
Usai membuat Danesh tertidur, Soraya dan Dalvin menuju ke balkon kamarnya. Dalvin memeluk Soraya dari belakang, sementara Soraya bertumpu ke pagar balkon yang mengarah ke taman samping rumah.
"Mengapa dengan mudahnya kamu melepas Amira, Sayang? Kesalahannya begitu fatal, dan berisiko untuk hidup kamu..." Keluh Dalvin sembari mengeratkan pelukannya ke bahu Soraya.
"Aku berpikir begitu juga sebelumnya, tapi ketika aku melihat setiap tetes air matanya, aku jadi sangat yakin kalau dia telah berubah... Lagian kalau aku tidak buta, akankah kita bertemu seperti ini?" Soraya membalikkan badannya menghadap kearah Dalvin.
"Bukankah orang tua kita sudah menjodohkan kita, bahkan sebelum aku dan kamu terlahir?" Kilah Dalvin masih belum paham maksud istrinya.
"Benar sih... Lalu, apa kamu mau menerima perjodohan itu padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya?" Soraya balik bertanya.
Dalvin terdiam. Ia tampak berpikir sejenak.
"Kenapa diam? Kamu pasti menolaknya, kan?" Tebak Soraya.
Dalvin mengakui dalam hatinya, namun tidak dengan ucapannya.
"Demi Sona?" Tebak Soraya lagi sedikit mendesaknya.
"Awalnya begitu... Tapi, ya sudahlah, Sayang... Itu sudah menjadi masa lalu... Dan biarlah berlalu... Aku bersyukur sekali dia menolak diriku, dan tidak pernah aku sesali semuanya..." Jawab Dalvin berusaha mengelak dari tatapan Soraya yang seolah menggali lebih dalam.
"Yakin?"
"Sayang..." Dalvin membekap mulut Soraya dengan bibirnya sekejap. "Iya, kamu benar..."
"Benar apanya?" Soraya tampak terkejut mendengar pengakuan Dalvin.
"Maksudku, kamu benar jika kamu tidak buta, mungkin belum tentu kita bisa bertemu..." Jawab Dalvin cepat.
Dalvin menarik tubuh Soraya ke dalam dekapannya, lalu berkali-kali menciumi pucuk kepala istrinya itu. "Waktu aku bekerja sebagai karyawan di kantor papa, aku sudah dua kali bertemu Amira... Awalnya mungkin masih ada rasa, namun aku sadar kamu adalah istriku dan selamanya milikku... Apalagi dia di mataku yang sebelumnya begitu sempurna, mendadak aneh... Murahan..."
"Astaga... Kenapa bicara begitu, Sayang...?" Soraya mendongakkan kepalanya menatap wajah Dalvin yang tegas.
"Ya, seperti itulah dia di mataku ketika ia mengemis kembali setelah dicampakkan kak Duta..." Jawab Dalvin yakin.
"Hemmm... Tapi kata mama dan papa, kamu secara langsung menolak perjodohan kita kepada mereka..."
"Emmm... Itu juga benar... Kalau itu karena kamu... Aku menolak perjodohan kita karena aku ingin menjaga dan melindungi kamu sesuai amanat Rio. Tapi lama-kelamaan aku jatuh cinta padamu... Jika perempuan yang dijodohkan denganku bukan kamu, aku hanya akan tetap mencintaimu..." Tutur Dalvin sambil mengapit pipi Soraya.
"Apa karena aku cantik?" Goda Soraya.
"Hmmm... Gimana, ya? Aku nggak pandang fisik soalnya..." Jawab Dalvin berkelakar.
"Lalu, pandang Sona pada apa nya?" Balas Soraya menggoda Dalvin.
"Sudah, Sayang... Jangan bahas dia lagi..." Ucap Dalvin berlagak cemberut.
Soraya tertawa kecil. "Iya, iya, maaf... Lalu bagaimana? Aku masih penasaran kenapa kamu jatuh cinta sama aku... Sementara aku kan buta..."
__ADS_1
"Kamu ingat ketika malam pertama kita? Pertama kali aku meminta hak ku sebagai suamimu?" Tanya Dalvin.
Wajah Soraya berubah memerah. "Memangnya kenapa?"
"Kamu malu, ya? Sekarang kan sudah biasa bagi kita..." Gelak Dalvin berderai. Ia mengusap pipi Soraya yang terasa hangat karena menahan malu.
"Iiih, Sayang... Aku maluuu..." Jerit Soraya dengan suara tertahan.
Dalvin kembali tergelak. Ia mengangkat pinggul Soraya dan membawa istrinya itu ke dalam kamar, lalu membaringkannya di sofa.
Dalvin perlahan membenamkan wajahnya ke telinga Soraya sambil berbisik. "Tidak ada alasan bagiku mencintai istriku sendiri... Dan aku tidak pernah tahu kapan aku mulai memiliki rasa ini terhadapmu, Sayang... Yang aku tahu, aku merindukan kamu setiap kali kamu tidak berada di sisiku. Dan akan menyakitkan bila kita berpisah tanpa kabar bertahun-tahun seperti sebelumnya..."
Soraya tersenyum, lalu memejamkan matanya. Ia mengelus kepala Dalvin perlahan, dan kemudian mulai berirama mengikuti permainan tangan Dalvin yang bergerilya di sekujur tubuhnya.
****
"Jadi, kapan kalian akan mengadakan pesta ulang untuk meresmikan pernikahan kalian?" Tanya Raya sambil menoleh kepada Dalvin dan Soraya bergantian.
Soraya dan Dalvin saling pandang untuk sesaat. "Maunya aku sekalian bareng kak Duta saja sih, Ma... Mama dan Papa do'akan semoga kak Duta cepat dipertemukan dengan jodohnya, ya..."
Soraya mengangguk membenarkan ucapan Dalvin. "Tidak mengapa kan, Ma, Pa?"
"Tidak masalah juga..." Jawab Angkasa.
"Bagus juga ide kalian..." Puji Raya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Melihat Danesh kegirangan, mereka menjadi bersemangat walau awalnya mereka merasa keberatan.
"Apa sebaiknya kita mampir dulu ke rumah Rio, Sayang? Rasanya aku merindukan rumah itu..." Ucap Dalvin.
"Boleh juga... Aku malah kepikiran seperti itu sebelumnya, Sayang..." Jawab Soraya sambil tersenyum lalu merangkul pinggang Dalvin.
Rumah Rio tidak ada yang berubah, hanya saja mereka menambahkan sebuah Poto keluarga kecil mereka di ruang tengah rumah itu.
"Jika tidak mengingat mama dan papa akan kesepian di rumah, mungkin aku lebih memilih tinggal disini, Sayang..." Ucap Soraya.
"Kita sesekali bisa menginap disini, Sayang... Bagaimana mungkin kita dapat meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita? Apalagi di tempat ini aku bermula merasa jatuh cinta dan hidup bersamamu..." Ujar Dalvin.
Soraya mengangguk, lalu memeluk Dalvin dengan begitu hangat.
"Ayo, nanti kita terlambat..." Ajak Dalvin sambil merangkul bahu Soraya.
Perjalanan pertama mereka dimulai. Perjalanan bisnis untuk Dalvin, namun kali ini sungguh menyenangkan. Tidak seperti sebelumnya, ia merasa hampa karena berpisah dengan istrinya tercinta. Kali ini ia ditemani sekaligus oleh putranya.
Tidak sedetik pun matanya luput untuk mengawasi dua jantung hatinya. Menebarkan senyum di sepanjang perjalanan, agar seluruh dunia tahu bahwa ia adalah orang yang sangat berbahagia.
"Pulaunya indah, Sayang..." Ucap Soraya terkagum-kagum.
__ADS_1
Dalvin tersenyum sambil mengangguk. "Kamu tahu menu apa yang akan disajikan nanti?"
"Apa memangnya?"
"Seafood..."
Seketika Soraya menutup mulutnya yang hampir ternganga. "Seafood?"
"Aku ingat betul makanan itu, Sayang... Ah... Kamu banyak menipuku..." Ucap Dalvin berlagak kesal.
"Maafkan aku, Sayang... Waktu itu, aku rasa maunya Danesh deh..." Ujar Soraya sambil memeluk lengan Dalvin.
"Bodohnya aku tidak tahu akan hal itu..." Sesal Dalvin dengan wajah murung.
"Justru aku senang karena suamiku sendiri yang memerhatikan aku waktu aku ngidam dulu..." Ujar Soraya membujuk.
"Eits, tapi... Sebenarnya siapa yang telah melunasi biaya operasinya?"
"Pak Dwi..."
"Pak Dwi? Apa waktu itu beliau sudah tahu tentang kita?" Tanya Dalvin masih dalam ketidakmengertiannya.
"Belum..." Soraya menggeleng. "Sebelum aku dapat memastikan keadaan, aku belum memberitahu tentang kamu kepada siapapun... Dan pada akhirnya aku tetap bungkam karena aku merasa kamu telah mencampakkan aku..."
"Sekarang pikiran itu benar-benar telah lenyap dari pikiranmu kan, Sayang?" Dalvin menatap Soraya dengan khawatir.
Soraya tersenyum jahil. "Tentu..."
TAMAT
.
.
.
.
Alhamdulillah...
Maaf ya teman-teman pembaca, Radetsa tidak kasih aba-aba dulu... Tapi buat kelanjutan kisah Duta, akan di umumkan di sini dengan judul PANDAN WANGI UNTUK DUTA...
Semoga novelnya bagus dan banyak pembaca nantinya...
Tungguin Novel selanjutnya ya,,, Terimakasih karena sudah jadi pembaca setia Radetsa 🤗
Assalamualaikum warahmatullaah...
__ADS_1