MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
47. Mengundurkan Diri


__ADS_3

Sesuai harapannya, Dalvin terbangun ketika pagi setelah dari sore kemarin tertidur. Namun yang tidak habis pikir olehnya, rasa sakit itu masih sama, dan bahkan lebih.


Ia dengan malas turun dari tempat tidur, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Seperti kebiasaannya, ia akan berdiri di bawah shower dan membasahi dirinya. Berharap dengan itu kepalanya menjadi dingin.


Setelah lama bersemedi di kamar mandi, ia keluar dan bersiap untuk pergi.


Dalvin turun dari kamarnya dan melewati keluarganya sedang sarapan bersama.


"Kamu mau kemana, Vin?" Panggil Dean menghentikan langkahnya. Sementara Sandra hanya membuang muka.


Dalvin membalikkan badannya menghadap ke meja makan. Bukannya menjawab pertanyaan papanya, Dalvin malah melengos kearah bi Yuna.


"Pagi, Tuan Dalvin..." Sapa bi Yuna yang mengerti tatapan Dalvin kepadanya.


"Bi, tolong bereskan kamarku, ya?"


"Baik, Tuan..."


Dalvin kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan papanya yang masih melirik dirinya.


Ia memasuki mobilnya, lalu menghempaskan tas yang ia jinjing ke arah samping. Wajah Soraya kembali menari di pelupuk matanya, hal yang tidak bisa ia bohongi, bahwa ia sangat merindukan istrinya itu.


Dalvin membuang nafas panjang, mengingat sikap papanya yang terlihat tidak peduli sama sekali dengan perasaannya. "Bahkan papa tidak menanyai Soraya..."


Dalvin segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah mewah itu. Hari ini adalah hari pertama ia kembali bekerja setelah seminggu ini cuti. Setibanya di kantor, ia disambut baik oleh pak Dwi.


"Bagaimana liburannya, Vin? Menyenangkan?"


Dalvin hanya tersenyum. Dia ingin sekali mengatakan sangat menyedihkan, namun ia sendiri tahu hari-hari awal begitu membahagiakan.


"Seminggu ku tinggal, semua baik-baik saja, kan, Pak Dwi?" Balas Dalvin berkelakar. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Huffhhh..." Pak Dwi duduk di samping Dalvin. "Semua bagai mimpi buruk, Vin..."


"Mimpi buruk bagaimana, Pak?" Tanya Dalvin lagi mulai serius menanggapi cerita pak Dwi.


"Beberapa orang di PHK tanpa pesangon, dan dua hari yang lalu pegawai mengadakan demo besar-besaran..." Jelas pak Dwi bercerita.


"Ini memang sudah tidak bisa dibiarkan, Pak..." Ucap Dalvin tegas.


"Untungnya anak pemilik perusahaan ini telah kembali dari luar negeri... Dan ia yang akan menggantikan direktur untuk sementara..." Ucap pak Dwi bersemangat.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya... Besok ia akan datang ke kantor ini..." Jawab pak Dwi terlihat begitu sumringah.


"Syukurlah, Pak... Semoga saja perusahaan ini akan lebih baik lagi dan semakin sukses..." Ucap Dalvin sambil merogoh tasnya.


Pak Dwi mengangguk. "Dan tentunya kamu akan saya rekomendasikan untuk naik jabatan, Vin... Kinerja kamu sangat bagus... Kamu itu cocok sekali menyandang status direktur utama perusahaan..."


"Siapa Pak Dwi? Memangnya Pak Dwi bisa melakukan hal itu?" Tanya Dalvin menanggapi ucapan pak Dwi dengan bercanda.


"Ini bukan tentang siapa saya, Vin... Tapi ini tentang siapa Presdir baru di perusahaan ini..." Jawab pak Dwi begitu percaya diri.


Dalvin lagi-lagi hanya tersenyum kecut. "Tidak, Pak... Saya berharap Pak Dwi saja yang mendapat jabatan itu..."


"Loh, kenapa, Vin? Jangan sia-siakan kesempatan baik ini... Kamu masih muda, dan masa depanmu masih panjang..." Pak Dwi sangat terkejut dengan penolakan dari Dalvin.


"Saya bahkan berniat mengundurkan diri dari kantor ini, Pak..." Ungkap Dalvin membuat pak Dwi semakin dibuat tidak percaya.


"Apa alasannya? Kenapa begitu tiba-tiba?" Tanya pak Dwi mulai menginterogasi Dalvin.


"Tugas saya sudah selesai..."


"Haaahh?" Pak Dwi hanya bisa ternganga mendengar jawaban singkat dan santai dari Dalvin.


****


Ia tersenyum sendiri mengenang tujuannya bertahan di kantor selama ini. Demi Soraya, dan memang segalanya hanya demi istrinya itu.


Andai waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan berani untuk jatuh cinta lagi... Ini bahkan lebih sakit dari sebelumnya...


"Dalvin..."


Seorang pegawai perempuan datang memecahkan lamunannya.


"Hai, Mytha..." Sahut Dalvin sambil tersenyum kecil.


"Kata pak Dwi kamu mau mengundurkan diri, ya? Benarkah itu?" Tanya perempuan yang dipanggilnya Mytha memastikan.


Dalvin menghirup napas panjang, lalu ia mengangguk pelan. "Ya, benar..."


"Kenapa?"


"Aku ingin istirahat saja... Seminggu cuti membuatku merasa bekerja sebagai karyawan biasa sungguh melelahkan..." Jawabnya asal.


"Apa karena perlakuan kami terhadapmu? Selama ini kami suka sekali mengganggumu... Kamu pasti kesal karena itu, kan..." Tanya Mytha tampak merasa bersalah.

__ADS_1


"Emmm, tidak juga..." Geleng Dalvin.


"Jujur saja, Vin... Aku merasa bersalah sekali... Sebenarnya aku begitu bukan berarti aku tidak menyukaimu... Aku bahkan sangat suka kamu, Vin... Aku dan yang lainnya akan meminta maaf kepadamu, dan apa pun akan kami lakukan agar kamu tidak jadi mengundurkan diri..." Ujar Mytha tampak berharap penuh.


"Sorry, Myt... Resign sudah menjadi keputusan bulat bagiku... Papaku memiliki sebuah perusahaan, dan aku akan kembali bekerja di perusahaan papaku setelah lelah merajuk setahunan ini..." Ujar Dalvin tetap menolak permohonan Mytha.


Perempuan itu tampak kecewa, terlebih ia tidak pernah tahu bahwa ternyata Dalvin bukan pria sembarangan. "Perusahaan apa?"


"Fernando Grup..."


"Apa?" Mytha tampak begitu terkejut mendengar jawaban Dalvin. "Kamu tidak lagi bercanda, kan?"


"Kenapa aku harus bercanda? Kamu tahu, kan, nama belakangku itu Fernando?" Ujar Dalvin sambil tersenyum lalu pergi menuju meja kerjanya.


Tak beberapa lama identitas Dalvin tersebar di kantor. Satu persatu karyawan yang sering mengganggu dan mengejeknya berdatangan ke meja kerjanya untuk meminta maaf.


"Vin, benar kamu putra bungsu Dean Fernando?" Pak Dwi ikut bertanya ketika Dalvin sudah seorang diri di mejanya.


"Kenapa memangnya, Pak Dwi? Apa Pak Dwi juga mau meminta maaf seperti mereka?" Dalvin tersenyum geli melihat gelagat pak Dwi. "Tidak perlu ya, Pak... Bapak tidak pernah jahat kepadaku seperti mereka..."


"Kamu bisa saja..." Omel pak Dwi sambil menepuk pundak Dalvin, lalu menarik sebuah kursi untuk duduk lebih dekat.


"Sebenarnya saya hanya ingin memberitahu sesuatu kepadamu, Vin... Entah ini penting atau tidak untukmu..." Ujar pak Dwi mulai bercerita.


"Apa itu, Pak? Mana tahu saja penting..."


"Kamu sudah meletakkan surat pengunduran dirimu?" Tanya pak Dwi tampak serius.


"Baru saja aku akan ke sana..." Jawab Dalvin sambil memegang sebuah amplop.


"Begini, Vin... Saya tidak akan mencoba menahan kamu seperti yang dilakukan oleh karyawan lainnya, tapi setidaknya bisakah kamu menunggu sampai esok?"


"Kenapa harus menunggu sampai besok, Pak?" Dalvin mulai memerhatikan ucapan pak Dwi dengan serius.


"Sebenarnya pimpinan disini yang membuat kamu diterima tanpa susah payah dulunya, Vin... Terlepas butuh atau tidak butuhnya kamu dengan pekerjaan ini, tapi saya yakin kamu sangat butuh waktu itu... Saya hanya ingin kamu menyampaikan rasa terima kasihmu saja kepada beliau... Hari esok beliau akan mulai masuk dan menyelesaikan kekacauan di perusahaan ini beserta perusahaan cabang..." Tutur pak Dwi panjang lebar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2