MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
14. Keindahan Di Balik Kelam Dunia Sora


__ADS_3

Soraya tampak bahagia. Ia mulai menjatuhkan tangannya ke genangan air di bawah air terjun, lalu menyiramkannya ke wajahnya sendiri.


Dalvin yang melihat itu pun ikut tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah gadis buta di hadapannya. Tapi entah mengapa, ia seakan mengingat sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa.


Dalvin lalu memaksakan diri untuk melupakannya. Ia melepas oblongnya dan meletakkannya di atas bebatuan kering, kemudian ikut bermain bersama Soraya dengan menyiram wajah gadis itu.


"Dalvin, jangan..." Pekik Soraya.


"Balas dong... Masa begitu saja takut..." Ejek Dalvin.


Soraya merengut, namun ia malah berusaha keras menajamkan pendengarannya. Ia membalas Dalvin. Tampak mereka bersenang-senang saling lempar air di bawah air terjun yang jernih itu.


Sorak Soraya berbaur bersama suara air yang bergemuruh. Kali itu Soraya benar-benar tampak bahagia.


Karena kelelahan, Soraya hampir saja tumbang. Beruntung Dalvin dengan cepat menangkap tangan Soraya dan menariknya ke dalam tubuhnya.


Kedua tangan Soraya tertumpu pada dada Dalvin yang bidang.


"Apa kamu bahagia?" Tanya Dalvin begitu lembut.


"Ummm..." Angguk Soraya.


Soraya terdiam. Ia hanyut akan perasaannya yang tak menentu ketika jemarinya mulai bergeriliya meraba dada Dalvin yang terasa berkotak-kotak.

__ADS_1


Entah mengapa, Dalvin ikut terhipnotis. Ia menyibakkan rambut Soraya yang basah dengan jemarinya, lalu menatap wajah Soraya dengan seksama.


Soraya memejamkan matanya, mencoba menikmati keindahan di balik kelam dunianya.


Dalvin semakin terbuai. Ia terus menatap wajah Soraya yang dipenuhi percikan air, lalu matanya bergerak ke bibir tipis yang mulai memucat karena kedinginan.


Suara air terjun bagai musik yang menggiring perasaan mereka. Dalvin perlahan-lahan mengecup bibir Soraya, membuat gadis itu sedikit menggeliat karena terkejut olehnya.


Dalvin kembali memundurkan wajahnya, namun reaksi Soraya membuat ia ikut memejamkan mata, lalu kembali mengecup bibir Soraya. Ini sangat lama, bahkan penuh gairah, dan Soraya pun tampak menikmati setiap ritme gerakan yang dibuat Dalvin.


Takut terbuai lebih hebat lagi, Soraya perlahan mengendurkan tubuhnya, lalu bernapas sebebasnya kembali. Ia merebahkan sebagian wajahnya ke dada Dalvin, dan Dalvin membalas untuk memeluk Soraya begitu erat.


****


Bibir Soraya bergerak-gerak seiring gemelatuk giginya terdengar. Ia tampak kedinginan dengan memeluk kedua lututnya.


Dalvin yang melihat pun merasa iba. Ia segera mengalungkan kemejanya ke bahu Soraya. Ia teringat Amira kembali. Andai Soraya adalah Amira, mungkin semua akan lebih baik, pikirnya.


Ia masih tidak menyangka bahwa alasan Amira tidak memilihnya karena ia kekanak-kanakan dan pengangguran. Ia tak sedewasa Duta, juga tak sehebat Duta. Begitulah yang ia dengar semalam ketika gadis yang ia taksir itu sedang bersama kakak tirinya.


"Mari kita menikah, Sora..." Ucap Dalvin tiba-tiba.


"Eh?" Soraya terpana. Ia merasa bahwa dirinya sedang berhayal di lamar Dalvin saat itu. Ia masih tak percaya dan ingin mengulang ucapan Dalvin kembali.

__ADS_1


Dalvin pun ikut terkejut. Ia juga tidak percaya. Karena ia yakin, ucapannya barusan bukanlah dari hatinya. Namun ia sendiri tidak mungkin menarik kata-katanya lagi. Soraya telah terlanjur mendengarnya.


"Menikahlah denganku, Sora... Meski kita tidak... Emm... belum saling cinta... Tapi setidaknya, kamu akan selalu bersamaku. Dengan ini, mungkin lebih mudah bagiku untuk menjaga amanat Rio tetap terlaksanakan..." Jelas Dalvin dengan jantung berdebar.


"Itu, pasti mengganggumu, Vin... Percayalah, setelah ini aku pasti bisa lebih mandiri... Aku janji tidak akan merepotkanmu lagi..." Elak Soraya. Hatinya perih telah menolak ajakan Dalvin untuk menikah, meski ia sendiri juga tidak yakin telah mencintai Dalvin saat itu.


"Tidak, Sora... Pemikiran macam apa yang mengatakan bahwa menikahimu menggangguku? Aku laki-laki, dan kamu perempuan... Tidak ada halangan bagi kita, Sora... Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu, mencela kekuranganmu... Dan aku akan selalu menjagamu sehabis usahaku..." Ungkap Dalvin bersikekeh meyakinkan Soraya, bahkan untuk hatinya sendiri.


Dalvin mulai percaya, menikahi Soraya adalah keputusan yang sangat tepat. Ia akan selalu berada di sisi gadis buta ini sampai kapanpun, dan tanpa halangan apa pun.


"Kamu tidak akan menyesal, kan, Vin? Kamu bisa menarik kata-katamu lagi kok... Dan aku akan berpura-pura untuk tidak pernah mendengarkannya..." Ucap Soraya berpura-pura tegar di hadapan Dalvin.


"Tidak, Sora..." Bantah Dalvin cepat. Ia menggenggam tangan Soraya untuk meyakinkan gadis itu. "Ini sudah jadi keputusanku... Dan aku tidak akan menyesalinya suatu hari nanti, atau kapanpun juga..." Jelas Dalvin tegas.


Soraya terdiam sejenak. Ia tampak ragu. Selain kekurangannya, ia juga takut akan tersakiti. Dalvin terlalu sempurna untuk dirinya.


"Bagaimana, Sora?" Desak Dalvin.


Soraya mulai mengangguk pelan dan ragu-ragu.


"Baiklah, besok kita akan menikah... Aku akan mendaftarkan pernikahan kita... Meski tidak resmi dan tidak pula dihadiri oleh keluargamu dan keluargaku, kamu tidak akan keberatan, kan?" Tanya Dalvin membut Soraya terkejut.


"Secepat itukah?" Tanya Soraya heran.

__ADS_1


"Lebih cepat, lebih baik..." Tegas Dalvin tanpa memberi alasan apa pun.


__ADS_2