MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
35. Dalam Pengaruh Obat


__ADS_3

Amira menyeringai senang ketika mobil Dalvin menuju kearah hotel. Dia percaya jika obat perangsang yang dicampurinya ke dalam minuman Dalvin sudah beraksi sempurna.


Dalvin menghentikan mobilnya hanya di tepi jalan. Dia bahkan tidak memasuki area hotel sama sekali.


"Kenapa berhenti disini, Vin? Kenapa tidak bawa mobilnya ke basemen?" Tanya Amira berubah bingung.


Dalvin tidak menyahut. Ia segera turun dari mobilnya lalu berputar ke pintu seberang. Dalvin membuka pintu di bagian Amira dengan kasar. "Turun kamu..."


"Ke- kenapa, Vin?" Amira kaget. Ia terus bertahan di posisinya.


Dalvin mulai kesal, lalu menarik paksa lengan Amira keluar dari mobilnya.


"Vin, jangan kasar... Sakit..." Teriak Amira.


Orang-orang di sekitar mereka mulai memerhatikan mereka.


"Bukankah kamu ingin bersenang-senang? Pergilah... Aku sudah lelah dengan sikap kamu, Amira..." Kesal Dalvin.


"Salahku apa, Vin?" Tanya Amira berlagak tersakiti.


"Sudahlah, Amira... Cari saja taksi, dan jangan pernah ganggu aku lagi..." Ketus Dalvin.


"Tapi, Vin... Kamu masa tega ninggalin aku disini? Aku ini perempuan, Vin..." Rengek Amira memelas. Ia berusaha mencari simpati orang-orang disana agar Dalvin malu dan tidak jadi meninggalkan dirinya sendiri disana.


"Tuan, istri Anda ini seorang perempuan, bagaimana bisa Anda tega meninggalkannya di jalanan yang gelap begini?" Benar saja, seorang lelaki datang menghampiri mereka.


Amira tersenyum melihat gelagat Dalvin yang dipenuhi rasa serba salah.


"Dia ini bukan istri saya... Dan jika Anda sangat kasihan kepadanya, kenapa bukan Anda saja yang mengantarkannya pulang?" Ucap Dalvin jengkel.


"Tidak perlu mengemis kepada lelaki yang tidak punya hati ini, Nona..." Orang itu kesal mendengar ucapan Dalvin.


Dalvin benar-benar muak. Ia meninggalkan Amira bersama lelaki yang sok ikut campur permasalahan mereka.


"Vin... Vin, please kembali... Viiin.... Dalviiiiin..." Panggil Amira sambil berusaha mengejar mobil Dalvin yang mulai berjalan meninggalkan area depan hotel.


Amira menghentakkan kakinya. Ia sangat kesal karena tidak berhasil menjebak Dalvin ke dalam perangkap yang telah ia buat, lalu memandang jengkel kearah lelaki yang berusaha menolongnya tadi.


"Lain kali akan ku pastikan kamu bertekuk lutut kembali padaku, Vin..." Ucap Amira dengan yakin. Ia menyetop taksi dan pergi dari sana.


Sementara itu, Dalvin sungguh tidak tahan dengan gejolak yang ia rasakan saat ini. Berkali-kali ia memukul stir mobilnya, merasa kesal karena dengan mudahnya terkecoh oleh Amira.

__ADS_1


Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya. Sesampai ia di rumah, ia segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Dalvin?" Soraya terkejut. Suara hentakan pintu yang terbuka terdengar begitu keras.


"Dalvin, kamu kenapa?" Soraya yang menyadari keberadaan Dalvin di kamar mandi, langsung mengikutinya.


Soraya bingung. Tidak biasanya Dalvin pulang begitu cepat dan tanpa menyapa.


Di dalam kamar mandi, Dalvin menghidupkan keran air sebesar-besarnya. Ia menyiram tubuhnya berusaha mendinginkan suasana hatinya. Ia sangat berharap obat perangsang yang diberi Amira dapat lenyap dari tubuhnya.


Hampir sejam ia di dalam kamar mandi. Segala upaya telah ia lakukan, namun gejolak itu tak juga mereda.


"Vin... Kamu baik-baik saja, kan?" Untuk kesekian kalinya ia mengabaikan panggilan Soraya dari luar.


Ceklek


Pintu kamar mandi ia buka. Soraya tampak mundur selangkah. "Kamu, em... Tidak ada masalah, kan, Vin?"


Dalvin tiba-tiba memeluk Soraya dengan erat.


"Dalviiin?" Pekik Soraya. Ia sangat terkejut merasakan pelukan Dalvin yang begitu tiba-tiba.


"To- tolong bagaimana?" Tanya Soraya berusaha memberontak.


"Dia menjebak ku, Sora... Dia berniat buruk padaku... Tolong, Sora... Tolong layani aku..." Dalvin tak kuasa menahan perasaannya. Ia seolah mengemis untuk dilayani oleh istrinya sendiri.


Mendengar pengakuan Dalvin, Soraya terdiam. Ia mulai paham yang dimaksudkan Dalvin terhadap dirinya. Sebuah hak dan kewajiban yang seharusnya sudah lama mereka terima dan mereka kerjakan bersama. Tapi ini untuk kali pertama, dan Dalvin memintanya dalam keadaan terpaksa.


Melihat diamnya Soraya, Dalvin beranggapan bahwa istrinya itu tidaklah menolak dirinya. Ia sungguh tidak tahan, sehingga ia menggendong Soraya ke tempat tidur.


Soraya memang tidak menolak Dalvin. Ia berpikir, mungkin beginilah caranya ia membalas semua kebaikan Dalvin kepadanya.


Dalvin mengecup bibir Soraya. Ia tidak melakukannya dengan tergesa-gesa, meskipun obat perangsang itu telah bekerja sedari tadi di dalam tubuhnya.


"Apa ini yang pertama bagimu?" Bisik Dalvin.


Soraya mengangguk pelan.


"Maafkan aku..." Ucap Dalvin merasa bersalah.


"Kenapa minta maaf? Kita sudah menikah, dan kamu berhak atas tubuhku..." Jawab Soraya.

__ADS_1


Dalvin mematikan lampu, lalu memejamkan matanya. Mungkin akan lebih adil jika ia juga tidak melihat. Ia mulai melepas pakaian Soraya, lalu meraba tubuh gadis yang memang sudah menjadi miliknya seutuhnya.


Ini yang pertama, bukan hanya bagi Soraya, melainkan juga bagi dirinya. Dan ia melakukannya atas dasar cinta, ia sangat yakin itu, bukan atas dasar terpaksa atau karena nafsu semata.


Dalvin merasakan getaran di tubuh Soraya setiap kali tangannya meraba bagian-bagian sensitif tubuh istrinya itu. Ia juga semakin terangsang ketika Soraya mengeluarkan erangan syahdu.


Ragu-ragu, ia mulai menindih tubuh Soraya. Terdengar jeritan panjang yang membuat ia semakin menguatkan genggaman tangannya di telapak tangan Soraya.


(…)


Dalvin sangat lelah. Pengaruh obat itu benar-benar membuat ia tidak memberikan ruang bernapas untuk Soraya. Entah berapa kali ia melakukannya, barulah ia merasa puas dan lega.


Ia kembali menghidupkan lampu di sebelahnya. Ia baru menyadari bahwa Soraya menangis ketika melayaninya tadi. terlihat cairan bening mengalir di ruas-ruas tepi mata Soraya.


"Apa kamu membencinya?" Tanya Dalvin merasa bersalah.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Soraya balik bertanya tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Dalvin.


"Apa?"


"Apa kamu akan mencintaiku setelah ini?" Tanya Soraya dengan suara terdengar serak.


"Jika kamu menuntut cinta, maka aku akan jawab setelah kamu bisa melihat nanti..." Ucap Dalvin sambil menyeka air mata Soraya.


"Lalu, bagaimana jika tidak ada kesempatan bagi aku untuk dapat melihat lagi?" Tanya Soraya pasrah.


"Maka kamu tidak akan pernah mendengar jawabannya... Tapi yang pasti, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sora..." Janji Dalvin bersungguh-sungguh.


Soraya terdiam. Wajahnya terlihat kecut dan bersedih.


Dalvin menarik tubuh Soraya ke dalam dekapannya, lalu mengelus lembut kepala Soraya. "Jangan pernah meragukan aku, Sora... Aku akan selalu bersamamu. Aku lelaki normal. Sudah lama aku tersiksa karena ini, Sora... Kamu perempuan cantik, mustahil bagi orang lain bisa bertahan lama sepertiku yang berada dekat denganmu... Dan mulai hari ini, aku hanya akan mencari mu setiap kali aku butuh..."


Soraya mengangguk. "Aku istrimu, dan aku harus bisa melayani suamiku..."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2