
Dalvin menatap Soraya dari luar. Ia begitu kesal terhadap dirinya, membiarkan tangan Duta yang digenggam istrinya pada saat perban yang membaluti mata istrinya itu akan dibuka oleh Dokter.
"Seharusnya aku yang ada disana, menyaksikan senyummu yang begitu lebar saat kamu dapat melihat cahaya lagi... Seharusnya wajahku yang menjadi tatapan pertamamu setelah lama kamu berada dalam kegelapan, kan, Sora...? Tapi karena kebodohan diriku sendiri, aku membiarkan Duta yang berada disana... Maafkan aku, Sora..." Gumam Dalvin bersedih hati.
Perban telah terbuka keseluruhannya, wajah cantik Soraya dengan senyuman penuh harap merekah di wajahnya itu. Ia belum berani membuka kedua kelopak matanya, sementara tangannya terus menggenggam tangan Duta dengan erat.
"Coba buka mata Nona pelan-pelan..." Perintah Dokter.
Di sisinya, Dalvin berusaha mengenyampingkan egonya. Ia juga tampak berharap operasi pencangkokan kornea mata pada Soraya berhasil.
Soraya menggerakkan kelopak matanya perlahan-lahan, seberkas cahaya membuat ia tersenyum. Ia semakin mempererat genggaman tangannya di tangan Duta.
Lagi, pelan-pelan ia membuka matanya. Ia melihat sekilas wajah seseorang di balik pintu, dan kemudian orang itu menghilang. Jantung Soraya berdegup kencang, ia mengalihkan pandangannya ke tangannya yang saling bertaut.
"Dalvin..." Panggil Soraya begitu terharu melihat ke wajah seseorang yang berada di hadapannya itu.
Ia segera memeluk lelaki yang sebenarnya adalah kakak tiri suaminya, dan ia sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Terimakasih, Vin... Hari ini aku bahagia, karena aku sudah dapat melihat lagi..." Ucap Soraya serak.
Tangan Duta mengelus punggung Soraya dengan lembut, ia mengangguk menyahuti setiap ucapan Soraya yang berbahagia.
Soraya masih belum sadar bahwa lelaki yang dipeluknya bukanlah Dalvin, melainkan Duta yang pernah hendak berbuat jahat kepadanya.
Ia mengurai pelukannya, sementara kedua tangannya mengapit pipi Duta. Tiba-tiba Soraya terlihat kebingungan. Ia terus meraba wajah Duta dengan perasaan yang tidak menentu.
"Kenapa, sora?"
Bagai disambar petir, Soraya begitu terkejut ketika mendengar suara Duta. Ia memejamkan matanya dan kembali meraba wajah Duta untuk memastikan kecurigaannya.
Soraya membuka matanya lebar-lebar, "kamu?"
Soraya menyurutkan dirinya dari hadapan Duta. "Ada perlu apa kamu disini? Mana Dalvin?"
Soraya mulai berang. Ia merasa dibodohi oleh Duta.
__ADS_1
"Tenang, Sora... Aku akan jelaskan semuanya..." Ucap Duta berusaha menenangkan Soraya yang tersulut emosi.
Duta memberi kode kepada Dokter agar mereka meninggalkan dirinya dan Soraya berdua.
Soraya menangis. Ia turun dari brankar hendak keluar untuk mencari keberadaan Dalvin.
Duta segera mungkin menahannya dan menarik lengannya. "Dalvin sudah pergi, Sora..."
"Lalu apa hak kamu berada disini, dan berperan seolah-olah kamu adalah Dalvin suamiku?" Teriak Soraya murka sambil menghentak kasar tangan Duta.
"Aku cuma disuruh, Sora... Dia sudah tidak punya uang, lalu dia memintaku membayarkan semua biaya rumah sakit ini..." Jawab Duta berbohong.
"Jangan ngarang kamu...!" Bengis Soraya tidak percaya dengan penjelasan Duta.
"Dalvin hanya merasa berhutang Budi kepadamu, Sora... Makanya dia bela-belain membantumu selama ini... Padahal di dalam hatinya hanya ada Amira, gadis yang ia cintai sedari dulu..." Ujar Duta berusaha meyakinkan Soraya.
Soraya menggeleng, air matanya telah mengalir karena berusaha tidak memercayai ucapan Duta. "Jangan mengada-ada... Meski Dalvin bersikap dingin terkadang, tapi aku bisa merasakan cintanya kepadaku..."
Soraya berlari ke luar rumah sakit dan kemudian mencari taksi.
"Jalan Merpati Putih nomor 9B..." Ucap Soraya pada sopir taksi yang ia tumpangi.
Soraya sampai di depan rumah yang hampir setahunan ini ia huni bersama Dalvin. Ia tidak percaya rumah minimalis di hadapannya adalah tempat ia tinggal bersama Dalvin, suaminya yang ia sendiri tidak pernah ia lihat wajahnya.
Soraya berjalan perlahan-lahan memasuki gerbang rumah itu, lalu menghirup aroma rumah yang biasa ia lakukan setiap pagi. Ia tersenyum, Aroma yang sama meskipun bukan di waktu pagi hari.
Tiba-tiba Soraya tertegun. Ucapan Duta sungguh mengganggu pikirannya. Ia kemudian menggeleng cepat berusaha tidak percaya.
"Kita akan bertemu di dalam, kan Vin?" Gumam Soraya menyakini dirinya sendiri.
Ia memejamkan matanya, mengingat pertama kali Dalvin menuntunnya ke dalam sambil menginstruksikan setiap langkah kakinya.
Soraya kembali tersenyum, bayangan itu serasa nyata baginya. Tangannya seakan-akan merasakan genggaman tangan Dalvin, dan sosok Dalvin berada di sisinya.
"Sampai..." Soraknya begitu bahagia, lalu mengayunkan handel pintu yang ternyata sama sekali tidak terkunci.
__ADS_1
"Viiin..." Panggil Soraya sambil membuka matanya. "Vin, kamu ada di dalam, kan?"
Soraya terus berjalan sambil mengingat detail setiap instruksi Dalvin.
"Vin, kamu dimana?" Lagi-lagi Soraya memanggil nama suaminya itu. Tidak ada sahutan sama sekali, Soraya berjalan kearah dapur.
Rumah yang begitu rapi dan bersih, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Ia berkeliling menikmati suasana rumah, hingga ia melupakan Dalvin untuk sesaat.
Soraya kembali ke ruang tengah, ia membuka gorden yang sempat ditutup Dalvin sebelum mereka pergi ke rumah sakit. Tiba-tiba hati Soraya berdenyut nyeri. Ingatannya kembali pada suaminya.
Soraya membalikkan badan, ia tersenyum ketika melihat pintu kamar tepat di hadapannya. Dia segera berlari ke pintu itu dan membukanya. "Viiin..."
Lagi-lagi Soraya menelan kekecewaan. Dalvin tidak ada dimana-mana dalam rumah itu. Hanya aroma parfum Dalvin yang masih tersisa, membuat hatinya semakin perih.
Soraya berjalan kearah tempat tidur, lalu duduk di bagian tepinya. Ia meraba tempat tidur itu di sekitarnya, lalu mengingat momen setiap kali bersama Dalvin di tempat tidur itu. Air matanya mulai mengalir kembali.
Ia mengeluarkan ponsel pemberian Dalvin dari tas mini yang ia sandang, lalu dengan mata terpejam menghubungi nomor Dalvin.
Beberapa kali menelepon, akhirnya Dalvin mengangkat teleponnya.
"Janjimu, apapun yang terjadi kamu tidak akan pernah meninggalkan aku... Katamu, aku ini istrimu dan selamanya milikmu... Dan kamu juga pernah menegaskan bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku meskipun aku sudah dapat melihat lagi, kamu janji akan tetap melindungi aku, Vin..." Soraya terisak. Ia meremas sprei tempat tidur itu sekuat-kuatnya, lalu menangis tersedu-sedu.
"Biar aku tetap buta sajaaaa..." Teriak Soraya sampai terbatuk-batuk menahan kepedihan hatinya.
"Pulang, Vin, pulaaang... Aku rindu..." Tangis Soraya semakin menjadi-jadi.
"Aku tahu ini tidak benar... Aku tahu Duta jahat, dan kamu sudah wanti-wanti akan hal itu... Aku percaya semua ucapan kamu... Dan aku percaya kamu, lebih dari aku percaya diriku sendiri..." Ucap Soraya mencoba membujuk dan meyakinkan Dalvin yang hanya diam di seberang.
"Vin... Tolong bicara, tolong yakinkan aku bahwa kamu sebenarnya tidak pernah pergi, dan kamu pasti akan kembali..." Pinta Soraya memohon.
Soraya terdiam lemas. Ia melihat layar ponselnya, dan ternyata Dalvin telah mematikannya secara sepihak.
.
.
__ADS_1
.
.