
Duta tengah berada di rumah sakit tempat Dalvin membawa Soraya tadi. Ia tidak sengaja melihat Dalvin dan Soraya keluar dari ruangan dokter yang pernah menangani adik tirinya itu.
Rasa ingin tahunya muncul sehingga ia juga menemui dokter yang sama setelah urusannya di rumah sakit itu selesai.
"Anda datang kemari untuk menemani tuan Dalvin dan istrinya juga, Tuan?" Tanya Dokter itu.
"Ini suatu kebetulan, Dok... Saya tidak sengaja melihat Dalvin keluar dari ruangan ini tadi..." Ucap Duta.
"Jadi, begitu rupanya ... Hari ini sungguh banyak yang kebetulan, dan saya merasa takjub karenanya..." Sahut dokter itu.
"Ada perlu apa dia bersama istrinya datang kemari, Dok? Apa mereka mau cek kehamilan?" Tanya Duta berusaha menahan diri untuk tidak terlihat ikut campur dan ingin tahu urusan adik tirinya di hadapan dokter itu.
"Oh, mereka sama sekali tidak membahas tentang kehamilan, Tuan... Tuan Dalvin tadi hanya mengantarkan istrinya untuk periksa mata saja... Saya benar-benar tidak percaya bahwa mereka telah menikah, padahal dulu tuan Dalvin sangat ingin sekali bertemu dengan pendonor matanya..." Papar sang dokter.
"Maksud, Dokter?" Dahi Duta mengernyit.
"Apa Anda juga tidak tahu akan hal itu, Tuan? Emmm maksud saya tentang siapa sebenarnya istri tuan Dalvin?" Tanya dokter keheranan.
"Memangnya siapa dia, Dok? Saya sama sekali tidak tahu..." Duta penasaran. Ia terus menggali informasi tentang Soraya kepada dokter di hadapannya.
"Dialah istri pemilik mata yang diterima tuan Dalvin dulu... Dan ternyata, suaminya itu juga merupakan sahabat tuan Dalvin..." Tutur Dokter begitu berambisi menceritakan semuanya kepada Duta.
Duta tercengang. "Dia... Emmm maksud saya Dalvin tahu itu, Dok?"
"Beliau juga baru tahu setelah saya ceritakan tadi tadi, Tuan... Saya sangat terharu sekali..." Ucap Dokter itu sambil tersenyum kagum.
"Jadi, bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok...? Apa mata adik ipar saya bisa disembuhkan?" Tanya Duta lagi.
"Kemungkinan besar bisa, Tuan... Beruntung sekali tuan Dalvin membawa istrinya dengan cepat kemari... Kami akan mengusahakan agar bisa berkomunikasi dengan keluarga pasien kritis di rumah sakit ini jauh-jauh hari... Sebab, mencari pendonor itu gampang-gampang sulit sebenarnya, apalagi pihak keluarga tidak memberi izin organ tubuh pasien didonorkan kepada orang lain..." Papar sang dokter menjelaskan.
Duta mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti. Namun di dalam benaknya ia memikirkan hal lain. Hatinya masih terpaut dengan Soraya, ditambah lagi ia begitu dendam dengan perkataan Dalvin terakhir kali.
****
__ADS_1
Dalvin masih tak percaya bahwa ia dapat melihat kembali karena kerendahan hati istrinya. Dalam perjalanan pulang, ia tidak henti-hentinya memandangi wajah Soraya. Hatinya perih, berkecamuk, dan bercampur aduk. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya setelah mengetahui kenyataan tentang Soraya.
"Apa mataku bisa disembuhkan?" Tanya Soraya memecahkan keheningan di antara mereka.
"Pasti bisa, Sora... Aku akan mengusahakannya..." Ucap Dalvin berusaha meyakinkan Soraya. Dia juga mengatakan hal itu untuk dirinya, bahwa ia sangat ingin Soraya dapat melihat lagi.
Mereka sampai di rumah, dan Dalvin memperlakukan Soraya dengan begitu istimewa, lebih dari pada biasanya.
"Besok aku masih punya cuti, kamu mau aku ajak kemana?" Tanya Dalvin dengan lembut.
"Kita di rumah saja... Kamu selama ini sudah menghabiskan waktumu di kantor dan di jalanan... Harusnya waktu cuti seminggu ini kamu gunakan untuk istirahat..." Jawab Soraya.
Soraya terlihat canggung. Ia bisa merasakan perubahan sikap Dalvin kepadanya. Namun ia tidak tahu mengapa Dalvin begitu.
"Baiklah, besok kita hanya akan berada di rumah seharian... Layani aku saja... dimulai malam ini..." Bisik Dalvin seraya berjalan ke kamar mandi.
Wajah Soraya memerah. Ia tampak kesal seketika. "Ternyata ada maunya..."
"Sebenarnya Sora bisa saja pergi waktu itu. Dia tidak bersalah, dia buta, dan juga tidak akan ada seorang pun yang bisa menyalahkan dirinya. Tapi kenapa dia lebih memilih menunggu? Kenapa dia lebih memilih untuk mengetahui keadaanku?"
Dalvin kesal. Semakin ia merasa kuat, semakin pula ia merasa dirinya tidak lebih dari seorang pecundang yang sok merasa dibutuhkan.
Ia begitu frustasi mengingat tingkahnya di masa lalu. Cengeng dan mudah berputus asa. Lewat Soraya, ia bisa berkaca diri. Perempuan tangguh meski tidak dapat melihat.
Di luar, Soraya begitu gelisah. Ia merasa Dalvin begitu lama di dalam kamar mandi. Namun dia tak ingin memanggil untuk kali ini. Kejadian terakhir kali cukup membuat dia merasa kapok.
Setelah lama menunggu, barulah pintu kamar mandi terdengar dibuka. Dalvin berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk yang masih melilit pinggangnya. Ia melihat Soraya sedang berdiri menghadap kearahnya. Hatinya kembali perih. Tanpa disadarinya air matanya mengalir begitu saja.
Perlahan ia menghampiri Soraya lalu menatap wajah polos istrinya itu dengan penuh perasaan.
"Da- Dalvin..." Lirih Soraya yang merasakan keberadaan Dalvin di dekatnya.
Dalvin tak tahan. Ia segera menarik tubuh Soraya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Dalvin?" Panggil Soraya dengan raut wajah kebingungan. Bau sabun yang masih melekat di dada Dalvin membuatnya salah tingkah. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Dalvin yang belum mengenakan pakaian.
"Apa yang kamu pilih jika kamu dihadapkan dengan dua pilihan rumit? Aku yang buta, atau kamu yang buta?" Tanya Dalvin terdengar parau.
"Eh?" Soraya yang berada dalam pelukan Dalvin semakin merasa dibuat bingung.
"Jika seandainya kita bertukar posisi, aku yang buta dan kamu yang bisa melihat, apa kamu akan mendampingiku?" Tanya Dalvin lagi.
"Itu tidak mungkin, Dalvin.... Pada kenyataannya akulah yang buta di antara kita... Aku yang selalu membutuhkan kamu... Dan kamu tidak pernah tidak mendampingiku..." Ujar Soraya lirih.
"Misal, Sora... Misal..." Desak Dalvin. Ia melepaskan Soraya dari dekapannya, namun kedua bahu Soraya digamitnya dengan sangat erat. "Tolong deskripsikan kepadaku bagaimana dalam pikiranmu jika pertanyaan itu benar terjadi... Jika aku buta, apa kamu siap menjadi mata untukku?"
Soraya meringis kesakitan. Wajahnya terlihat semakin bertambah bingung dengan tingkah Dalvin. "Kamu menyakitiku, Vin..."
Dalvin tersadar. Ia kembali memeluk Soraya. "Maafkan aku..."
"Ada apa? Kenapa kamu begini?" Tanya Soraya memberanikan diri.
Dalvin menggeleng, lalu melepaskan Soraya kembali. "Mandilah..."
Soraya mundur. Karena panik, bingung dan heran bercampur di dalam dirinya, ia mendadak kehilangan arah. Ia menjadi lupa kemana ia harus melangkah.
Dalvin yang melihat itu segera meraih tangan Soraya, lalu membawanya ke pintu kamar mandi.
Setelah pikirannya kembali, Dalvin membuka ponselnya. Ia mencoba searching di google mengenai seputaran donor mata. "Aku akan menggantikan seluruh kebahagiaanmu yang tertunda selama ini, Sora... Aku janji..."
.
.
.
.
__ADS_1