
"Mungkin akan lebih baik jika rumah ini terlihat rapi kembali..." Ucap Dalvin seraya bangkit dari sofa.
"Aku akan merapikannya..." Soraya ikut bangkit.
"Hei, mau apa kamu?" Pekik Dalvin.
"Bukankah kamu memintaku merapikan rumah ini?" Tanya Soraya bingung.
"Duduk saja... Lukamu belum kering... Maksudku, biar aku yang membereskannya." Ucap Dalvin sambil menahan tangan Soraya.
"Ta-tapi..."
"Apa yang bisa kamu lakukan? Sementara kakimu terluka, dan kamu juga tidak bisa melihat..." Gerutu Dalvin memotong perkataan Soraya.
"Iya, kamu benar... Kebutaanku memang jadi hambatan bagi hidupku..." Ucap Soraya sendu.
"Bu-bukan begitu maksudku, Sora..." Sergah Dalvin merasa bersalah.
Ia menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak suka dengan dirinya yang terlihat cengeng saat itu. Ia tidak mengerti, sejak kapan ia menjadi seperasa itu.
Soraya tak menjawab lagi. Ia kembali duduk dengan raut wajah tampak sedih.
"Maafkan aku..." Dalvin tak tega, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan hati Soraya. Ia mulai berbenah, melupakan sejenak beban di hatinya.
Baru beberapa bulan ia tidak ke rumah Rio, semuanya berubah. Banyak debu dan berantakan. Segala sesuatunya tidak lagi berada di tempatnya.
Cukup memakan waktu berjam-jam, Dalvin baru menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan taman depan dan belakang telah bersih dan rapi kembali ia buat.
"Huffhhh... Akhirnya selesai juga..." Ucap Dalvin sambil menghenyakkan tubuhnya di sofa, tepat di samping Soraya yang masih duduk disana.
Soraya menarik kakinya. Ia memangku lutut dan menampakkan wajah sungkan. Ia bisa merasakan keberadaan Dalvin begitu dekat dengan dirinya.
Dalvin mengamati wajah Soraya untuk sesaat. "Kamu sudah makan? Aku tidak melihat apa pun di dapur..." Tanyanya.
__ADS_1
"Belum..." Jawab Soraya singkat. Kerongkongannya tiba-tiba tersekat. Ia bahkan sangat lapar saat itu.
"Sejak kapan belum makan?" Tanya Dalvin berubah khawatir.
"Kemarin siang..." Jawab Soraya dengan bibir bergetar menahan tangis.
"Kemarin siang? Makan apa?"
Lagi, Dalvin bertanya dengan khawatir. Ia mulai cemas melihat wajah Soraya tampak lebih pucat dari sebelumnya.
"Roti... Sebelum Rio pergi ke rumah sakit, ia sempat membelikan aku sekotak besar roti. Tapi, semalam aku baru sadar kotak rotinya sudah kosong." Jelas Soraya panjang lebar.
"Sebulanan ini kamu cuma makan roti?" Dalvin terperangah. Ia tidak percaya, namun yang pasti begitulah kenyataan yang tidak bisa ia pungkiri. Ia bahkan menemukan bekas kotak roti di kamar Rio beserta remahnya.
"Tunggulah disini, aku akan membelikan makanan di luar. Jika pesan online, pasti akan lama..."
****
Tidak sampai sepuluh menit Soraya menunggu, Dalvin sudah kembali dengan menenteng dua bungkus kresek di tangannya. Dalam satu bungkus ada dua porsi makanan yang sama, dan satu bungkus lainnya dua gelas minuman yang sama pula.
Soraya segera menurunkan kakinya dari sofa, lalu menghadapkan alat pendengarnya kearah suara Dalvin terdengar.
"Kamu bawa makanan, kan?" Tanya Soraya berharap.
"Tentu... Ayo kita makan." Ajak Dalvin bersemangat hendak berlalu ke belakang. Namun, lagi-lagi ia terpaku kembali. Menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Soraya.
Ia menggenggam tangan Soraya, membuat gadis itu tersentak dan merasa gugup.
"Berjalanlah pelan-pelan, aku akan menuntunmu." Ucap Dalvin terdengar lembut.
Soraya tersenyum, lalu mengangguk dan kemudian mulai berjalan pelan-pelan atas tuntunan Dalvin.
"Tunggu sebentar..." Dalvin menarik kursi dari meja makan dan meminta Soraya untuk duduk disana. "Aku akan mengambil piring dulu..."
__ADS_1
Dalvin menyiapkan makanan untuk mereka siang itu. Memang agak terlambat untuk ukuran waktu makan siang, namun setidaknya gadis itu tidak akan kelaparan lagi. Sungguh keberuntungan bagi Soraya atas kedatangan Dalvin.
Soraya makan dengan lahap. Ia terlihat terbiasa meski ia dalam keadaan buta. Tidak ada kesulitan sedikitpun baginya dalam menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Maaf... Sudah berapa lama kamu buta?" Tanya Dalvin seakan mengenang sesuatu ketika melihat kondisi Soraya.
Soraya menghentikan suapan terakhirnya. Ia kembali murung. "Dua tahun lalu..." Jawabnya.
"Penyebabnya?" Dalvin mulai penasaran.
"Soflents..."
Dahi Dalvin berkerut. Ia bahkan tidak mengerti saat itu sedang memikirkan apa.
"Rasanya, aku pernah melihatmu sebelumnya..." Ucap Dalvin setengah bergumam.
"Uhuk... Uhuk..." Soraya terbatuk. Dengan sigap ia mengambil gelas di posisi tangan kanannya.
"Memangnya, kamu pernah melihatku dimana?" Tanya Soraya kemudian setelah batuknya terhenti.
Dalvin tampak berpikir, lalu ia mengoceh. "Ah, entahlah..." Jawabnya menyerah setelah lama berpikir. "Aku akan memikirkannya lagi nanti..."
"Lupakan saja... Itu hanya akan membebani pikiranmu... Pasti hanya perasaanmu, karena aku berasal dari desa terpencil... Memangnya kamu sudah pernah ke desa?" Ucap Soraya.
Dalvin menggeleng, tapi tetap saja tidak semudah itu ia melupakannya.
"Baiklah... Sudah mulai sore... Mungkin aku akan kembali besok. Untuk makan malam, aku akan pesankan secara online. Kamu cukup membuka separuh pintu jika ada yang mengantarnya nanti..."
Dalvin membereskan meja makan, lalu membawa Soraya kembali ke depan.
.
.
__ADS_1
.
.