
Soraya panik, ia segera membuka handuk di kepalanya, lalu handuk itu ditutupi ke dadanya.
"Dalvin, kamu kah itu?" Tanya Soraya kecemasan.
"Aku baru saja datang, kamu sedang apa?" Dusta Dalvin sambil membelakangi Soraya.
"Tetap di pintu, dan jangan mengintip-ku... Aku mau ganti pakaian..." Perintah Soraya dalam kepanikan.
"Oh... Cepatlah... Aku akan menunggumu disini..." Jawab Dalvin sok acuh.
Soraya meraba-raba tempat tidur mencari pakaian yang telah ia siapkan sebelum mandi. Setelah menemukannya, ia segera ke ruang ganti dengan tergesa-gesa.
Mendengar kasak-kusuk, Dalvin menjadi cemas.
"Jangan buru-buru, nanti kamu bisa terjatuh..." Hardik Dalvin masih tetap memunggungi Soraya. Ia sendiri tidak ingin naif, hanya saja bayangan Rio masih jadi penghalang baginya mendekati Soraya.
Sesampai di ruang ganti, Soraya malah bersandar di dinding sambil memeluk pakaiannya dengan erat.
"Astaga kenapa aku ceroboh sekali? Apa tadi dia melihatku?" Gumam Soraya panik.
Tengah asik melamun, pintu ruang ganti digedor-gedor Dalvin dari luar.
"Cepatlah, Sora... Tadi aku membelikan burger untukmu..." Seru Dalvin.
"Iya, sebentar..." Sahut Soraya dengan cepat-cepat memakai pakaiannya.
Di kamar, Dalvin meletakkan dua burger itu ke meja lalu ia bersiap untuk mandi. Sementara Soraya keluar dari ruang ganti dengan rambut basah tergerai hingga ke pinggang.
Sekali lagi Dalvin dibuat terpana. Gadis itu juga memakai kemeja putih miliknya dengan dua kancing baju bagian atas terbuka, sehingga menampakkan garis belah dadanya.
Dalvin terus menatap Soraya dari atas hingga ke bawah. Soraya tidak memakai terusan, sebab kemejanya menutupi tubuh gadis itu hingga ke atas lutut.
Jantung Dalvin berdegup kencang. Mendadak semua sendinya terasa lemah.
"Dalvin..." Panggil Soraya sambil berjalan kearah sofa.
Dalvin tak menyahut. Ia terus memerhatikan Soraya dengan takjub.
"Dalvin, kamu dimana?" Ulang Soraya memanggil dirinya.
"A-aku disini..." Jawab Dalvin tergagap.
"Rambutku basah... Boleh aku sisiran di luar saja?" Tanya Soraya dengan takut-takut.
__ADS_1
"Di balkon saja... Dari posisimu sekarang, kamu balik badan, lalu berjalan sekitar sepuluh langkah. Pintunya tidak terkunci, buka saja..." Tutur Dalvin menjelaskan.
"Baiklah..." Sahut Soraya segera melakukan apa yang diinstruksikan Dalvin kepadanya.
Dalvin belum beranjak ke kamar mandi. Ia masih terus memerhatikan gerak-gerik Soraya. Dan gadis itu telah mencapai pintu balkon.
Ketika pintu dibuka, rambutnya yang masih lembab diayun angin. Soraya tersenyum. Ia melangkahkan kakinya pelan-pelan sambil meraba apa saja yang akan ia lalui.
"Hati-hati, Sora... Aku akan mandi dulu..." Ucap Dalvin setelah merasa bahwa Soraya akan baik-baik saja.
"Ummm..." Sahut Soraya sambil mengangguk dan sedikit menoleh ke belakang.
Soraya menikmati semilir angin senja di balkon kamar. Ia tidak peduli dimana pun, ia merentangkan kedua tangannya seolah ia sedang terbang untuk merasakan kesejukannya.
Ia juga memejamkan kedua matanya agar ia bisa meresapi sejenak kebahagiaan yang diberikan alam semesta untuknya.
Rambutnya yang basah mulai mengering, sehingga angin menerbangkan rambutnya dan menampakkan lehernya yang jenjang dan putih.
Di sisi lain, Duta yang berada di balkon kamarnya pula, tak sengaja melihat Soraya. Ia ikut terpana. Tak sekalipun matanya berkedip melihat kemolekan tubuh istri adik tirinya itu.
"Luar biasa... Cantik..." Gumamnya berdecak kagum.
Rambut Soraya yang dibuai angin, membuat wajah, telinga dan lehernya terlihat jelas dan sempurna.
Amira bahkan tidak ada apa-apanya dibanding Soraya. Tidak peduli Amira merupakan anak direktur perusahaan ternama sekalipun.
Tak lama Dalvin muncul dari dalam kamar dan menemui Soraya.
"Kamu ngapain begitu? Bukannya kamu tadi ingin sisiran?" Tanya Dalvin. Sebenarnya ia hanya telah cukup puas memandangi Soraya dari balik pintu kaca yang transparan.
"A-aku... Aku cuma kesenangan, Vin... Anginnya sejuk sekali..." Jawab Soraya gugup.
"Sini sisirnya..." Pinta Dalvin.
"Sisir? Eee... Aku... Aku belum membawanya..." Jawab Soraya gelagapan. Entah mengapa ia menjadi ketakutan.
"Tunggu disini, aku akan mengambilkannya untukmu..." Ucap Dalvin seraya kembali ke dalam kamarnya.
Dalvin mengambil sisirnya. Baru saja ia akan kembali ke tempat Soraya, ia tiba-tiba menjadi kebingungan.
"Bisakah ia sisiran dengan sisir kecil ini?" Gumamnya sambil membolak-balikkan sisir dalam genggamannya.
"Ah... Seharusnya aku bisa lebih memerhatikan kebutuhan Sora..." Sesalnya.
__ADS_1
Dalvin kembali melanjutkan langkahnya ke tempat Soraya.
"Sisir rambutku sangat kecil... Aku rasa kamu pasti akan kesulitan menggunakannya..." Ucap Dalvin merasa bersalah.
"Tidak mengapa..." Jawab Soraya sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil sisir dari Dalvin.
"Biar aku saja yang menyisir rambutmu..." Pinta Dalvin.
"Tapi..." Soraya hendak membantah.
"Tidak apa-apa... Berbalik-lah..." Perintah Dalvin. Soraya dibuat canggung, namun ia tidak berani membantah lagi.
Dalvin mendekat, lalu menyisir rambut Soraya dengan pelan.
"Apa sakit?"
"Tidak... Rasanya geli... Sisirnya tidak mencapai kulit kepalaku..." Sungut Soraya.
Tangan Dalvin yang sebelahnya mencoba menahan kepala Soraya. Ia takut jika sisirnya Melukai kepala gadis itu.
"Dalvin, aku tidak merasakan apa-apa... Kepalaku malah gatal kamu buat..." Ucap Soraya merenggut.
"Sekarang berbalik-lah kembali..." Perintah Dalvin lagi.
Soraya membalikkan badannya. Jantungnya berdegup kencang ketika wajahnya merasa hembusan napas Dalvin yang begitu dekat.
Tidak berbeda dengan Dalvin, ini pertama kalinya ia menatap Soraya dari jarak dekat sejak mereka menikah.
Dalvin menelan kasar Saliva-nya. Ia terus menatap wajah Soraya, lalu pandangannya menetap pada bibir Soraya yang merapat menahan kegugupan.
Hasratnya ia ingin merasakan kembali bibir istrinya itu, namun sekelebat ia melihat Duta sedang mengamati mereka.
Dalvin segera menarik lengan Soraya ke dalam kamarnya, sehingga Soraya dibuat kebingungan oleh tindakan Dalvin yang mendadak terasa kasar.
.
.
.
.
Terimakasih buat teman-teman yang udah kasih Radetsa kejutan dengan tipsnya... Sungguh Radetsa senang sekali...
__ADS_1
Salam satu layar...🥰🥰