
Soraya menepi di sudut kamar. Memang gelap tak ada cahaya, karena ia sudah tak butuh cahaya lagi. Percuma baginya. Ia terus memegangi bibirnya. Semenjak pulang dari air terjun tadi, ia menjadi lebih perasa dan sensitif.
Setelah mengantarnya pulang, Dalvin langsung pergi tanpa mampir. Dan Soraya pun juga merasa bahwa ia butuh waktu sendiri hingga besok.
"Ya Tuhan, kenapa jantungku menyakiti seperti ini? Ini tidak biasanya aku merasakan kegundahan... Apa sebenarnya aku harus tegas pada diriku sendiri? Menolak ajakan Dalvin menikah, setidaknya meminta waktu untuk berpikir lebih..."
"Dia bilang dia tidak mencintaiku, lalu mengapa dia menciumiku? Apa mungkin dia hanya pria mesum yang memanfaatkan kekuranganku saja?"
Soraya terus memikirkan Dalvin hingga malam hampir larut. Dingin mulai terasa menggigit tulangnya. Ia bangkit lalu berjalan perlahan-lahan menggunakan tongkat kecil yang diberikan Dalvin kemarin.
Sesampai di sofa depan, Soraya meninggalkan tongkatnya.
Ia menyusuri setiap sudut rumah tanpa tongkat. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, namun sepertinya ia tak bisa tidur barang sepejam pun.
"Ah, Sora... Apa yang kamu lakukan? Kamu ini bagai dedaunan kering yang hanya pasrah pada ketetapan angin. Kemana kamu pergi, Tuhan menciptakan angin sebagai penentu arah tujuanmu. Bahkan ranting saja melepaskan kamu, Sora... Kamu tidak punya siapa-siapa... Anggaplah Dalvin sebagai angin, meski ia akan mendorongmu ke jurang dalam sekalipun..." Gerutu Soraya pada dirinya sendiri.
Ia kembali mengambil tongkatnya, lalu segera ke kamar untuk tidur.
Di sisi lain, Dalvin berpikiran sama. Ia beberapa kali menarik selimutnya, lalu membukanya kembali. Ia terus memikirkan kata-katanya pada Soraya tadi siang.
"Aku akan menikah besok? Ah..." Ia seperti menyesali perkataannya sendiri. Ia dilema.
"Tidak, Vin... Sora hanya punya kamu. Dia tidak punya siapapun tempat bertopang... Kamu harus bijaksana dengan janjimu..." Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.
"Perlahan-lahan, aku pasti bisa melupakan Amira..."
Dalvin memejamkan matanya. Ucapannya yang terakhir ia anggap sebagai doa sebelum ia menemui alam mimpinya.
****
Dalvin telah siap dengan pakaian rapi. Celana jeans hitam dipadu jas hitam membuatnya lebih tampan pagi itu. Ditambah dengan sepatu kulit bewarna senada dengan pakaiannya membuat ia tampak berkharisma dan gagah.
Ia berdiri di depan kaca memerhatikan dirinya sendiri, lalu kembali duduk di samping tempat tidurnya memerhatikan dua foto orang yang sangat berarti dalam hidupnya, hanya saja kedua orang itu telah tiada di sisinya selamanya.
__ADS_1
"Ibu... Hari ini adalah hari pernikahan Dalvin, putra Ibu... Do'akan Dalvin, ya, Bu... Jangan biarkan Dalvin seperti papa, menyakiti hati istri Dalvin sendiri nantinya..."
Dalvin beralih memandang foto Rio. Ia merasa sahabatnya itu sedang menyemangati dirinya, namun ia sempat ragu untuk sesaat.
"Tidak mengapa jika aku menikahi pacarmu, Yo?" Tanyanya penuh kebimbangan.
"Kamu tidak marah kah?" Tanyanya lagi semakin dihantui rasa bersalah.
Dalvin kembali dilema. Ia jadi bimbang dengan keputusannya untuk menikahi Soraya. Gadis buta itu bukan adik atau kakak bagi sahabatnya, melainkan seorang pacar. Dia berpikir jika menikahi Soraya, maka ia telah menikung sahabatnya sendiri.
Dalvin segera keluar dari kamarnya hendak menemui Soraya. Namun ketika ia sampai di ruang tamu, ia dihadang oleh Dean.
"Mau kemana lagi kamu, Vin?"
"Keluar, Pa..." Jawab Dalvin acuh.
"Bergabunglah sebentar... Papa ingin mengenalkan kamu kepada teman papa..." Perintah Dean.
"Tapi, Pa..."
Dalvin terpaksa menurut. Ia mengikuti Dean dan duduk di samping papanya itu. Sepasang suami istri berumur paruh baya telah menungguinya disana.
"Ini putramu yang bernama Dalvin itu, Yan?" Tanya istri tamunya.
"Benar, Raya..." Jawab Dean sambil mengangguk.
Perempuan itu menoleh kepada suaminya sambil tersenyum kegirangan. "Putra Wulan sangat tampan, Pa... Dia sangat cocok dengan putri kita..."
Perempuan itu berbisik pada suaminya. Ia tampak berharap dan terus menggamit bahu suaminya, sementara si suami mengusap-usap bahu perempuan itu.
"Iya, Ma... Kita akan bicarakan sama Dalvin perihal kedatangan kita kesini..." Jawab sang suami menenangkannya.
Dalvin mengamati kedua suami istri itu dengan seksama.
__ADS_1
"Dalvin, kami ini sahabat mendiang mama kamu... Mungkin ini kali pertama kita bertemu. Tapi maksud kedatangan kami kesini, kami ingin menjodohkan putri kami denganmu, Vin... Kami berharap..."
"Maaf, Om... Sebelumnya papa juga sudah membicarakan ini kepadaku... Tapi aku sungguh tidak bisa menerima perjodohan ini, Om..." Tolak Dalvin memotong pembicaraan suami perempuan itu.
"Kamu bisa memikirkannya lagi, Vin... Putri kami juga sedang di luar negri sekarang, dan bulan besok ia pasti akan kembali... Kamu pasti sangat menyukai putri kami. Dia sangat cantik, baik dan juga pintar... Jika kamu mau, kami akan menjadikan kamu direktur utama di perusahaan kami yang besar..." Perempuan itu buka suara. Ia benar-benar berambisi hendak menjadikan Dalvin seorang menantu.
"Maaf, Tante..."
"Dalviiin..." Teriak Dean.
"Apa lagi alasanmu kali ini menolak perjodohan ini, hah?" Berang Dean.
"Aku sudah bilang sama Papa, bahwa aku punya perempuan lain yang akan aku nikahi..." Jawab Dalvin tak kalah berang.
"Menyerah lah jika itu Amira, Vin..." Duta tiba-tiba datang dan ikut campur.
"Menyerah atau tidak, ini bukan urusanmu..." Sarkas Dalvin.
"Papa mau kamu menerima perjodohan ini, agar kamu bisa menjadi pria yang bertanggung jawab, Vin... Bahkan kamu dijanjikan pekerjaan oleh calon mertuamu, sehingga kamu tidak terus-terusan menjadi pengangguran seperti ini..." Jelas Dean.
"Owh... Jadi alasan Papa menjodohkan aku agar aku tidak merepotkan Papa lagi, begitu? Lantas Papa bawa-bawa nama mamaku..." Ketus Dalvin. Ia bangkit dari sofa, lalu keluar dari rumah tanpa mengindahkan panggilan dari perempuan yang menjadi tamunya itu.
Suami perempuan itu berusaha menenangkan istrinya yang menangis mengharap Dalvin bersedia menjadi menantunya.
"Maafkan aku, Raya... Aku tidak tahu sejak kapan Dalvin menjadi sekeras itu..." Ucap Dean merasa bersalah terhadap kedua tamunya.
"Mungkin Dalvin memang bukan jodoh putri kita, Ma..." Bujuk lelaki itu menangkan istrinya yang masih menangis di dadanya
.
.
.
__ADS_1
.