MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
12. Berbelanja


__ADS_3

Dalvin terbangun ketika pagi. Tidur menelungkup di atas lantai, membuat ia terbangun dalam kelelahan.


Sejak ia tertidur dengan amarah semalam, baru kali itu ia tersentak, dan itu pun karena paparan Matahari langsung yang menyinari wajahnya.


Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Sungguh berantakan. Dalvin bangkit dengan malas, lalu berjalan gontai kearah kamar mandi.


Sisa-sisa rasa sakit semalam masih bersarang di dadanya. Ia kesal, mengapa ia masih saja memikirkan Amira.


Dalvin mengguyur sekujur tubuhnya yang masih berbalut pakaian semalam di bawah shower, berharap Amira akan hanyut bersama air di tubuhnya.


Kedua tangannya bertumpu ke dinding, lalu memejamkan mata dan menghadapkan wajahnya ke atas. Siraman air langsung jatuh ke wajahnya yang kusut dan terlihat sedikit menyembab.


Usai mandi, Dalvin membereskan kamarnya kembali. Tidak sampai setengah jam, kamarnya telah rapi kembali.


Dalvin memang menjadikan rumahnya hanya sebagai persinggahan di malam hari, sementara siangnya ia akan keluyuran kemana-mana ia suka.


Pagi itu hatinya membawa dirinya ke rumah Rio. Ia ingin bersama Soraya, mungkin itu lebih baik baginya. Sebab, bersama Soraya ia tidak memikirkan yang lain-lain karena kekhawatirannya terhadap gadis malang itu.


"Tumben datangnya pagi-pagi?"


Ya, dia tidak biasa datang pagi-pagi begini, tapi yang membuat ia merasa terbiasa, merasakan sentuhan jemari Soraya di wajahnya setiap kali ia datang ke rumah itu.


"Aku ingin mengajakmu keluar..." Ucap Dalvin. Kedatangannya kali ini tidak disambut berbagai kerepotan. Soray tampak telah fasih dengan seluk beluk dan seisi rumah. Bahkan, ia disuguhkan secangkir teh hangat oleh gadis buta itu.


"Kemana?" Tanya Soraya. Ia terlihat keberatan, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu.


"Gimana kalau kita ke pasar? Kita belanja bersama untuk kebutuhanmu di rumah ini..." Usul Dalvin bersemangat.


Benar. Ia tampak melupakan permasalahan hatinya semalam. Ia terlihat begitu fresh dan lebih enjoy.


"Apa kamu yakin mengajakku keluar?" Tanya Soraya merasa rendah diri.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Aku buta... Kamu tidak malukah? Nanti apa kata orang-orang?" Soraya merasa terpojok oleh ucapannya sendiri.


"Kamu tahu tampangku bagaimana?" Dalvin balik bertanya, membuat Soraya bingung lalu menggeleng-gelengkan kepala.


"Aku ini hitam, jelek, berjerawat, gigiku tonggos, mataku besar..."


"Sudah, sudah... Jangan mengarang cerita, ya... Aku bisa merasakan kulitmu halus, dan gigimu tidak tonggos...Lalu bagaimana mungkin kamu berjerawat, hah?" Rutuk Soraya merasa Dalvin berniat mengibulnya.


"Upsss..." Dalvin menahan tawanya, sementara Soraya terlihat cemberut karena ulahnya itu.


"Lagian, siapa yang peduli dengan keadaanmu, Sora... Aku mengajakmu ke pasar, dimana orang-orang tidak mengenal kita. Jadi, apa peduli kita dengan omongan orang yang tidak kita kenal? Bukankah baru kemarin aku mengatakannya kepadamu? Kamu tidak ingatkah?"


Dalvin memegang bahu Soraya. Ia tahu, jika hanya sekedar menatap wajah gadis itu, semua akan percuma. Soraya tidak akan mengerti dengan ketulusan ucapannya.


"Bersiaplah, aku akan meminum teh buatanmu ini..." Perintah Dalvin.


****


Dalvin berjalan sambil menggandeng tangan Sora, walau gadis itu masih menggunakan tongkatnya.


Banyak pasang mata di sekeliling mereka yang memerhatikan. Dan banyak pula yang berbisik-bisik sesama mereka.


"Beruntung sekali perempuan buta itu... Suaminya begitu tampan, namun masih tetap berada di sisinya..."


"Meski cantik, tapi gadis itu buta... Salut sama pasangannya. Padahal, dia bisa saja mencari perempuan cantik lainnya..."


"Ya ampuuun... Andai gadis itu tidak buta, pasti mereka pasangan yang sangat serasi... Tapi salut buat lelakinya yang bisa menerima keadaan si wanitanya..."


Bla... Bla... Bla...

__ADS_1


Banyak omongan orang-orang yang mereka berdua dengarkan, namun genggaman Dalvin semakin menguat ke tangan Soraya. Entah mengapa, ia tidak ingin gadis itu berkecil hati karenanya.


"Kita akan membeli pakaian untukmu..." Ucap Dalvin seraya menuntun Soraya ke tempat penjualan pakaian wanita.


"Untuk apa? Itu tidak perlu, Vin..." Tolak Soraya merasa sungkan.


"Aku hanya menemukan beberapa helai saja pakaianmu di rumah. Dan kamu butuh lebih dari itu. Aku juga tidak melihat pakaian dalammu, kecuali sepasang yang basah di kamar mandi..." Bisik Dalvin ke telinga Soraya.


"Dalviiin..." Wajah Soraya memerah. Ia tidak menyangka Dalvin bisa tahu akan hal itu. Ia sangat malu.


"Jadi, jangan menolak..." Tegas Dalvin.


"Uangmu bisa habis... Bukankah kamu tidak bekerja?" Ucap Soraya merasa khawatir.


"Kamu tenang saja... Orang tuaku kaya tujuh turunan..." Jawab Dalvin percaya diri.


"Tapi..."


"Jangan protes... Kita sudah berada di toko baju sekarang..." Bisik Dalvin.


"Jangan mahal-mahal, Vin..." Ucap Soraya semakin merasa tidak enak hati.


Dalvin memilihkan beberapa helai pakaian harian untuk Soraya lalu setengah-setengah lusin **********. Namun ketika ia hendak membayarnya, tak sengaja ia melihat sebuah gaun yang terpajang di sudut toko.


"Saya mau yang itu..." Ucap Dalvin ke penjaga toko sambil menunjuk kearah manikin yang dipakaikan gaun itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2