
Duta sampai di rumah Rio dengan menaruh harapan besar untuk bertemu Soraya. Namun sia-sia, ia benar-benar dihukum rasa penyesalan. Andai waktu itu aku tidak begitu, mungkin semuanya tidak akan begini, Duta terus berkata-kata mempersalahkan dirinya sendiri.
"Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi, Tuhan... Tolong bantu aku..." Pinta Duta sambil tersandar di depan pintu rumah Rio yang tampak sepi.
Ia bangkit dengan lesu. Entah sampai kapan ia akan menyesalinya sendiri, namun ia harus kuat dan berpikir untuk lebih berani menghadapi segala resiko hasil dari perbuatannya.
Menunggu Soraya disana bukanlah hal yang tepat untuk ia lakukan, sehingga ia memutuskan untuk pergi mencari ke tempat-tempat yang lain. Sesekali ia menoleh ke rumah itu sebelum benar-benar pergi, berharap akan ada tanda-tanda keberadaan Soraya di dalam.
Di dalam mobil ia memeriksa ponselnya dan mendapati notifikasi panggilan tak terjawab beberapa kali dari mamanya, dan sebuah pesan yang belum ia baca.
"Duta, kamu dimana, Nak? Kembalilah ke rumah sakit, adikmu kritis..."
Napas Duta menderu hebat. Ia bergegas melajukan mobilnya ke rumah sakit setelah mendapat kabar tentang Dalvin. Tak henti-hentinya ia memohon agar tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada adiknya itu.
"Bertahanlah, Vin... Bertahanlah..." Ucap Duta tampak panik.
Tertimpa lampu gantung yang berat itu memang membuat seseorang akan berada di ambang kematian, dan hal itulah yang ditakutkan Duta. Banyak kesempatan yang bakal terlewatkan, paling utama meminta maaf dan mengakui perasaannya kepada Dalvin bahwa ia sangat menyesal.
Sesampai di rumah sakit, Duta bergegas ke ruang tempat Dalvin dirawat dan kedua orangtuanya menunggu. Rasa cemas semakin mencekam dadanya, sekencang apapun ia berlari, ruang tempat Dalvin serasa begitu jauh dan tak berujung.
Larinya terhenti beberapa meter dari tempat orang tuanya berdiri. Ia melihat keputusasaan di wajah Sandra dan Dean. Hatinya semakin remuk, banyak dugaan-dugaan yang membuat tungkainya semakin layu.
"Ma... Pa..." Panggil Duta dengan suara terdengar parau.
"Dalvin baik-baik saja sekarang, Duta... Hanya saja dokter tidak bisa memastikan kapan ia akan terbangun..." Ujar Dean pasrah.
Mungkin sedikit lega setelah mendengar bahwa Dalvin baik-baik saja, namun hal yang membuat ia merasa sedih ketika Dalvin benar-benar dinyatakan koma dengan waktu yang lama.
Hari terus berlalu, Duta berubah menjadi sosok yang pendiam dan tertutup. Pegawai kantornya sering kali salah duga tentang apa yang akan ia perbuat jika ada seseorang melakukan kesalahan, ataupun sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Ia tidak mengamuk seperti sebelum-sebelumnya, melainkan memaafkan dan menasehati agar tidak terulang kesalahan yang sama sekali lagi.
Tiga bulan berlalu, Dalvin masih belum sadar dari komanya. Duta sore itu datang berkunjung ke tempatnya di rawat untuk melihat keadaannya, dan hal mengejutkan terjadi. Detak jantung Dalvin mengalami peningkatan dari biasanya untuk sesaat, dan membuat dokter merasa kebingungan karenanya.
Sekali lagi Duta merasa kecewa. Hal yang terjadi pada detak jantung Dalvin sama sekali tidak berpengaruh terhadap kesembuhannya. Dalvin belum juga kunjung sadar dari komanya.
__ADS_1
"Besok ada pertemuan dengan klien di luar kota, Duta..." Ujar Dean.
Duta menoleh kearah papanya dengan wajah sendu. "Aku tidak ingin kemana-mana, Pa..."
"Ini impian adikmu yang pernah tertunda." Ucap Dean membuat Duta terlihat dilema.
"Pembangunan rusun bergaya apartemen?" Duta mulai memerhatikan topik pembicaraan di antara mereka.
Dean mengangguk, lalu menoleh kepada Duta dengan wajah penuh harap.
Duta membalas dengan tertawa sumbang. "Proyek abal-abal yang sempat aku rendahkan dulunya? Sekarang ada klien yang berminat, Pa?"
Mata Duta memerah membayangkan betapa jahatnya ia dari dulu kepada adik tirinya itu.
"Kedua putra Papa memiliki kecerdasan masing-masing, kamu berhasil dengan proyek kamu di taman Matahari Biru-"
Duta tertawa memotong ucapan papanya. "Itu proyek Dalvin yang aku curi..."
"Meskipun begitu, kamu mampu menghandle dengan baik... Sehingga taman Matahari Biru begitu terkenal dan sangat menarik sebagai tempat wisata ternama di negara ini..." Ujar Dean lembut agar membuat Duta dapat memahami dirinya sendiri.
"Awalnya Papa sangat kecewa. Tapi karena tujuan kamu tidak hanya ingin mempermalukan adikmu, melainkan juga berusaha keras memberikan yang terbaik untuk proyek ini... Dalvin Papa berhentikan dari kantor agar ia dapat menemukan kesalahannya, dan belajar dari kamu. Kesalahan Papa, karena Papa belum berani berterus terang... Papa lebih menyesal saat ini dari pada kamu, Duta... Percayalah, Dalvin pasti akan memaafkan kita... Seperti Mama Wulan..."
Raut wajah Dean berubah sedih.
"Jika mama Wulan tidak pergi dengan begitu cepat, mungkin dia akan lebih mengerti posisi Papa... Dia pasti akan memaafkan Papa, dan pastinya bisa memahami mamamu..." Lanjut Dean dengan suara terdengar serak.
****
Soraya bolak-balik ke toilet sedari tadi. Perasaan mual terus bergejolak membuat ia lemah.
"Pak Dwi, bisakah aku menemui Bu Yas?" Tanya Soraya kepada kepercayaannya itu.
"Ada apa Nona ingin menemui istri saya?" Pak Dwi terlihat kaget mendengar permintaan Soraya yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
"Entahlah, Pak... Saya merasa tidak enak badan, mama dan papa juga sedang berada di luar kota saat ini... Mungkin dengan ditemani Bu Yas, saya akan jadi lebih baik..." Jawab Soraya sambil memegang perutnya yang masih terasa mual.
"Emm... Ibu anak-anak ada di rumah, sepertinya saat ini belum kemana-mana, Nona... Apa perlu saya antar?" Pak Dwi ikut terlihat khawatir akan kondisi Soraya. Wajahnya begitu pucat, dan matanya memerah.
"Tidak perlu, Pak... Pak Dwi tolong handle pekerjaan kantor saja... Saya pesan taksi online di depan..." Tolak Soraya dengan sopan.
"Baiklah, Nona... Saya akan beritahu istri saya bahwa Nona akan mampir, agar ia bisa memenuhi kebutuhan Nona Sora nantinya... Sepertinya Nona sangat kelelahan, akhir-akhir ini pekerjaan kantor memang sangat menumpuk." Ujar pak Dwi seraya mengambil ponselnya.
Soraya memang merasa ada masalah dalam dirinya, sehingga semua keadaan terasa hambar baginya. Melupakan Dalvin sudah ia mulai sejak terakhir kali berkunjung ke rumah Rio, namun yang pasti tidak akan mudah.
Ia sampai di rumah pak Dwi dan disambut bagai keluarga oleh istri kepercayaannya itu. "Bu Yas masak apa hari ini? Entah mengapa Sora ingin makan masakan Bu Yas..."
"Nona Sora sungguh ingin makan?" Tanya wanita paruh baya itu dengan wajah berbinar.
"Iya, Bu..."
Bu Yas mengajak Soraya ke ruang makan, ia menghidangkan semua makanan yang telah ia masak. Soraya menelan kasar saliva-nya. Tanpa basa-basi ia menyantap makanan itu seperti orang kelaparan.
"Entah apa yang terjadi sama Sora, Bu...?" Ucapnya dengan mulut penuh berisi makanan.
Bu Yas tertawa kecil. "Ibu Kalau hamil makannya juga begini loh, Non..."
Mendengar ucapan Bu Yas, Soraya tiba-tiba tersedak. Dengan cepat Bu Yas memberikan minuman untuknya.
"Memangnya orang hamil makannya banyak ya, Bu?" Tanya Soraya terlihat begitu ketakutan.
"Emmm tidak juga, Non... Bahkan ada juga sebagian perempuan hamil yang suka mual kalau mencium aroma makanan... Tapi kalau Non Sora makan banyak begini karena masakan Ibu enak, kan? Nggak mungkin juga sedang hamil. Bukankah Non Sora belum menikah...?" Ujar Bu Yas sambil tersenyum.
Soraya tampak gugup, lalu dengan terpaksa mengangguk membenarkan ucapan Bu Yas, walau di dalam hatinya dipenuhi banyak pertanyaan.
.
.
__ADS_1
.
.