MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
60. Apa Danesh Putra Kita?


__ADS_3

Duta merem mobilnya dengan cepat. Seorang gadis tiba-tiba muncul begitu saja menghadang perjalanannya. Ia mengoceh, lalu turun dari mobilnya berniat untuk memaki gadis itu.


"Hey, kamu mau mati, ya? Kalau iya, jangan libatkan diriku, aku sedang terburu-buru..." Umpatnya kesal.


Gadis itu berlari kearahnya, lalu menggamit lengan Duta. "Tolong, tolong bawa aku dari sini..."


Gadis itu tampak sedang ketakutan. Wajahnya yang pucat penuh keringat, dan rambutnya yang berantakan membuat ia terlihat menyedihkan. Duta memerhatikan tubuh gadis itu dari telapak kakinya yang tidak beralas hingga ke ubun-ubun.


"Tidak bisa..." Tolak Duta keras.


"Saya mohon, tolong... Apa pun akan saya lakukan untuk membalasnya nanti..." Pinta gadis itu terus memelas. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya yang gemetaran.


Duta masih jengkel. Ia hanya menatap gadis itu dengan sinis. "Aku sedang terburu-buru... Adikku sakit dari semalam, dan aku baru pulang dari luar kota..."


Gadis itu menoleh ke belakangnya, lalu bergegas masuk ke dalam mobil Duta tanpa izin.


"Heeeeyyy..." Teriak Duta seraya menyusul gadis itu ke dalam mobilnya.


"Aku dalam bahaya, tolonglah... Aku do'akan adikmu baik-baik saja... Sekarang tolong aku dulu..." Pinta gadis itu berlinang air mata.


Duta menjadi iba. Ia juga melihat beberapa orang tak dikenal sedang mengejar gadis itu.


"Kemana?" Tanya Duta sembari melajukan mobilnya. Ia ikut panik melihat kecemasan di wajah gadis tak dikenalnya itu.


"Entahlah, yang penting jauh dari sini, juga jauh dari mereka..." Jawab gadis itu di sela-sela tangisnya.


Setelah cukup jauh, gadis itu meminta Duta memberhentikan mobilnya.


"Ini dimana?" Tanya Duta mulai terdengar peduli.


"Aku juga tidak tahu... Yang penting mereka sudah kehilangan jejak ku..." Jawab gadis itu dengan tenang.


"Mereka siapa? Mengapa mereka mengejar mu? Kamu tidak melakukan kesalahan, kan?" Duta melirik gadis itu seolah mencurigai.


"Jika aku ceritakan, kamu tidak akan punya cukup waktu... Tapi, yang jelas aku bukan perampok ataupun maling..." Jawab gadis itu. "Aku sangat berterimakasih kepadamu... Hari ini Tuhan mengirimkan kamu sebagai penyelamat hidupku... Sesuai janjiku, aku akan membalasnya suatu hari nanti... Aku hapal plat nomor mobil ini..."


Gadis itu keluar dari mobil Duta.


"Hey tunggu... Namamu siapa?" Tanya Duta setengah berteriak.


Gadis itu menoleh kembali. "Pandan..."

__ADS_1


Duta terpana melihat senyum di wajah pucat itu. "Cantik..." Ucapnya terkagum-kagum.


****


"Ini bukan mimpi... Ini sungguh kenyataan... Aku sedang tidak bermimpi... Sora benar-benar ada untuk kali ini... Tuhan, terimakasih... Terimakasih sudah mengabulkan permintaanku..."


Dalvin berjalan perlahan kearah Soraya. Matanya tak berkedip sama sekali memandangi wajah istrinya yang cantik dan nyata. Bukan halusinasinya, dan ia sangat yakin.


Soraya juga sama. Tatapannya melekat pada pada mata Dalvin yang memerah, tanpa ia sadari bibir Dalvin terus menyebut namanya.


Ia bingung, kenapa lelaki ini ada di rumah sahabat mamanya, dan menatapnya dengan tatapan penuh makna. Ia bergeming di posisinya tanpa menyadari bahwa tubuh Dalvin telah berada dekat di hadapannya.


"Sora..." Tangan Dalvin menggamit pipi Soraya. Ia begitu emosional mendapati kenyataan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.


Sandra dan Dean menatap takjub kepada mereka yang dipertemukan kembali dalam kebetulan seperti ini. Sementara Angkasa dan Raya hanya menatap mereka dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar.


Dalvin mengambil kedua tangan Soraya, lalu ia letakkan di wajahnya, dan Soraya mengikuti alur yang diciptakan oleh suasana di antara mereka berdua. Ia memejamkan matanya, kembali ke masa ia hanya bisa meraba untuk mengetahui sesuatu.


Soraya semakin terhanyut oleh perasaannya. Dadanya kembang kempis menahan diri dari cengkeraman rasa rindu yang membuatnya tiba-tiba dilema.


"Apa Danesh putra kita?" Tanya Dalvin terdengar gaung.


Soraya mulai tersentak, lalu membuka matanya lebar-lebar. Ia mendorong keras dada Dalvin dari hadapannya. Ia menggeleng, menatap Dalvin penuh kebencian.


"Sora, ada apa ini?" Tanya Raya masih dalam keterkejutannya.


Soraya tak menggubris pertanyaan mamanya. Ia membalikkan badannya segera mungkin, menepis beberapa kali tangan Dalvin yang berusaha menahannya.


"Sora, tolong dengar penjelasan dariku dulu..." Pinta Dalvin mengiba.


"Soraaa..." Kali ini Dalvin menahan lebih keras. Ia bersikukuh untuk tidak melepaskan lagi istrinya yang pernah hilang dan membuat hidupnya hampa.


"Lepaskan aku..." Ucap Soraya tanpa sedikitpun mau menoleh ke wajah Dalvin.


"Aku pernah melepas mu, Sora, dan aku menderita setelahnya... Tapi tidak untuk kali ini, aku akan terus memperjuangkan kamu..." Jawab Dalvin tegas.


"Menderita katamu? Seperti aku kah yang mengemis memintamu kembali waktu itu? Atau seperti diriku yang terus merasa terbunuh rindu setiap kali aku memikirkan tentangmu? Bahkan sampai aku melangkah ke dalam rumah ini, suaramu masih menggema di sekelilingku..." Ketus Soraya sambil menepis tangan Dalvin.


"Lebih... Aku merasakan lebih dari itu, Sora... Mungkin ini terlambat, tapi tiada kata terlambat untuk perasaan cinta, Sora... Aku mencintaimu..." Ucap Dalvin sambil menahan bahu Soraya kembali.


Soraya menggeleng. "Siapa bilang tiada kata terlambat? Kamu bahkan jauh tertinggal, di saat aku telah berada di titik kuat dalam melupakanmu..."

__ADS_1


"Sora..." Dalvin memelas.


"Lepaaaaass..." Teriak Soraya membuat Danesh yang berada di dalam gendongannya terkejut dan segera memeluk erat lehernya.


Menyadari ketakutan di wajah putranya, Soraya mempererat pelukannya ke tubuh mungil Danesh. Ia mengusap-usap punggung anaknya itu dan segera keluar dari rumah Dalvin.


"Ayo, Ma, Pa...!" Seru Soraya pada kedua orangtuanya.


Dalvin tak menyerah. Ia terus mengejar dan menahan Soraya, namun kali ini istrinya itu berbeda. Keras kepala dan lebih berani dari terakhir kali mereka bersama.


Raya dan Angkasa mengikuti kemauan Soraya. Mereka tak lagi bertanya, mungkin tidak untuk sekarang. Sementara Sandra berniat hendak membantu Dalvin menahan Soraya. Ia ingin menjelaskan segala sesuatunya kepada istri dari anak tirinya itu, namun Dean menahannya dan menggelengkan kepala.


Sesampainya di luar rumah, Soraya berpapasan dengan Duta. Kakak tiri suaminya itu tampak terkejut dengan kehadirannya disana.


"Sora?" Duta hanya menatap Soraya dari posisinya, dan tiba-tiba Dalvin tak sengaja menyenggol bahunya.


"Sora, dengarkan aku dulu... Sora, aku mohon..." Ucap Dalvin getir.


Berkali-kali Dalvin menggedor kaca mobil yang dinaiki Soraya, namun istrinya itu tetap pada pendiriannya, melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah kediaman Fernando hingga Dalvin tersungkur disana.


Duta yang menyadari ada sesuatu yang telah terjadi, segera mendekat dan menahan tubuh Dalvin. Adiknya itu benar-benar terlihat cengeng dan menyedihkan.


"Tenang, Vin... Sora butuh waktu..." Ucapnya.


"Aku sudah tidak kuat... Aku ingin dia kembali, mendengar penjelasan ku, penyesalanku dan semua yang telah aku lalui tanpanya..." Ujar Dalvin dengan tubuh yang bergetar menahan tangis.


"Aku yang telah mengacaukannya, maka izinkan aku untuk menyelesaikannya kembali..." Pinta Duta terdengar tulus.


Dalvin menoleh ke wajah Duta penuh harap. "Jika tentang Sora, aku sulit untuk mempercayaimu..."


Mendengar ucapan Dalvin, Duta terlihat kecewa dan merasa bersalah.


"Tapi tidak ada yang salah dari kita tiga tahunan ini... Please, Kak... Please, bantu adikmu ini..." Lanjut Dalvin memelas.


Duta tersenyum. Ia mengangguk, lalu memeluk Dalvin dengan erat. Di pintu rumah, kedua orang tua mereka melihat mereka dengan tatapan haru sambil merangkul satu sama lain.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2