
Duta melangkah perlahan kearah papanya yang berdiri memandang ke dalam ruangan tempat Dalvin dirawat. Keberaniannya menciut. Ia berubah menjadi sosok yang penakut.
"Datanglah lebih dekat..." Perintah Dean tanpa menoleh kepadanya.
Duta memberanikan diri, mengangkat kepalanya untuk melihat ke dalam. Hatinya kembali terguncang ketika matanya mendapati dengan jelas tubuh Dalvin terbaring lemah di dalam sana dengan berbagai alat terpasang sebagai penunjang hidupnya.
Badannya bergetar melihat hasil kejahatannya. Ia terisak dan roboh disana. Tungkai kakinya mendadak layu. "Maaf, Vin... Maafkan aku..."
Dean menitikkan air matanya. Dua putranya sedang terluka saat ini, sementara ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia kehabisan cara semenjak saat itu.
Sandra mendekat. Wanita paruh baya itu tak kalah bersedih. "Bisakah aku memelukmu sebentar?"
Dean meminta tanpa menoleh sama sekali. Ia sangat berharap, namun ia pasrah akan penolakan setelah menyadari bagaimana dirinya bersikap selama ini terhadap istri dan kedua anaknya.
Sandra terpana untuk sesaat, lalu menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Dean. "Kenapa mesti bertanya? Bahkan dari dulu kamu harusnya mencari diriku jika kamu butuh..."
Dean terisak. "Dalvin dinyatakan koma, Ma... Entah kapan dia akan terbangun dan berkumpul bersama kita kembali... Aku akan merangkulnya, mengenalkan kamu sebagai ibu sambung terbaik untuk dirinya... Dan memberitahu bahwa Duta adalah kakak terbaik baginya..."
"Dan harusnya Papa melakukan hal itu dari dulu..." Sesal Dean semakin mempererat pelukannya pada Sandra.
Duta tercengang mendengar pengakuan Dean yang mengatakan bahwa Dalvin koma. Ia segera bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan Dalvin.
Sandra yang menyadari hal itu segera melepaskan diri dari pelukan Dean. Ia hendak menyusul Duta, namun Dean menahan lengannya. Sandra menatap Dean dengan penuh tanda tanya.
Dean mengangguk seolah menjawab kebingungan di wajah istrinya itu. Ia kembali merangkul bahu Sandra dan membawanya duduk di bangku panjang rumah sakit.
Dean merebahkan kepalanya di atas paha Sandra, sementara lengan Sandra diapit oleh lengannya dan telapak tangan istrinya itu diletakkannya di dadanya.
"Biarkan mereka berdua, temani saja aku disini. Aku lelah dan mengantuk..." Ucap Dean sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Sandra merasa tersanjung, puluhan tahun ia menunggu hal seperti ini, tapi kenapa di saat salah satu putranya mengalami kecelakaan dulu? Ia segera mengusap air matanya agar tidak terjatuh ke pipi suaminya. Ia harus kuat agar suaminya bisa bertopang kepadanya.
Di dalam, Duta perlahan mendekat ke arah Dalvin. Hatinya terasa perih melihat mata Dalvin terpejam, dan di wajah yang selalu tampan itu terdapat banyak luka, serta di lehernya terpasang gif.
"Andai kamu tidak menyelamatkan aku, Vin, mungkin aku tidak akan tersiksa seperti ini... Dan yang paling jelas, akulah yang terbaring disini..." Isak Duta. Ia perlahan memasukkan jemarinya ke telapak tangan Dalvin, merasakan getaran di tubuhnya sendiri ketika ia melakukan hal itu.
"Bangunlah... Pukul lagi aku... Pukul sesuka hatimu, Vin... Aku pasrah... Aku terima kemarahan kamu..." Ucap Duta sambil memandangi wajah Dalvin yang tidak berdaya.
Duta menangis tersedu-sedu. Ia menangkupkan wajahnya ke tangan Dalvin yang terpasang selang infus. Namun apa pun yang dilakukannya tidak akan merubah keadaan. Dalvin tidak menyahut dan bahkan tidak akan tersadar dari komanya.
"Soraya..." Duta tersadar. Ia tiba-tiba teringat istrinya Dalvin. "Mungkin jika dengan keberadaan Soraya di sisimu, kamu akan terbangun, kan, Vin?"
"Iya, aku harus mencari Soraya sekarang..." Ucap Duta segera keluar dari ruangan itu.
Di luar, Duta melihat papanya telah tertidur di pangkuan mamanya. Sementara sang mama juga telah tertidur dengan bersandar di bahu papanya. Ia terenyuh melihat keadaan kedua orangtuanya yang kelelahan.
Perasaan bersalah semakin mencekam dadanya. Ia berjalan pelan-pelan meninggalkan rumah sakit untuk mencari keberadaan Soraya. Ia berniat akan mengungkapkan semuanya kepada istri adik tirinya itu.
****
Soraya masuk ke dalam rumah dengan ragu-ragu. Ia melihat ke sekeliling dan menemukan rumah yang masih berantakan seperti terakhir kali ia datang ke sana, dan ia sendiri yang membuat kekacauan.
Hatinya semakin perih menyangka jika Dalvin memang tidak pernah berniat mencarinya. Ia hanya datang untuk mengunci pintu lalu pergi. Tidak seperti dulu, datang memenuhi amanat Rio lalu membersihkan rumah dan kemudian menikahinya.
"Aku tidak ingin menangis..." Ucap Soraya kesal karena air matanya tidak bisa berkompromi dengan kemauannya.
"Pengecut itu tidak akan mungkin mengingatmu, Sora... Bahkan walau hanya sesaat..." Ucapnya lagi meyakinkan hatinya. Ia kemudian bergegas keluar dari rumah itu agar ia tidak terus-terusan berharap akan kedatangan Dalvin.
"Aku bersumpah tidak akan pernah datang lagi kesini untuk mencari kamu, Vin..." Ucap Soraya sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah penuh kenangan itu.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, mobil Duta bersilang lalu dengan mobilnya. Ia berkali-kali mengusap pipinya yang basah dibanjiri air mata sehingga ia tidak melihat wajah Duta yang sempat ia kenali terakhir kali di rumah sakit.
Begitu pula sebaliknya, Duta juga tidak akan menyangka bahwa istri Dalvin akan mengendarai mobil mewah. Sehingga tatapannya hanya tertuju pada tujuannya, mencari Soraya ke rumah mendiang sahabat adiknya itu.
Ponsel Soraya berdering. Tampak di layar ponselnya itu tertera tulisan mama. Ia segera mengangkat teleponnya.
"Kenapa, Ma?"
"Sora, pagi ini kamu pulang, kan, Nak? Mama dan papa akan keluar kota..." Ucap mamanya dari seberang.
"Maaf, Ma... Sepertinya tidak... Sora sibuk sekali hari ini. Siang nanti juga ada klien yang harus Sora temui di kantor..." Jawabnya.
"Baiklah kalau begitu... Kamu hati-hati, ya... Mama dan papa langsung pergi saja..."
"Iya... Mama dan papa juga hati-hati... See you, Mama..." Ucap Soraya berusaha terdengar riang.
Usai telpon berakhir, Soraya menghela napas berat. Hatinya sungguh tidak dapat bersahabat, terus saja merasa gundah dan merana.
Ia kembali ke kantor untuk menyibukkan diri, berharap semua akan baik-baik saja. Soraya sampai di basemen kantor, sebelum kembali bekerja, ia meluapkan perasaannya di dalam mobil.
Ia memejamkan matanya, lalu membayangkan sosok Dalvin yang memeluk dirinya. Menguatkan ia ketika ia merasa rapuh dan hina. Tiba-tiba Soraya terisak.
"Waktu selama itu cukup membuat aku merasa dicintai oleh kamu, Vin... Rasa yang kamu berikan kepadaku selama ini benar-benar nyata, dan kamu begitu tulus... Tapi kenapa setelah aku bisa melihat, kamu malah memberikan rasa sakit yang tidak berujung? Jika kamu sungguh tidak akan pernah kembali kepadaku, setidaknya biarkan aku melupakanmu... Aku lelah, Vin... Aku lelah menunggu, aku lelah berharap bahwa pernikahan kita bukanlah sandiwara..."
Napas Soraya tersengal menahan tangis. Rasanya begitu sakit, dan ia tidak tahu harus berbuat apa ketika merasakan rindu kepada seseorang yang tidak akan pernah bisa ia temui, bahkan seseorang yang tidak akan pernah menerima dirinya.
.
.
__ADS_1
.
.