sekalipun Dalvin menyakiti dirinya selama mereka bersama.
"Tapi dia mencampakkan Sora setelah dia merasa bahwa dia telah berhasil bertanggung jawab dan memenuhi amanat sahabatnya, Ma... Dia kembali kepada perempuan yang ia suka..." Protes Soraya di sela-sela sesenggukan.
"Ma, sudah... Biar Sora yang memutuskan semua ini, Ma... Dia sudah dewasa..." Timpal Angkasa menengahi.
"Tidak, Pa... Sora sudah janji kepada kita untuk menurut..." Bantah Raya masih kukuh dalam pendiriannya.
"Sora tidak ingin tersakiti lagi dengan banyak berharap kepadanya, Ma..." Balas Soraya dengan napas tertahan.
"Bacalah ini, Nak... Coba dengarkan sekali saja penjelasan kakak tiri Dalvin... Mungkin ada sesuatu yang salah, dan jangan sampai kamu menyesal nantinya... Mama tahu, kamu masih menyimpan kerinduan di dalam hatimu untuk ayah dari anakmu..." Pinta Raya sambil menyodorkan kertas itu kepada Soraya.
Soraya hanya mematung. Ia terlihat enggan untuk menerimanya.
"Kamu tidak hanya menyakiti perasaanmu sendiri, tapi kamu juga akan melukai perasaan Danesh... Sekarang dia memang belum mengerti apa-apa, tapi tidak kah kamu berpikir dia akan tumbuh menjadi anak yang dewasa, yang akan terus bertanya dimana ayahnya?" Raya terus berusaha meyakinkan putrinya itu.
"Bacalah..." Desak Raya sambil memaksa Soraya mengambil kertas kecil itu. "Ini bukan tentang dia adalah Dalvin, Sora... Tapi, tentang dia adalah ayahnya Danesh
"Ma, sudahlah..." Cegah Angkasa dengan menggamit bahu istrinya.
Soraya menoleh cepat ke arah mamanya. Ada rasa haru setelah ia mendengar tentang Dalvin. Ia mengangkat kertas yang sudah di tangannya, lalu mulai membaca satu persatu kalimat yang tertulis di dalamnya.
Tiada niat Dalvin meninggalkan kamu, Sora... Setelah ia tahu bukan aku yang membayar semua biaya pengobatan mu, ia segera mencari keberadaan kamu lagi. Sampai pada akhirnya ia mengalami musibah karena telah menyelamatkan aku... Dia koma hampir sepuluh bulanan... Dia sangat mencintai kamu, Sora... Bahkan dia selalu menyebut namamu dalam igauannya...
"Pak Tora...!" Seru Soraya sambil menangis, membuat Angkasa panik dan kebingungan.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Angkasa segera merangkul bahu Soraya.
"Pa, biarkan dia masuk..." Pinta Soraya. Mamanya tersenyum, lalu mendekati putrinya dan ikut memeluknya.
Atas perintah Soraya, Pak Tora membawa Duta ke dalam. Sejenak mereka berdiam diri. Belum ada yang berani memulai pembicaraan di antara mereka.
"Kenapa kamu tidak pernah berterus-terang bahwa kamu merupakan putri tunggal dari pemilik perusahaan Angkasa Raya, Sora?" Akhirnya Duta mulai memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Banyak alasan yang sulit untuk aku jelaskan..." Jawab Soraya dengan entengnya.
"Kamu tahu? Sejak dia sadar dari komanya, dia menjadi lemah... Sering sakit. Setiap kali sakit, dia terus mengigau namamu... Semalam aku dengar dari mamaku, dia pingsan, dan aku yakin dia pasti menyebut namamu..." Tutur Duta membuat hati Soraya dan kedua orangtuanya terenyuh.
"Dia orangnya sangat tulus. Apabila mencintai, ia akan memperjuangkannya... Kesalahan perempuan yang ia suka sebelum kamu, terlalu materialistis, dan tidak berpendirian. Sehingga ia dengan mudahnya sembuh dari patah hatinya saat itu... Ditambah lagi, mungkin karena adanya kamu, Sora..."
Duta mengehentikan sejenak ceritanya. Ia menghela napas berat untuk sesaat. "Aku tidak pernah melihat ada lelaki yang begitu melindungi, seperti dia melindungi kamu... Menatap kamu pakai hati, dan rela memberi segalanya hanya untukmu..."
Air mata Soraya mengalir begitu saja, semakin Duta melanjutkan ceritanya, maka air matanya akan semakin deras.
"Aku mengancamnya. Jika dia tidak meninggalkan kamu, mungkin dia akan kehilangan kamu untuk selamanya... Aku mengatakan, bahwa aku yang melunasi semua biaya operasi matamu... Tapi setelah ia tahu bukan aku, ia marah dan menghajar diriku dengan brutal seperti ketika aku berniat melecehkan kamu dulu..."
Duta kembali menghentikan ceritanya. Ia tiba-tiba terisak. "Di saat itulah dia mengalami kecelakaan... Lampu gantung di rumah terjatuh dan hampir menimpaku... Tapi, tapi..."
Duta semakin terisak. Dia berkali-kali menundukkan wajahnya. Soraya dan kedua orangtuanya tetap sabar menunggu kelanjutan cerita Duta.
"Tapi Dalvin menyelamatkan hidupku, dia mendorongku hingga dia sendiri yang harus tertimpa lampu itu, dan mengakibatkan ia koma selama sembilan bulanan... Dia tersadar tepat pada malam tanggal tujuh Desember dua ribu sembilan belas lalu..."
"Tanggal lahirnya Danesh..." Ucap Raya dengan tiba-tiba, sehingga membuat Soraya dan Angkasa menoleh cepat kepadanya.
Duta tersenyum mendengar hal itu. "Ajaib sekali... Kelahiran putranya, membawa mukjizat untuknya... Percayalah, Sora... Setiap kali ada acara kantor ke desa-desa, dia memaksakan diri untuk ikut... Dia berharap dapat bertemu kamu disana. Katanya, kamu berasal dari desa..."
Soraya menundukkan wajahnya. Ia merasa bersalah sekali.
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh keributan dari luar. Soraya segera berlari menuju pintu rumah ketika mendengar suara Dalvin.
"Bukakan pagarnya, Pak Tora... Tolong..." Perintah Soraya. Dalvin yang berada di luar pagar sambil memegangi pagar besi itu terpana melihat istrinya menatap dirinya dengan perasaan yang begitu besar.
.
.
.
__ADS_1
.