
Raya dan Angkasa terus menatap cucu mereka yang baru terlahir dari balik kaca inkubator. Ada air mata bahagia yang terlihat di balik senyum mereka berdua.
"Pa..." Panggil Raya tanpa menghentikan pandangannya kepada bayi mungil itu.
"Ummm..."
"Apa kita harus merubah panggilan kita?" Tanya Raya membuat Angkasa menoleh cepat kepadanya.
"Maksud, Mama?"
"Kita kan sudah punya cucu, Pa... Bagaimana sekarang kita panggil Oma dan opa?" Usul Raya terlihat begitu bersemangat.
"Hah?" Angkasa mengernyitkan dahinya.
"Iya, Opa..."
"Jangan aneh-aneh ya, Ma... Biar cucu kita saja yang panggil kita dengan sebutan itu..." Gelang Angkasa terlihat geli mendengar ucapan Raya.
"Tapi, Pa..." Raya bersungut-sungut.
"Pokoknya No..." Angkasa menggerak-gerakkan jari telunjuknya seolah menolak keras ide Raya.
Raya cemberut. Ia kembali menoleh kepada cucunya.
"Pa..." Panggil Raya lagi.
"Apa lagi, Ma? Jangan aneh-aneh..." Sahut Angkasa terdengar menggerutu.
"Mama kok ngerasa wajah cucu kita ini mirip seseorang yang kita kenal, ya, Pa? Rasanya kita sudah pernah melihat wajah cucu kita ini sebelumnya..." Ujar Raya sambil terus menatap lekat wajah bayi yang masih merah itu.
"Masa sih, Ma...?" Angkasa menatap lekat wajah cucunya untuk memastikan ucapan Raya.
"Coba deh Papa lihat..."
Angkasa terdiam sesaat. "Mirip Sora kita masih bayi sepertinya, Ma..."
"Cucu kita kan laki-laki, Pa... Harusnya bukan mirip Sora..." Protes Raya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah bayi mungil itu.
"Sudahlah, Ma... Dimana-mana wajah bayi itu belum bisa dibilang mirip siapa-siapa... Mama ini..." Gerutu Angkasa. "Ayo kita temui Sora..."
Raya menurut sambil mengoceh tak karuan. Ia merasa belum puas memandangi wajah cucunya.
__ADS_1
Soraya tampak murung, seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Raya dan Angkasa beradu pandang sesaat sebelum memutuskan untuk mendekati putri mereka.
"Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa, Sayang... Mama dan Papa percaya kamu sepenuhnya. Setelah kamu dan bayimu membaik, kita akan kembali ke rumah..." Ucap Angkasa sambil merangkul bahu Soraya.
"Mama tidak akan pernah berpikir untuk terus menjodohkan Sora lagi, kan?" Tanya Soraya penuh harap sambil menatap lekat wajah mamanya.
Raya terdiam. Ia menoleh kepada Angkasa untuk meminta jawaban dari pertanyaan Soraya. Hatinya menolak, namun kenyataan pada Soraya membuat ia harus menyerah dan mengubur dalam keinginannya itu.
"Mulai dari sekarang hidup kamu, kamu yang menentukan sendiri, Nak... Papa dan mama akan selalu percaya setiap keputusan yang kamu ambil... Papa juga tidak pernah menyesali akan kehadiran anggota baru dalam keluarga kita... Cucu Papa akan mendapatkan tempat yang layak di hati Papa dan Mama..." Tutur Angkasa sambil merangkul Soraya.
Soraya tersenyum. Ia memeluk mamanya dengan air mata yang tak tertahankan. "Terimakasih, Ma, Pa... Sampai detik ini, Sora belum juga mampu jadi kebanggaan Mama dan Papa..."
Angkasa membelai lembut kepala Soraya. Ada napas berat yang ia keluarkan untuk merasakan kelegaan setelah berbulan-bulan lamanya mereka merasakan sesak.
****
Waktu terus berlalu. Dalvin benar-benar telah menerima rasa penyesalan Duta dan kedua orangtuanya. Ia memang terlihat bahagia dengan suasana baru dalam keluarganya, namun tidak bisa ia pungkiri bahwa ia masih sangat merindukan Soraya.
Tiga tahun berlalu, Dalvin sudah mulai aktif kembali ke dalam bisnis. Ia berkali-kali mengadakan perjalanan keluar kota untuk pekerjaannya, dan sudah beberapa proyek yang berhasil ia kembangkan.
"Vin, hari ini Papa ada pertemuan bersama klien di Restoran House Seafood. Tapi ini mengenai proyek yang sedang kamu rencanakan, bisakah kamu gantikan Papa? Mama kamu ada reunian dadakan yang perlu Papa temani..." Pinta Dean.
Sebelum menyahut, Dalvin menoleh ke Duta yang berada di sampingnya untuk meminta saran dan Duta segera menurunkan tangannya yang hendak menyuap makanan.
"Sekalian saja... Memangnya jam berapa, Pa?"
"Aku jam sembilan harus keluar kota, Vin... Paling besok sore bisa kembali. Kalau tidak percaya, lihat ini..." Potong Duta cepat sebelum Dean menjawab pertanyaan Dalvin. Ia menunjukkan ponselnya ke hadapan Dalvin tentang bukti perjalanannya hari ini.
"Kamu keberatan? Ada pekerjaan lain?" Tanya Sandra dengan hati-hati.
"Nggak, Ma... Mana tahu Duta free, mungkin dia bisa menyelesaikannya dengan lebih baik..." Jawab Dalvin.
"Sama saja... Kamu lebih handal jika tentang proyek ini, Vin..." Sela Duta sambil menyikut kecil bahu Dalvin.
Sesuai permintaan papanya, Dalvin siang ini menemui klien di Restoran House Seafood. Melihat menu di restoran itu, ia menjadi semakin teringat akan istrinya. Permintaan Soraya yang ia kabulkan sebelum matanya dioperasi.
Usai membicarakan tentang pekerjaan, Dalvin memesan makanan dengan berbagai macam menu seafood.
Mata Dalvin memerah dan berkaca-kaca. Kenangan bersama Soraya menari di benaknya, membuat jantungnya berdegup kencang dan hati yang merasa tersakiti karena rindu.
"Anda seperti sedang menikmati makanan ini, Tuan..." Ucap kliennya yang ikut menyantap makanan itu.
__ADS_1
"Kata papa saya, mendiang mama saya sangat menyukai ini, Tuan..." Jawab Dalvin tidak sebenar di hatinya.
Klien itu mengangguk-angguk seolah mengerti perasaan Dalvin.
"Emmm... Ada satu poin yang bisa kita tambahkan, Tuan..."
Dalvin menoleh pada kliennya untuk mendengar dengan seksama.
"Bagaimana pada ground breaking nanti kita buat menu seafood, mungkin bisa mengobati rasa rindu Anda kepada sang mama?" Usul klien itu.
Dalvin tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum. "Terimakasih, Tuan... Ini suatu kehormatan bagi saya..."
Usai meeting, Dalvin bergegas mengantarkan kliennya sampai ke parkiran. Sepeninggal kliennya, tak sengaja seorang bocah laki-laki berlari dan menabrak lututnya.
"Astaga..." Ucap Dalvin sambil menahan kepala bocah itu. Dalvin berjongkok di depannya, lalu memandangi wajah bocah itu. Darahnya berdesir. Ia terpana bagai tersengat lebah, dan jantungnya berdegup kencang.
"Paman..." Panggil bocah itu dengan suaranya yang lucu, membuat Dalvin semakin terhipnotis oleh gerakan tangan dan bibinya. Matanya yang indah kecoklatan dan alisnya yang tebal.
Dalvin tersentak dan mulai mengambil kesadarannya dengan perlahan-lahan.
"Hey, bocah..." Sapa Dalvin sambil memamerkan senyumnya yang lebar. Hatinya merasa tenang melihat wajah mungil itu bergaya di hadapannya.
"Tenapa paman teyus bediyi dicini? Atu mau ewat..." Celoteh bocah itu.
"Owh... Maaf, Sayang..." Jawab Dalvin sambil tertawa dan mencubit kecil pipinya.
"Kamu anak siapa? Kenapa manis sekali?" Tanya Dalvin tanpa berniat melepas bahu balita itu.
"Mama atu uga manis..." Celoteh bocah itu.
Dalvin tergelak.
"Daneeeshh...!"
Mendengar seruan itu, sang bocah dan Dalvin menoleh dengan cepat kearah orang yang memanggil. Dalvin terperangah, ia bahkan sampai tak berkedip sama sekali, lalu perlahan-lahan berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari orang yang memanggil nama bocah itu.
.
.
.
__ADS_1
.