
Dalvin menghela napas berat. Walau ia tidak pernah meremehkan jabatan personalia, tapi memang bagian itu sangat menguras tenaganya.
Ia langsung diterima di bagian itu, karena memang perusahaan itu sangat membutuhkan staf personalia. Ia hanya sedikit was-was, jika Amira atau Duta berada disana dan bertemu dengannya.
Hari pertama kerja ia disuguhkan dengan banyak pekerjaan, sehingga ia merasa kewalahan.
"Vin, kamu rekap payroll dalam dua bulan ke depan, ya…." Suruh atasannya.
"Baik, Pak…." Jawab Dalvin mangut.
Hari pertama kerja, ia sampai lembur di kantor. Ia sampai terlambat pulang tanpa mengabari Soraya. Seharusnya ia pulang jam lima sore, tapi sudah lewat jam tujuh malam ia masih bergulat di depan komputer.
"Kasihan Sora menunggu lama. Tadi aku hanya meninggalkan bekal untuk makan siang, dan sekarang dia pasti sudah merasa lapar…." Gumam Dalvin mulai tak fokus.
"Ini juga, kenapa bisa terbengkalai begini, ya? Apa direktur perusahaan tidak tahu apa-apa tentang ini?" Keluhnya sambil memandangi layar komputer di hadapannya.
Setengah jam berlalu, Dalvin mulai merapikan meja kerjanya. Ia menggeliat melepas penat yang ia tahan sejak tadi.
"Ah, akhirnya selesai juga…." Dengus Dalvin.
Dalvin segera pulang, namun ketika ia sampai di parkiran, ia dicegat oleh seseorang yang belum ia kenal.
"Kamu pegawai baru, ya?" Tanya orang itu.
"Benar, Pak..." Jawab Dalvin sembari tersenyum.
"Yang bagian personalia itu, ya?" Tanya orang itu lagi dengan nada mengejek.
"Iya, Pak..." Dalvin mulai tak nyaman. Ia seakan merasakan bahwa orang itu tidak layak dibaiki.
"Owh... Saya atasan kamu... Mulai besok pagi bawakan saya secangkir kopi ke atas meja kerja saya..." Perintah orang itu.
__ADS_1
Dahi Dalvin mengerut. Ia ingin protes, namun apalah daya, ini hari pertama ia bekerja. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah berada dalam genggamannya.
"Baik, Pak..." Sahut Dalvin.
"Bagus…, sekarang pulanglah…." Orang itu menyeringai ketika berhasil menjadikan Dalvin sebagai mangsa.
Dalvin segera menuju ke mobilnya, membuat orang itu kembali memanggil. "Kamu mau kemana?"
"Pulang, Pak..." Jawab Dalvin berusaha menahan jengkel.
"Pakai mobil itu?" Tunjuk orang itu seolah tak percaya.
"Iya, Pak... Ini-"
"Personalia kok punya mobil mewah…? Manager saja belum tentu bisa memilikinya…" Potong orang itu dengan sombongnya.
"Oh, maaf, Pak... Teman saya orang kaya, dan dia sangat baik... Sebenarnya saya ditawarkan bekerja dengannya, tapi saya tolak... Jadi, dia paksa saya buat pakai mobil miliknya di hari pertama saya kerja…" Jelas Dalvin berbohong.
Dalvin memaksakan senyumnya, lalu masuk ke dalam mobil menahan rasa kesal.
****
Soraya tertawa tak henti-hentinya. Ia mendengar cerita Dalvin tentang atasannya yang pongah tadi.
"Cuma menyediakan kopi saja kamu menjadi jengkel begitu?" Tanya Soraya meledeknya.
"Itu bukan pekerjaanku, kenapa dia menyuruhku?" Kesal Dalvin.
"Terima saja... Kamu kan pegawai baru... Dari pada kamu dipecat, bagaimana?" Ujar Soraya masih dengan tawanya.
"Untuk satu bulan ini aku akan menuruti, tapi lihat saja, tidak akan lebih dari satu bulan..." Ketus Dalvin.
__ADS_1
"Tapi, aku jadi heran juga... Kok bisa-bisanya ada peraturan seperti itu?" Soraya menghentikan tawanya, ia mulai terlihat serius.
"Entahlah…, aku saja tidak pernah tahu. Andai dulu ada bawahanku yang mengalami hal sama dengan yang aku rasakan saat ini..." Ucap Dalvin kembali mengenang dirinya di masa lalu sebagai direktur di perusahaan papanya.
"Ah, dasar Aku saja yang ceroboh... Seharusnya aku lebih teliti kala itu…." Sambungnya tampak berputus asa.
"Sudahlah, itu sudah kodratnya kita yang menjadi bawahan…" Ucap Soraya yang bisa mengerti perasaan Dalvin.
"Jika aku diberi kesempatan lagi menjadi direktur utama perusahaan, aku akan memerhatikan hal kecil seperti ini... Aku tidak suka ada penindasan..." Tegas Dalvin.
Soraya mengangguk. Ia tersenyum mendengar setiap ucapan Dalvin. Terkadang lelaki ini bisa lebih dewasa, namun terkadang bisa menjadi kanak-kanak karena permohonannya.
"Semoga terkabul, ya..." Kata Soraya kemudian.
"Aku ingin menjual mobilku, lalu aku jadikan motor trail..." Kata Dalvin sambil melirik Soraya.
"Kenapa dijual?"
"Masa pegawai rendahan pakai mobil mewah? Lagian pakai motor dapat mencegah macet..." Jelas Dalvin.
"Apa nggak menyesal nantinya?" Tanya Soraya menantang keraguan di hati Dalvin.
"Ti-dak…, kenapa harus menyesal? Mobil itu aku yang beli, juga dengan hasil jerih payahku sendiri selama ini…." Jawab Dalvin.
"Aku memang tidak bisa melihat, Vin… Tapi, aku bisa merasakan perasaanmu… Jangan jual jika kamu sayang… Kalau kamu tidak ingin orang tahu itu mobilmu, kamu bisa naik busway atau ojek…" Papar Soraya begitu bijak, membuat Dalvin kembali berpikir ulang untuk rencananya menjual mobilnya itu.
.
.
.
__ADS_1
.