MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
34. Bertemu Amira


__ADS_3

hampir setahunan berlalu, Dalvin dan Soraya masih betah dalam hubungan pernikahan mereka. Malam ini Dalvin pulang lebih awal. Ia tersenyum bangga menghitung penghasilannya yang ia kumpulkan sejak awal berjuang.


Keesokan paginya, Dalvin dengan semangat menceritakan niatnya pada Soraya.


"Minggu depan aku akan mengambil cuti tahunan, aku akan membawamu periksa keadaan matamu ke rumah sakit... Sepertinya uangku sudah cukup untuk itu..." Tutur Dalvin sambil memasang kaus kakinya. Ia bersiap hendak ke kantor.


"Jadi, selama ini kamu mati-matian kerja untuk itu?" Tanya Soraya begitu terharu mendengar ucapan Dalvin. Ia sama sekali tidak menyangka tujuan Dalvin bekerja keras selama ini demi dirinya.


"Aku bahkan lebih baik terkurung dalam penjara daripada tidak bisa melihat, Sora... Itu pasti sangat menyiksa..." Ucap Dalvin.


Soraya terdiam. Ia juga membenarkan ucapan Dalvin di dalam hatinya. "Terimakasih, Vin... Aku tidak tahu lagi harus berkata apa... Kamu memang bagai malaikat yang diturunkan Tuhan untukku..."


Dalvin tersenyum. Ia meraih tangan Soraya dan menggenggamnya sesaat. "Jangan pikir macam-macam... Jika matamu bisa kembali melihat, kita bisa bicarakan kehidupan kita ke depannya... Entah mengapa aku merasa hidup kita begini-begini saja dari awal..."


Soraya termangu. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Dalvin, akan tetapi tiba-tiba hatinya merasa ketakutan karenanya.


"Aku berangkat..." Pamit Dalvin.


Soraya mengangguk. Setiap kali pintu terkunci, ia akan merasakan kesepian. Tapi untuk kali ini ia merasakan kesakitan lebih dari kesepian.


Dalvin memang suaminya, tapi ia tidak pernah tahu suami yang bagaimana. Memberikan segalanya kecuali nafkah batin, dan ia juga tidak berpikir menuntut atau menanyakan. Jika ditanya dirinya, mungkin ia juga tidak tahu apa jawabannya.


Di kantor, Dalvin dikejutkan dengan kedatangan Amira. selama ia bekerja disana, baru kali ini Amira datang. Ia berusaha menghindar agar gadis itu tidak mengetahui jika dirinya selama ini bekerja di bawah pimpinan papanya.


"Ngapain disana, Vin?" Pak Dwi mengejutkannya yang sedang bersembunyi di balik pintu toilet.


"Oh, tidak ngapa-ngapain, Pak... Tadinya saya mau keluar, eh dasi saya masih kurang rapi..." Jawab Dalvin beralasan.


"Kalau begitu rapikan lagi... Nanti keburu dilihat putri direktur..." Guyon pak Dwi sembari menepuk pelan pundak Dalvin.


"M-maksud Bapak?" Tanya Dalvin sedikit terkejut mendengar ucapan pak Dwi.


"Iya... Dia masih gadis, cantik pula, dan banyak sekali pria muda sepertimu menggilainya..."


Dalvin tersenyum. "Saya sudah punya istri, Pak... Cantik juga orangnya..."


"Tapi kalau tidak salah putri direktur kita juga sudah bertunangan, sudah lama rasanya... Hanya saja kami belum mendengar kabar pernikahannya." Jelas pak Dwi terlihat bingung.

__ADS_1


Dalvin hanya diam bersikap seolah tidak tahu-menahu. "Sudah selesai, Pak... Saya kembali terlebih dahulu..."


"Oh... ya, Vin, Silakan..." Angguk pak Dwi.


Dalvin kembali ke meja kerjanya. Ia sangat yakin jika Amira sudah pulang, mengingat bahwa gadis itu pernah bercerita kepadanya kalau dia sangat tidak suka berada di kantor papanya terlalu lama.


"Eh, Vin... tolong selesaikan rekapitulasi hasil penghitungan gaji karyawan bulan ini, ya... Kok saya merasa ada kejanggalan setiap kali menerima slip gaji, bahkan karyawan lainnya juga mengeluhkan hal yang sama dalam bulan ini..." Keluh salah seorang pegawai.


"Keluhan bagaimana, Pak Tora?" Balas Dalvin bertanya dengan wajah bingung. Ia segera memeriksa dokumen yang masih tersimpan di dalam komputer kerjanya.


Dalvin mengoceh keras. Dia mohon waktu kepada pegawai yang dipanggilnya Tora untuk memeriksa lebih detail lagi.


Sudah lewat waktu pulang, namun ia tak kunjung menemukan titik terang dalam permasalahan yang menimpa perusahaan. Ia menyerah, lalu bersiap untuk meninggalkan kantor.


Baru saja mobilnya hendak meninggalkan kantor, ia dicegat oleh seorang gadis yang tidak lain adalah Amira, gadis yang ia hindari dari sejak siang.


Dalvin menghentikan mobilnya dengan sangat terpaksa. "Amira?" Ucapnya berlagak terkejut.


"Vin, kebetulan sekali kita bertemu disini... Kamu kerja disini sekarang?" Tanya Amira seraya masuk ke dalam mobil Dalvin tanpa diminta.


"Eh? Emmm... Itu... Aku, aku dapat orderan di kantor ini... Aku sekarang jadi sopir online, Amira..." Jawab Dalvin berbohong.


Jadi, Amira menggantikan papanya? Pantas saja ia betah berlama-lama disini...


"Maaf, Amira... Aku harus cari penumpang lagi..." Dalvin berusaha menghindar. Ia terlihat risih.


"Begini saja, Vin... Kamu matikan saja aplikasinya sekarang, terus aku sewa mobil kamu, dan kamu sopirnya... Aku ingin jalan sama kamu, mau ya?" Pinta Amira memelas.


"Maaf, Amira…, aku tidak bisa..." Tolak Dalvin.


"Ayolah, Vin... please..." Amira semakin memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Nggak bisa, Amira... Istriku menunggu di rumah, aku harus pulang..." Tegas Dalvin.


"Baiklah, antar saja aku ke rumahku... Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan turun... Jadi, kamu harus mau..." Paksa Amira lalu segera memasang seatbelt.


Dalvin tidak menyahut lagi. Sebagaimana pun ia bersikeras menolak, Amira pasti akan tetap memaksa dirinya. Dia sudah hapal betul bagaimana sifat gadis itu. Dengan terpaksa ia melajukan mobilnya menuruti permintaan Amira.

__ADS_1


Amira menyeringai senang. Dalam perjalanan ia terus mengajak Dalvin berbicara, namun tidak sekalipun Dalvin menanggapi. Ia tidak kehabisan akal.


"Vin, aku haus... Berhenti sebentar disana, ya..." Pintanya.


"Minum di rumah saja..." Jawab Dalvin.


"Tapi, Vin... Aku sangat haus sekali... Kamu mau aku dehidrasi? Aku bisa sakit, Vin..." Rengek Amira.


Lagi, dengan terpaksa Dalvin menuruti keinginan Amira. Ia menepikan mobilnya di depan angkringan ala cafe, dan membiarkan Amira membeli minuman sendiri.


Tidak beberapa lama, Amira keluar dari dalam cafe sambil membawa dua gelas kopi.


"Tuh, kan cuma sebentar... Nih, satu untuk kamu..." Amira menyodorkan segelas kopi kepada Dalvin.


"Tidak perlu... Aku tidak haus..." Tolak Dalvin.


"Vin, aku sudah beli dua... Harusnya kamu bisa hargai dong... Anggap saja ini ucapan terima kasih aku, apa salahnya sih?" Amira memasang wajah sedih.


Untuk menghindari perdebatan, Dalvin menerima kopi yang disodorkan Amira, lalu ia meminumnya sampai habis.


Amira terkejut, tapi untuk beberapa saat kemudian ia malah menyeringai. "Kamu terlihat haus sekali ya, Vin? Jadi, tadi kamu menolak hanya karena malu?"


Dalvin tidak menyahut. Ia kembali melajukan mobilnya. Baru beberapa kilometer perjalanan, ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Melihat itu, Amira mencoba meraba bahu Dalvin.


"Vin, kamu kenapa?" Tanya Amira dengan lembut dan suara yang terdengar menggoda.


Dalvin menepis tangan Amira. Ia terlihat risih dan sangat terganggu.


Amira tidak menyerah. Ia kembali memegang lengan Dalvin. "Vin, kalau kamu lelah, berhenti saja dulu... Nah, itu ada hotel... Kita bersenang-senang sebentar..."


Dalvin semakin gelisah. Ia tidak mengerti mengapa miliknya tiba-tiba memberontak di bawah sana. Dan kemudian memutuskan untuk berhenti di depan hotel yang ditunjukkan Amira.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2