
Usai mengerjakan pekerjaan kantor, Dalvin keluar sedikit terlambat dari biasanya. Pekerjaan yang melelahkan membuat ia melupakan kondisi Soraya yang tadi sempat menghubunginya.
Di parkiran kantor pun ia sempat dibully teman sekantornya, membuat ia semakin merasa jengkel dan kesal.
"Berapa lama kamu akan melunasi mobil temanmu itu, Vin? Bermodalkan ongkos penumpang, memang sanggup bayar cicilannya...?"
"Jadi gigolo mungkin tuh, kalau nggak, mana mampu bayar cicilan tiap bulannya? Secara gaji di kantor juga tak seberapa..."
Teman-temannya saling sahut menyahut untuk mencemooh dirinya. Sampai mereka tertawa terbahak-bahak menikmati guyonan mereka yang menyakiti hati Dalvin. Beruntung Dalvin sudah terbiasa, bahkan ketika ia masih di rumahnya sendiri, sehingga jurus pura-pura tuli masih melekat padanya.
Dalvin malah menghidupkan aplikasi sopir online di ponselnya. Ia langsung mendapatkan penumpang tanpa harus berkeliling terlebih dahulu.
"Loh, Pak Dwi? Kok kebetulan sekali ya?" Dalvin terlihat senang ketika mendapati penumpang perdananya hari itu adalah pegawai sekantor dengannya.
"Kebetulan yang menguntungkan ya, Vin... Kita bisa ngobrol sepanjang perjalanan ke rumah saya..." Sahut pak Dwi sambil tersenyum.
"Iya, Pak... Biar saya juga bisa tahu dimana rumah pak Dwi..." Ucap Dalvin seraya melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang-bincang, sampai tak sadar mereka telah hampir tiba di rumah pak Dwi.
"Jadi, rumah Pak Dwi di daerah sini?" Tanya Dalvin takjub. Ia melihat deretan rumah yang lumayan besar dan nyaman disana.
"Iya, Vin... Sesekali mampirlah... Rumah yang sederhana, tapi dihuni oleh keluarga yang bahagia..." Tutur beliau. Dalvin tersenyum kecut mengingat rumahnya yang mewah namun dihuni oleh keluarga yang tidak saling peduli satu sama lain.
"Nah, di depan itu rumah saya, Vin..." Tunjuk pak Dwi kearah kiri depan.
"Oh, yang ada mobil merah itu ya, Pak..."
"Iya... Itu mobil saya, tadi dibawa istri ke sekolah anak... Makanya saya pulang pergi pakai mobil online..." Jelas pak Dwi bercerita tanpa ditanya.
Mendengar kata istri, Dalvin kembali mengingat Soraya. Setelah pak Dwi turun dari mobilnya, ia segera menelepon Soraya.
Jantung Dalvin berdegup tak karuan. Beberapa kali ia menghubungi nomor Soraya, namun sama sekali tidak ada jawaban. Ia menjadi khawatir mengingat aduan Soraya tadi.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?" Gumam Dalvin mulai panik.
Hari semakin gelap. Dari rumah pak Dwi ke rumah Rio memang cukup jauh, sehingga ia melajukan mobilnya dengan tiada sabar. Dalam benaknya hanya Soraya. Ia cemas jika sesuatu terjadi kepada istrinya itu.
__ADS_1
Sambil menyetir ia terus mencoba menghubungi Soraya, namun sia-sia. Nomor Soraya menyambung, tapi malah tidak diangkat.
Dalvin melihat jam di layar ponselnya, "Baru setengah delapan, tidak mungkin dia sudah tertidur..."
Dalvin terus mempercepat laju mobilnya, hingga ia tidak sadar telah berpapasan dengan mobil Duta yang keluar dari gang perumahan tempat ia dan Soraya tinggal.
Sesampai di rumah, Dalvin tidak langsung memarkirkan mobilnya di samping rumah. Ia bergegas turun dan berlari ke pintu masuk, namun pintu itu malah terkunci dari dalam. Tidak seperti biasanya yang bisa ia buka sendiri dengan kunci miliknya.
"Soraaa..." Panggil Dalvin sambil mengetuk pintu dengan keras.
"Sora, buka pintunya... Aku pulang..." Ulang Dalvin semakin keras.
Berapa kali memanggil tetap tidak ada sahutan dari Soraya. Dalvin mencoba menelepon kembali.
Tak lama terdengar ponsel Soraya berdering dari dalam, tepat di belakang pintu. Dalvin mencoba mengintip dari kaca samping pintu, namun percuma. Di dalam begitu gelap. Tidak ada satu pun lampu yang menyala.
"Soraaa... Ini aku Dalvin... Tolong buka pintunya, Sora..." Teriak Dalvin lagi. Dia tidak menyerah. Ia berkeliling mencari celah untuk masuk ke dalam.
Ketika Dalvin mencoba menarik pintu jendela, tiba-tiba kunci dalam genggamannya terjatuh.
Ia hendak memungut kembali, namun terdiam sejenak sambil mengamati kunci itu.
Sebelum mencobanya, Dalvin menghirup napas panjang, berharap pintu di hadapannya bisa dibuka dengan kunci di tangannya.
Ia mulai memasukkan kunci itu, lalu dengan perlahan memutarnya ke kiri. "Aaahhh..."
Dalvin menghembuskan napas lega. Ia mendorong handle pintu sekuat tenaganya. "Soraaa!" Seru Dalvin ketika telah berada di dapur rumah itu.
Ia hanya melihat suasana yang begitu gelap. Tidak biasanya Soraya akan membiarkan rumah gelap seperti ini meskipun ia buta.
Dalvin menghidupkan lampu setiap ruangan yang ia lewati, dan sesampai di ruang tengah, ia begitu terkejut. Semua sangatlah berantakan. Ponsel Soraya juga tergeletak di lantai, dan vas bunga yang telah pecah berserakan dimana-mana.
"Apa yang telah terjadi?" Dalvin semakin dibuat panik oleh keadaan rumah seperti itu. Ia hendak memeriksa kamar, namun pintu kamar malah terkunci dari dalam.
"Sora, kamu di dalam?" Panggil Dalvin cemas. Ia coba menekan handel pintu, akan tetapi pintu itu juga terkunci rapat dari dalam.
Beberapa detik masih hening, membuat Dalvin semakin dilanda kekhawatiran.
__ADS_1
"Sora, jawablah... Jangan membuat aku cemas begini, Sora..." Teriak Dalvin sambil menggedor-gedor pintu kamar itu dengan keras.
"Sora, jika kamu tidak kunjung membukanya, aku dobrak pintu ini..." Ancam Dalvin. Air mukanya merah padam menahan kesal yang bercampur aduk dengan kecemasan.
Dalvin bersiap mendobrak pintu kamar dengan sekuat tenaganya. Beberapa kali dobrakan, pintu itu terbuka. Pengunci pintu itu terlepas dan melenting ke sembarang arah.
Dalvin terjerembab sambil memegangi bahunya yang terasa ngilu. Ia melihat ke sekeliling kamar, dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Soraya tengah bersandar di sudut kamar sambil membekap telinganya sendiri.
Dalvin terenyuh. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, namun ia sangat yakin bahwa gadis itu sedang ketakutan. Ia perlahan mendekat, lalu mengambil bahu Soraya dengan lembut. Alangkah terkejutnya ia, Soraya malah menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku..." Teriak Soraya.
Dalvin bingung. Ia melihat wajah Soraya sembab. Seperti telah lama menangis.
"Ini aku, Sora..." Ucap Dalvin seraya menarik paksa tangan Soraya dan menempelkan telapak tangan istrinya itu ke wajahnya.
"Ini aku... Aku, Sora... Aku Dalvin..." Tekan Dalvin tiada sabar melihat kondisi Soraya yang begitu memprihatinkan.
"Dalviiiiin..." Soraya mulai meraba wajah Dalvin, lalu ia menghamburkan dirinya ke dalam dekapan Dalvin.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini? Siapa yang telah mengganggumu?" Tanya Dalvin beruntun. Tangannya tak berhenti mengelus punggung Soraya yang masih terasa menggigil.
"Dia datang, Vin... Dia tadi datang... Aku takut..." Adu Soraya sambil terisak-isak.
"Dia? Siap-" Dalvin teringat kakak tirinya. "Duta?"
Soraya mengangguk lemah.
Melihat pengakuan Soraya, Duta hendak bangkit. Amarahnya menjalari seluruh tubuhnya.
Soraya dengan cepat menahan Dalvin. "Jangan pergi lagi... Aku takut..."
Dalvin kesal. Ingin rasanya ia mendatangi Duta dan memberi pelajaran untuk kakak tirinya itu, namun melihat kondisi Soraya, ia tak tega meninggalkannya sendirian di rumah.
.
.
__ADS_1
.
.