MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
38. Film Di Bawah Hujan


__ADS_3

Soraya perlahan mendekat ke tempat tidur. Ia terlihat gugup dan takut. Dalvin yang melihat itu langsung saja menarik lengan Soraya hingga terjerembab ke pangkuannya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Dalvin sambil mengelus lembut kepala Soraya.


"Kita keluar saja... Emmm, aku... Aku ingin jalan-jalan..." Ucap Soraya beralasan.


"kenapa seperti ingin lari saja dariku?" Tebak Dalvin sambil tersenyum menggoda Soraya.


"Heh? Tidak... Tidak begitu..." Elak Soraya semakin dibuat ketakutan.


"Kamu tidak ingin melayaniku? Aku ini suami kamu, dan kita menikah diakui hukum negara..." Ujar Dalvin sambil mengelus lembut kepala Soraya. Dia memperlakukan istrinya itu dengan penuh kasih.


"A-aku tahu... Tapi, terakhir kamu melakukannya karena terpaksa, kan?" Tuduh Soraya dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Siapa bilang?" Tanya Dalvin dengan sabar.


"Lalu kenapa begitu tiba-tiba setelah dari sekian lama? Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa kita menikah hanya karena terpaksa?" Protes Soraya mengungkapkan isi hatinya.


.


"Sora..." Panggil Dalvin berusaha meyakinkan istrinya. "Suatu hari nanti kita akan terbiasa dengan pernikahan ini... Atau mungkin dengan kamu bisa melihat nantinya, kamu berencana akan pergi?"


"Bu-bukan begitu... Aku sama sekali tidak pernah berpikir akan pergi... Hanya saja..."


"Percayalah, Sora... Tidak ada niatan buruk di hatiku kepadamu... Aku ini laki-laki, dan aku butuh kamu untuk melampiaskan hasrat biologiku... Saat ini aku sedang ingin, dan aku butuh kamu..." Tutur Dalvin memelas. Ia memeluk Soraya dengan erat.


Dalvin mengecup bibir Soraya, membuat istrinya itu tersentak dan refleks mengatupkan bibir. Dalvin kembali mengecup bibir Soraya, dan kali ini tanpa penolakan.


Soraya pasrah. Walau Hatinya masih ragu, namun ia juga tidak ingin menolak permintaan Dalvin. Dia tetap berpikir bahwa seorang istri musti melayani suaminya dengan baik.


(....)


Soraya tersenyum. Jemarinya terus bergerilya di kepala Dalvin, sesekali memainkan rambutnya yang lebat. Suaminya itu telah terkapar di dalam pelukannya setelah beberapa kali melakukan cocok tanam dengannya. Soraya mulai percaya bahwa Dalvin melakukan itu bukan hanya untuk menyalurkan nafsu semata, melainkan karena mereka telah menikah dan bertujuan untuk memiliki keturunan.


Terimakasih sudah mempercayaiku menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupmu, Vin...


Ia mengecup kepala Dalvin begitu lama, lalu menyusul suaminya itu ke alam mimpi.


****


Keesokan harinya Dalvin berencana membawa Soraya jalan-jalan. Ia ingin memperlakukan istrinya itu bagai ratu sejagad dalam sehari. Ia memilihkan gaun cantik dan juga menyisir rambut Soraya.


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Vin... Aku bisa sendiri..." Celoteh Soraya yang merasa risih dengan perlakuan Dalvin kepadanya.

__ADS_1


"Sesekali tidak mengapa, Sora... Aku juga tidak sibuk dan tidak pula terburu-buru." Jawab Dalvin mengabaikan sungut Soraya.


"Memangnya kita hari ini akan kemana?" Tanya Soraya.


"Aku sudah memesan dua tiket ke bioskop-"


"Ke bioskop? Apa yang akan aku tonton sampai disana? Aku jelas-jelas tidak bisa melihat..." Potong Soraya dengan bibir manyun.


"Mengetahui alur cerita film, kan tidak perlu melihat gambarnya, Sora... Dengan mendengar suaranya saja kamu pasti akan mengerti alur ceritanya... Ini film terbaik yang pernah aku dengar. Aku sudah melihat beberapa trailer filmnya di video YouTube..." Jelas Dalvin sambil mengelus rambut Soraya.


"Nanti kamu bersedia sabar ketika menjawab pertanyaan dariku tentang filmnya, kan?" Tanya Soraya mulai menurut.


"Tentu... Aku bahkan bisa menjelaskan semua alur ceritanya dari awal sampai akhir jika kamu tidak mengerti sama sekali..." Ucap Dalvin berjanji.


Soraya mengangguk, namun wajahnya masih terlihat merengut.


"Ada apa?" Tanya Dalvin sambil menggamit dagu Soraya yang runcing.


"Orang-orang disana pasti akan menertawakan aku... Bioskop bukan tempat yang


cocok untukku, Vin... Apa tidak ada tempat yang lain saja?" Tanya Soraya tampak sendu.


Dalvin menghela napas berat. "Baiklah... Hari ini kita batal ke bioskop..."


"Tidak... Hanya saja tiketnya jadi mubasir..." Jawab Dalvin.


"Maaf..."


"Tidak perlu meminta maaf... Aku yang salah... Seharusnya aku tidak pesan tiket ke bioskop..." Kata Dalvin terdengar berat.


"Tidak apa-apa, kita ke bioskop saja... Seharusnya tidak perlu ada drama sebelum kita berangkat... Ayo..." Ajak Soraya sambil bangkit dan berjalan ke arah pintu.


"Jangan, Sora... Kamu tidak perlu melakukan hal yang sama sekali tidak kamu suka... Aku tidak memaksa..." Cegah Dalvin.


"Siapa bilang aku terpaksa... Aku punya kamu yang selalu melindungi aku, bukankah begitu?" Ucap Soraya sambil melanjutkan langkahnya.


Dalvin tersenyum. Ia mengejar posisi Soraya dan menggandeng tangan istrinya keluar rumah.


Dalvin benar-benar sangat senang melalui hari-hari bersama Soraya. Ia yakin bahwa dirinya saat itu telah jatuh cinta kepada istrinya sendiri. Ia hanya butuh waktu untuk mengungkapkannya kepada Soraya.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di depan gedung bioskop. Sejak keluar dari mobil, tak henti-hentinya Soraya menggamit lengan Dalvin. Ia sangat gelisah mendengar suasana di sekelilingnya.


Ini kesekian kalinya ia diajak Dalvin berada di keramaian, dan perasaannya masih saja sama. Canggung dan dipenuhi rasa ketidakpercayaan diri.

__ADS_1


"Rileks, Sora... Anggap saja di dunia ini hanya ada aku dan kamu..." Ucap Dalvin menenangkan.


"Kamu tidak punya kaca mata hitam?" Bisik Soraya.


"Untuk apa? Jangan berpikir yang aneh-aneh..."


"Tapi..."


"Tidak apa-apa, Sora..." Dalvin mengelus lembut jemari Soraya yang bergelayut di lengannya.


Dalvin membawa Soraya ke dalam gedung bioskop. Mereka duduk di deretan yang dipenuhi penonton lainnya.


"Judul filmnya Di Bawah Hujan..." Bisik Dalvin.


Soraya mengangguk, kemudian Dalvin kembali menghadapkan wajahnya ke layar dengan seksama.


Dimulai dari kisah romantis sepasang kekasih. Naas kecelakaan merenggut kedua kaki gadisnya.


Kecaman bertubi-tubi datang mendera Alana, pemeran utama dalam film yang mereka tonton. Dimulai ketika orang tua kekasihnya sudah tidak lagi merestui hubungan mereka, hingga perjuangan Enggar meyakinkan Alana untuk tidak akan pernah pergi darinya.


Adegan demi adegan telah ditayangkan, air mata Soraya tiba-tiba menetes mendengar adegan saat ini.


Pemisah kita hanya jembatan, Alana... Bukan jurang dalam... Aku akan berlari mengejar posisimu ke seberang, lalu menggendong kamu kembali ke sisiku...


Kamu memang tidak mampu berjalan, tapi bukan berarti cintaku ikut lumpuh...


Aku hanya mencintai kamu, Alana... Selamanya*...


"Beruntung sekali Alana..." Ucap Soraya di sela tangisnya.


Dalvin menggenggam tangan Soraya, lalu menghapus air mata istrinya itu.


"Kendala dalam dirimu hanya kegelapan, Soraya... Dan aku akan selalu menjadi lentera untuk setiap langkahmu... Bersabarlah..." Dalvin merebahkan kepala Soraya ke bahunya.


"Terimakasih masih berada di sisiku... Aku sangat beruntung seperti Alana yang memiliki seseorang di sisinya. Walau ia lumpuh, tapi ia masih punya semangat untuk terus berjuang..." Ucap Soraya sambil menggamit bahu Dalvin.


Dalvin mengeluarkan kembali wajah Soraya, lalu ia mengecup bibir istrinya itu dengan penuh perasaan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2