
Dalvin keluar dari kamarnya bertepatan ketika bi Yuna sampai pula membawakan sarapan untuknya dan Soraya.
"Hari ini Dalvin sarapan di luar saja, Bi... Bi Yuna hantarkan saja sarapan untuk Sora ke dalam..." Pesan Dalvin.
"Kok tumben pagi-pagi udah berangkat, Tuan?" Tanya bi Yuna.
"Ada interview, Bi... Do'akan Dalvin ya..." Pamit Dalvin.
"Oke, Tuan..." Jawab bi Yuna dengan sumringah.
"Oh, ya, Tuan..." Panggil bi Yuna lagi.
"Ada apa, Bi?" Jawab Dalvin sembari menghentikan langkahnya, lalu ia kembali menoleh kepada bi Yuna.
"Sarapan Tuan biar Bibi saja yang makan bersama non Sora, ya, Tuan... Nyonya Sandra dan Tuan Dean juga sedang tidak di rumah. Jadi..."
"Memangnya papa sama Mama Sandra kemana, Bi?" Tanya Dalvin memotong rengekan bi Yuna.
"Semalam mereka keluar kota, Tuan... Paling nanti balik lagi. Kata nyonya cuma sebentar..." Jawab bi Yuna.
"Oh, ya sudah... Sekalian Dalvin titip istri Dalvin kepada Bibi..." Ucap Dalvin.
"Baiklah, Tuan..."
Bi Yuna masuk ke kamarnya Dalvin sambil membawakan sarapan untuk Soraya.
"Non Sora, bolehkah Bibi sarapan bersama non Sora?" Tanya bi Yuna begitu semangat.
"Tentu saja, Bi... Sora malah senang jika ada teman begini..." Jawab Soraya dengan senang hati.
"Non Sora pakai pelet, ya?" Tuduh bi Yuna sambil tertawa.
__ADS_1
"Hah? Kok Bi Yuna tanyanya begitu?" Soraya balik bertanya dengan wajah tampak kebingungan.
"Tidak biasanya tuan Dalvin seceria dan bersemangat seperti itu... Tadi Bi Yuna melihat wajah tuan Dalvin berkharisma sekali, seperti orang yang sedang jatuh cinta..." Goda bi Yuna.
"Masa sih, Bi? Tadi saja Dalvin sempat marah-marah nggak jelas sama Sora..." Ucap Soraya seolah tak percaya dengan cerita bi Yuna.
"Marah karena apa, Non? Apa semalam tuan Dalvin bertengkar lagi dengan tuan Duta, ya?" Bi Yuna segera menutup kembali mulutnya. Ia terlihat seolah baru saja keceplosan telah mengatakan sesuatu yang sangat rahasia.
"Mereka sering bertengkar, ya, Bi?" Tanya Soraya sembari menghentikan sarapannya.
"Emmm... Sebenarnya Bibi takut cerita, Non..." Ujar bi Yuna dengan perasaan bersalah telah membuat istri majikannya itu menjadi penasaran.
"Owh... Apa Dalvin akan marah jika Bibi ceritakan? Kalau iya, Bibi tidak perlu cerita kok, Bi..." Ucap Soraya sambil tersenyum.
Soraya memang ingin tahu, tapi ia tidak mempermasalahkan jika Dalvin tidak ingin berbagi dengannya. Karena dia juga punya cerita hidup yang tidak ingin orang lain tahu.
"Sora maklum kok, Bi... Bibi tidak perlu merasa tidak nyaman, ya..." Tambah Soraya lagi.
"Terimakasih atas pengertiannya, Non... Bibi hanya berharap agar Non memang bisa membuat tuan Dalvin bahagia." Ucap bi Yuna.
Soraya kembali melanjutkan sarapannya. Ia terus kepikiran tentang Dalvin, namun hanya satu yang membuat ia merasa tenang, percaya bahwa Dalvin memanglah lelaki yang sangat baik dan berkepribadian hangat.
****
Dalvin selesai interview siang itu. Ia begitu ceria dan banyak tersenyum, karena dalam pikirannya ia optimistis bisa diterima di perusahaan itu.
"Ya, walau bukan perusahaan besar, tapi gajinya lumayanlah buat nafkahi Sora..." Gumamnya berdecak puas.
Selepas interview, Dalvin langsung keluar. Ia sempat menanyakan kapan pengumuman penerimaannya akan keluar, dan recruiter perusahaan itu menjelaskan bahwa pengumumannya akan keluar sekitar semingguan ini.
Sebelum pulang, Dalvin singgah di sebuah restoran. Ia sangat ingin membelikan makanan untuk Soraya.
__ADS_1
Ketika ia hendak membayar pesanannya, ia tidak sengaja mengeluarkan ponselnya sekalian.
Dalvin keluar dari restoran sambil memeriksa ponselnya itu. Raut wajahnya berubah masam. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Amira sejak semalam. Bahkan beberapa kali tadi pagi.
Ia juga menemukan kotak masuk pada pesanan di ponselnya.
Ia sungguh tak peduli, namun ketika ia sudah memasuki mobilnya, ia begitu penasaran. Perasaannya tiba-tiba berubah menjadi tak nyaman.
Ia membuka pesan dari Amira satu persatu.
"Dalvin, kamu dimana? Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian sama-sama tidak menjawab panggilanku ?" Pesan teratas yang ia baca.
Dahi Dalvin berkerut, ia semakin dibuat penasaran dan terus membaca pesan dari Amira.
"Dalvin, apa kamu masih bertengkar dengan kak Duta tentang aku? Kenapa nomor telepon kak Duta tidak aktif sama sekali dari kemarin sore?"
"Dalvin, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerima kamu... Jadi, tolong jangan ganggu hubunganku dengan kak Duta... Aku mohon, Vin... Kak Duta sama sekali tidak bisa dihubungi, dan aku masih di luar kota sekarang... Tolong, Vin... Tolong beri tahu kak Duta kalau aku merindukannya..."
Dalvin mencoba mencerna pesan Amira setiap kata, bahkan berulang-ulang.
"Soraya..." Gumamnya. Tiba-tiba ia teringat akan istrinya. Ia begitu khawatir dan langsung menyalakan mesin mobilnya.
Dalvin jadi tak terkendali. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya seketika buruk terhadap kakak tirinya itu.
"Awas saja jika kamu berani menyentuh apa yang menjadi milikku, Duta... Awas saja... Awas saja jika kamu menyakiti Soraya ku..." Umpat Dalvin di sepanjang perjalanan.
Rasa trauma mengemudi yang pernah ia rasakan sebelumnya mendadak hilang. Dalam benaknya hanya Soraya dan kelicikan Duta yang menjengkelkan.
.
.
__ADS_1
.
.