MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
30. Masa Silam


__ADS_3

Selepas pulang kantor, Dalvin sekarang memiliki pekerjaan tambahan. Ia menjadi driver online dari jam lima sore hingga sepuluh malam. Dan sejak saat itu ia juga memutuskan agar tidak lagi bertemu Amira.


"Semoga saja tidak..." Ucapnya sambil bermohon.


Aku bukan lelaki yang mudah perasa, tapi kenapa terhadap Soraya tidak berlaku? Dia membuatku tersentuh oleh segala sikapnya... Dia begitu tegar dan kuat dalam menghadapi kekurangan yang ia miliki...


Di saat aku jadi dirinya, aku bahkan memilih untuk mati saja walau menanggung semenit tidak melihat dunia...


Aku tidak sanggup...


Tiba-tiba Dalvin menangkupkan wajahnya ke stir mobil. Ia seperti sedang menyembunyikan tangisnya untuk sesaat.


"Jika aku bertemu orang itu, aku akan balas jasanya... Kenapa dia begitu baik? Padahal aku hampir saja mencelakainya..." Gumam Dalvin.


Ia hanyut ke masa silam, dimana dirinya hampir saja kehilangan nyawanya sendiri akibat kecelakaan yang pernah ia alami.


^^^^


Klakson panjang yang ia bunyikan, membuat seseorang yang melintas di depannya terkejut dan bergeming sambil menutupi wajah.


Ia panik dan berusaha membelokkan stir mobilnya kearah kiri jalan hingga ia sendiri menabrak tembok pembatas jalan disana.


Dentuman keras terdengar. Semua terasa ngilu di sekujur tubuhnya. Ia mendadak kaku dan sulit bergerak.


"To-looong..." Ucapnya berusaha berteriak. Namun tidak satupun ada yang mendekat, karena memang sudah hampir tengah malam dan jalanan begitu sepi.


Tidak lama, seseorang datang mengulurkan tangan dan berusaha menggapai dirinya yang kesakitan di dalam mobil.


"Bertahanlah..." Ucap orang itu. Samar-samar sebelum tidak sadarkan diri, ia melihat perempuan yang kesulitan menarik lengannya untuk keluar.


Entah telah berapa waktu sejak ia koma, namun ketika ia mulai sadar, ia begitu syok. Semuanya gelap. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Ia hanya mampu mendengar percakapan papanya dengan seseorang yang ia yakini adalah dokter.


"Cangkok kornea mata bisa membantu anak Tuan untuk dapat melihat kembali, hanya saja sangat sulit untuk mendapatkannya sekarang..." Ucap dokter itu.

__ADS_1


Dalvin terkejut. Ia sangat yakin jika yang dibicarakan oleh dokter itu adalah dirinya sendiri. Karena saat itu ia merasa dirinya bagai berada di alam mimpi, bukan di alam nyata. Ia tidak bisa melihat apapun.


Ia sudah sadar, tapi ia terus berpura-pura tidak sadar. Ia tidak ingin meyakini dirinya bahwa ia sedang mengalami kebutaan. Ia terus memejamkan matanya walau selelah apa pun ia bertahan di atas tempat tidur rumah sakit Itu.


"Dalvin, Papa tahu kamu sudah siuman... Bangunlah..." Harap Dean Dengan suara yang begitu lunak. Mungkin karena ia tahu kenapa putranya melakukan hal itu.


"Dalvin, Papa akan melakukan segalanya, percayalah..." Ucap Dean terdengar rapuh.


Dalvin tetap tidak bergeming. Ia masih kekeh untuk tidak menggubris apapun.


Lewat Indra pendengarannya, Dalvin merasakan papanya melangkah pergi. Ia kesal, kenapa ia tidak mati saja, dan malah harus berakhir pada kebutaan seperti ini?


Beberapa kali Duta datang, juga hanya untuk mengejek dirinya.


Dasar kakak tiri tidak punya hati... Ia seringkali mengumpat Duta seperti itu dalam hatinya. Ia tidak hanya berpura-pura tidak sadarkan diri selama keluarganya datang, melainkan ia juga harus berpura-pura tuli.


Tidak lama menanggung kebutaan, Dalvin akhirnya mendapatkan kornea mata. Hanya saja papanya tidak mau mengatakan siapa yang sudah memberikan dirinya kesempatan untuk melihat lagi.


"Bersyukur saja karena kamu sudah dapat melihat lagi... Lain kali kamu harus lebih nurut pada orang tua..." Tambah Dean membuat Dalvin jengkel.


Padahal dirinya hanya mau mengucapkan terimakasih kepada orang baik itu, atau mungkin memberikan santunan sebagai imbalannya.


^^^^


"Untung aku bertemu Soraya, jadi, aku merasa kalau aku selalu membalas kebaikan orang itu. Dan apa yang dirasakan Soraya, jauh lebih sulit dari apa yang pernah aku alami..." Dalvin tersenyum. Hal yang ia pikirkan saat ini, membuat ia semakin bersemangat melakukan apapun untuk Soraya.


Malam ini ia pulang tepat pukul sepuluh malam. Ia mematikan aplikasi usai mengantar penumpang yang sangat jauh. Ia rasa sudah cukup lelah hari ini. Belum lagi pekerjaan kantor membuat ia semakin pusing.


"Kenapa kamu selalu menunggu? Kamu tidak mengantuk?" Tanya Dalvin ketika masih menemui Soraya sedang duduk di sofa tengah.


"Aku bahkan bisa tidur siang, bagaimana bisa aku cepat lelah sepertimu?" Balas Soraya sembari tersenyum.


"Apa karena kamu merindukan aku?" Ledek Dalvin sambil tersenyum-senyum.

__ADS_1


"Apa? Rindu? Kamu tidak salah?" Kilah Soraya memaksakan diri untuk tidak terbawa perasaan.


"Sudahlah, jujur saja..." Desak Dalvin. Ia bahkan belum menyatakan cinta, tapi ia malah membuat Soraya kesemsem oleh godaannya.


"Tidak mungkin, Dalvin... Aku hanya mencemaskan kamu saja... Kalau ada apa-apa, aku terlalu repot dibandingkan istri-istri yang matanya masih bisa melihat..." Omel Soraya.


Dalvin tidak melanjutkan gurauannya. Mendengar ucapan Soraya membuat hatinya cepat luluh.


"Aku punya sesuatu untukmu..." Ucap Dalvin seraya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari cover bag yang memang sedari tadi ia jinjing ke dalam rumah.


"Apa itu?" Tanya Soraya tampak ceria.


"Ponsel... Kamu pasti membutuhkan ini...," kata Dalvin sambil memberikan benda pipih itu langsung ke tangan Soraya.


Soraya terlihat sendu. "Kenapa harus ponsel? Kamu kan tahu aku tidak bisa melihat. Jadi, untuk apa?"


"Jangan kira ponsel hanya untuk orang yang bisa melihat, Sora… Layaknya kamu khawatirkan aku, begitu juga sebaliknya…. Kamu tenang saja, aku sudah setel ponsel ini…." Dalvin mendekat duduk di samping Soraya, lalu mengambil tangan Soraya dan ditekankannya ke layar ponsel itu


"Kamu tekan sidik jarinya terlebih dahulu. Jika kamu tekan layar sebelah kiri, kamu akan meneleponku. Jika sebelah kanan, kamu akan menyetel musik… Mana tahu kamu suntuk di rumah sendirian. Dan jika ada panggilan masuk, kamu tinggal geser yang tengah bagian bawah ke atas..." Jelas Dalvin dengan sabar.


Soraya tersenyum, lalu mengangguk mengerti.


"Dan jangan lupa, jangan lupa…" Ucap Dalvin sambil tersenyum memandang ke wajah Soraya.


"Apa?" Tanya Soraya cepat.


"Jangan terlalu sering memencet bagian kiri walau serindu apa pun kamu terhadapku, karena aku sangat sibuk…." Gelak Dalvin terdengar jahil.


"Apa sih? Jangan mulai ya...." Sungut Soraya dengan memasang wajah jengkel.


Dalvin semakin tergelak. "Tidurlah dahulu, aku akan mandi...."


Dalvin segera bangkit untuk menyudahi gurauannya. Ia tidak ingin terbawa perasaan sendiri melihat wajah Soraya yang telah bersemu merah oleh kata-katanya.

__ADS_1


__ADS_2