MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
43. Orang-orang Tak Dikenal


__ADS_3

Air mata Dalvin mengalir tanpa mampu dibendungnya lagi. Ia begitu terharu mendengar cerita Soraya tentang pertemuannya dengan Rio.


"Lalu, pada akhirnya kamu bertemu Rio di rumah sakit Mitra Cahaya sebagai pasien, bukan sebagai dokter?" Tanya Dalvin seperti tidak sabaran menunggu kelanjutan cerita istrinya.


Soraya mengangguk. Ia meremas jemarinya ketika berusaha mengingat kejadian kala itu.


"Rio orang yang baik, ya? Bahkan denganku, seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya..." Ucap Soraya pelan.


"Dia berada di ruang pesakitan, berjuang untuk hidupnya... Tapi, ia tidak sanggup bertahan selama tiga hari dirawat disana... Aku bingung, aku tidak tahu harus apa... Sementara kamu yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang..." Soraya menutup mulutnya dengan jari telunjuknya menahan sesak.


Dalvin yang mendengar ucapan Soraya malah tercengang. Ia baru sadar ternyata ia begitu ditunggu pada saat-saat terakhir Rio.


"Aku kembali datang ke rumah sakit Alaska untuk menemui keluarga pasien kecelakaan itu, namun aku malah mendengar pasien itu mengalami kebutaan karena benturan keras pada saat kecelakaan... Aku sedih... Aku bingung harus berbuat apa..." Ungkap Soraya melanjutkan ceritanya.


"Lalu?"


"Aku mengurungkan niatku bertemu keluarga pasien itu, kemudian aku kembali ke rumah sakit Mitra Cahaya... Tapi Rio..." Ucapan Soraya terhenti. Dia menangis tersedu-sedu.


Dalvin yang mengerti perasaan Soraya, segera memeluknya dengan sangat erat.


Soraya menahan tangisnya dan kemudian keluar dari dekapan Dalvin. Ia mengambil nafas panjang. "Rio baru saja dinyatakan meninggal..."


Soraya terisak, membuat Dalvin ikut menangis. Begitu perih Hatinya saat mendengar cerita Soraya tentang hari-hari terakhir Rio. Ia merasa bersalah karena seharusnya ia berada disana mendampingi sahabatnya itu.


"Aku menunggu kamu, Vin... Sahabat Rio yang diceritakannya waktu itu..." Ucap Soraya sambil tersedu-sedu.


"Maafkan aku, Sora... Maafkan aku..." Ucap Dalvin sambil menggenggam jemari Soraya.


"Aku minta maaf telah membuat kamu berada dalam kesulitan waktu itu... Aku tidak sengaja melakukannya..." Ucap Dalvin berulang kali meminta maaf.


"Kamu kemana? Kenapa kamu tidak datang, hmm?" Tanya Soraya sambil membalas genggaman tangan Dalvin.


"Kamu tahu... Orang yang telah menerima donor mata dari Rio itu adalah, aku..." Ungkap Dalvin terbata-bata.


Soraya tercengang. "Ma-maksudmu?"


"Iya... Malam itu aku tidak sengaja melupakan janjiku kepada Rio untuk bertemu di taman kota. Sampai pada akhirnya, dokter Nino menelepon tengah malam mengabari bahwa Rio sedang dirawat di rumah sakit Mitra Cahaya... Aku panik, dan aku langsung menuju ke sana... Aku membawa mobil dengan tergesa-gesa dan dalam kecepatan tinggi. Aku hampir menabrak seseorang malam itu..." Dalvin menghentikan ceritanya.


"Jadi..." Air mata Soraya mengalir deras. Ia meraba pipi Dalvin dan menggamitnya.

__ADS_1


Dalvin mengangguk sambil memegang tangan Soraya yang berada di pipinya. "Iya, Sora... Aku pasien kecelakaan yang hampir menabrak kamu malam itu... Aku orangnya... Aku yang sudah membuatmu repot, panik dan juga merasa kesulitan... Maafkan aku, Sora... Maaf..."


Soraya menggeleng. "Tidak, Vin... Tidak... Ini semua bukan salah kamu..."


"Aku yang membuat kesempatan bagi kamu untuk melihat lagi lenyap... Aku orangnya..." Ungkap Dalvin berkali-kali.


"Tidak perlu menyesalinya... Aku saja sekarang bahagia karena telah bertemu dengan orangnya, dan itu ternyata kamu... Bahkan dalam keadaan baik-baik saja... Terimakasih sudah membuatku lega... Terimakasih, Vin..." Ucap Soraya sambil menjatuhkan kepalanya perlahan-lahan ke dada Dalvin.


Dalvin tersenyum getir. Ia memeluk Soraya dengan erat melepaskan rasa sesak di dadanya.


"Aku jadi lega... Sekarang ayo kita ke rumah sakit... Kamu akan dapat melihat lagi setelah ini, setelah melewati hal panjang..."


Tiba-tiba senyum Soraya menjadi pudar.


"Kenapa? Kamu tidak senang? Aku sudah berjanji untuk tidak akan meninggalkanmu, Sora... Terlepas dari banyak hal yang telah kita lalui bersama... Jangan berpikir yang macam-macam..." Ujar Dalvin.


"Kasihan sekali keluarga pendonor... Ia baru saja kehilangan keluarganya untuk selamanya..." Ucap Soraya merasa bersalah.


"Ini sudah takdirnya, Sora... Kamu tidak perlu memikirkan hal itu..." Bujuk Dalvin sambil mengelus lembut bahu Soraya.


"Tunggu disini sebentar, aku akan mempersiapkan segala sesuatunya..." Pinta Dalvin seraya berdiri dari hadapan Soraya.


Ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, Dalvin sesekali memandangi wajah Soraya yang begitu tenang. Ia tersenyum mengingat istrinya itu akan dapat melihat lagi.


Dalvin menggenggam jemari Soraya, membuat istrinya itu sedikit terkejut. "Aku bahagia..." Ucap Dalvin.


Soraya tersenyum sambil mengangguk.


Dalvin kembali melihat ke arah depan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh dua orang lelaki berbadan besar tengah menghadang perjalanan mereka.


"Astaga..." Ucap Dalvin terkejut sambil berusaha merem mobilnya dengan cepat.


"A-ada apa?" Tanya Soraya yang terlihat cemas.


"Entahlah... Ada orang tak dikenal sedang menghadang perjalanan kita..." Jawab Dalvin berusaha tetap tenang.


Dua orang itu berjalan kearah Dalvin. Mereka menggedor-gedor pintu mobil dengan beringas.


"Keluar!" Hardik orang itu.

__ADS_1


"Siapa mereka? Dan apa mau mereka?" Gumam Dalvin bertanya-tanya."


"Kamu tunggu di mobil sebentar, aku akan menemui mereka terlebih dahulu..." Ucap Dalvin memenangkan hati Soraya yang mulai panik.


Soraya menggeleng keras. "Jangan..."


"Tidak apa-apa, Sora... Semua akan baik-baik saja..." Bujuk Dalvin meyakinkan Soraya.


"Kalau mereka berniat jahat kepadamu bagaimana? Kalau mereka nanti menyakitimu?" Ucap Soraya yang tampak begitu mengkhawatirkan Dalvin.


Dalvin menggenggam jemari Soraya. "Tidak akan... Aku janji, mereka tidak akan menyakitiku, ataupun menyakiti kamu..."


Dengan berat hati Soraya membiarkan Dalvin keluar. Baru saja Dalvin menutup pintu mobilnya kembali, satu pukulan telah mendarat di perutnya. Dalvin terhuyung, namun pada pukulan selanjutnya, ia dapat mengelak.


Dalvin terlibat perkelahian tidak seimbang antara dirinya dengan dua orang lelaki berbadan besar dan tegap. Beberapa saat kemudian ia hampir mengalahkan dua lelaki itu, namun dua orang lelaki lainnya datang membuka pintu mobilnya dan memaksa Soraya untuk keluar.


"Dalviiiiin..." Pekik Soraya histeris.


Dalvin terkejut. Ia berlari mengejar posisi Soraya yang hampir dibawa pergi oleh orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Ia menendang dengan kuat dari belakang lelaki yang menyeret Soraya.


Lelaki itu tersungkur. Baru saja Dalvin hendak melayangkan kakinya ke orang itu, tiga orang lainnya tiba-tiba kabur begitu saja. Dalvin bingung, sehingga orang yang berada dalam cengkeramannya ikut lolos.


"Apa mau mereka sebenarnya?" Gumam Dalvin terheran-heran.


Ia melirik kearah Soraya yang masih menangis ketakutan, membuat ia urung untuk mengejar orang itu.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Dalvin cemas sambil menggamit pipi Soraya.


Soraya mengangguk. "Aku tidak apa-apa... Kamu bagaimana? Tidak ada yang terluka, kan?"


"Aku tidak apa-apa... Hanya saja aku bingung, sebenarnya apa tujuan mereka?" Ujar Dalvin masih terlihat berpikir keras.


"Ah sudahlah... Sebaiknya kita lanjut ke rumah sakit..." Ucap Dalvin seraya menggiring Soraya kembali ke dalam mobil.---


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2