MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
11. Patah Hati


__ADS_3

Memang tidak lama, tapi cukup membuat Soraya merindu. Ia tidak tahu mengapa ia sangat butuh Dalvin berada di sisinya.


"Memangnya kamu tadi kemana?" Tanya Soraya ketika merasakan wajah Dalvin dengan jemarinya.


"Aku membelikan ini untukmu..." Jawab Dalvin seraya menyodorkan sebuah tongkat kecil sepanjang satu meter ke dalam genggaman Soraya.


"Apa ini?" Tanya Soraya sambil menggenggamnya erat-erat.


"Tongkat. Kamu membutuhkan ini setiap waktu. Ini akan membantumu selama kamu sendiri..." Ucap Dalvin menjelaskan.


Soraya terlihat tidak senang. Dia berpikir, dengan adanya tongkat ini, maka Dalvin tidak akan sering-sering mengunjunginya lagi.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" Tanya Dalvin yang menyadari raut wajah Soraya berubah muram.


"Tidak. Aku senang, ini akan menjadi lebih baik... Dan pastinya, aku juga tidak akan terlalu merepotkanmu lagi, kan?..." Jawab Soraya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Aku akan terus menjaga dan melindungimu, Sora... Percayalah... Tapi setidaknya, selama kamu sendiri, aku tidak akan terlalu khawatir... Meski aku tidak berjanji sebelumnya, tapi aku merasa wajib untuk memenuhi amanat dari Rio..." Ungkap Dalvin.


Soraya hanya mengangguk. Ia juga tidak tahu harus bicara apa untuk mengatakan bahwa ia merasa nyaman akan keberadaan Dalvin di sisinya. Meski pria ini terdengar kasar, tapi setidaknya ia tak sedingin Rio.


"Berdirilah..." Perintah Dalvin.


"U-untuk apa?" Soraya dibuat kebingungan oleh Dalvin.


"Aku akan memberitahumu seluk beluk rumah ini... Jadi, berdirilah... Kita mulai dari sini..." Jawab Dalvin.


Soraya berdiri.


"Gunakan tongkatmu dengan benar..." Dalvin membetulkan posisi pegangan Sora ke tongkat kecil itu.

__ADS_1


"Ketika kamu berdiri begini, empat meter di hadapanmu adalah pintu kamar... Jika kamu menghadap ke kiri, tujuh meter di hadapanmu pintu ke luar rumah. Tapi, jika kamu serong ke kanan, kamu akan berjalan ke arah dapur. Kamu ingat?" Dalvin berusaha menjelaskan arah inti dari posisi Soraya berdiri saat itu.


Soraya mengangguk.


"Sekarang cobalah berjalan kearah mana yang kamu mau... Rumah ini juga tidak terlalu besar, sehingga kamu akan mudah memahaminya..." Ucap Dalvin lagi.


Soraya tampak berpikir sejenak, lalu ia memutuskan untuk menghadap serong ke kanan. Ia menggunakan tongkatnya dengan baik, meraba-raba lantai dengan tongkat itu agar tidak tersandung nantinya.


Tek...


Tongkat kecil itu menyentuh dinding, Soraya terdiam sesaat, lalu ia berusaha mencari ruang. Dalvin tersenyum, sasaran Soraya sangat tepat, gadis itu telah berhasil mencapai dapur.


Dalvin mengikut kesana, dan Soraya seakan mengamati setiap langkah Dalvin yang mendekat kearah dirinya.


"Sekarang kamu sudah ada di dapur, Sora... Kamu ingin tahu apa saja disini?" Tanya Dalvin begitu semangat melihat ambisi di wajah Soraya.


Cukup sekali Dalvin memberitahunya, ia sudah begitu hapal setiap ruangan yang ia pijakj. Ia bahkan menyentuh benda-benda di rumah itu dengan baik.


"Kenapa kamu lebih memilih dapur sebagai tujuan utamamu?" Tanya Dalvin usai mereka berjalan bersama mengelilingi seluk beluk ruangan rumah itu.


"Karena aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan rumah ini, makanya aku tidak memilih pintu keluar..." Jawab Soraya membuat Dalvin terheran-heran.


"Begitu pentingkah Rio bagimu?"


Soraya terdiam. Ia sendiri tidak tahu dengan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Dalvin kepadanya.


"Akhir-akhir ini aku mulai merasa hidup di rumah ini. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, dimana aku merasa mati sepanjang hari. Aku minder..." Ungkap Soraya sendu.


"Tatap masa depan, Sora... Jangan merasa hidup kita hanya akan berada di satu titik saja... Semua akan berubah setiap detiknya, jika kita berjalan kearah yang tepat..." Lagi, Dalvin seolah merasa menasehati dirinya sendiri. Ia bahkan perpikir, siapa yang lebih menyedihkan di antara mereka berdua.

__ADS_1


****


Sepulang dari rumah Rio, Dalvin langsung menuju rumahnya. Tiba-tiba hatinya panas melihat pemandangan di depan matanya.


Duta dan Amira sedang bersama malam itu. Mereka terlihat mesra ketika Amira bersandar di pundak Duta.


Pada saat Duta tak sengaja melihat Dalvin datang, ia malah semakin memanas-manasi dengan merangkul bahu Amira dan mengecup dahinya.


Tangan Dalvin mengepal. Ia tampak murka seakan ingin menarik kerah baju kakak tirinya itu. Namun, ketika ia mengingat kembali pengakuan Amira, ia mengurungkan niatnya.


Ia bergegas ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.


BRAAKKK


Pintu kamarnya ia banting keras-keras. Ia mulai meluapkan amarahnya dengan mengacak acak seluruh isi kamarnya itu. Ia begitu marah kepada dirinya sendiri. Mengapa ia terlalu menjadi budak cinta, sehingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri ketika melihat Amira.


Dalvin lelah. Ia terduduk lesu di lantai dan bersandar ke tepian tempat tidurnya, lalu menjambak rambutnya begitu kuat.


"Apa Amira bukanlah perempuan yang tulus, sehingga ia tidak pernah melirikku sama sekali? Jelas-jelas aku mencintainya melebihi diriku sendiri..." Dalvin bergumam lirih. Hatinya pedih.


Ia benar-benar merasa patah hati, mengingat kebahagiaannya selama ini hanyalah Amira. Semua cerita-cerita dalam hidupnya hanyalah Amira. Namun, gadis itu bahkan tidak pernah sekalipun memihak kepadanya, dan bahkan lebih memilih kakak tirinya yang belum mengenal lama Amira sepertinya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2