MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
7. Gadis Buta


__ADS_3

"Heeeeyyy..." Pekik Dalvin. Ia terjungkal dari posisinya. Entah sejak kapan, namun yang pasti dia merasakan dengan tiba-tiba saja jemari seseorang menyentuh wajahnya.


Tubuhnya tiba-tiba menggigil. Ia mengusap-usap pantatnya yang terasa sakit. Namun ketika ia melihat sosok yang menyentuh wajahnya tadi, ia terpana.


"Cantik..." Desirnya di luar kesadarannya.


"Ka-kamu temannya Rio?" Tanya sosok itu yang ternyata seorang gadis.


Dalvin tersadar. Ia tak langsung menjawab. Ia berusaha bangkit dengan perasaan mulai jengkel. "Kamu mengejutkanku..." Rutuk Dalvin sambil mengipas punggungnya yang sempat tersandar ke dinding.


Gadis itu tak melihat kearahnya, melainkan kearah berbeda dengan tatapan yang kosong. Ia hanya mengandalkan telinganya untuk mendengar.


"Kamu buta, ya?" Hardik Dalvin lagi.


"Maaf..." Ucap gadis itu masih tak menoleh.


Dahi Dalvin mengerut. Ia mengibaskan tangannya ke depan wajah gadis itu. Ia ternganga, tak ada reaksi sedikitpun.


"Kamu, beneran buta?" Tanya Dalvin sambil melunakkan suaranya. Perasaan bersalah datang mengganggu hatinya.


Gadis itu tak menyahut. Wajahnya terlihat lebih murung.


"Maafkan aku... Aku tidak tahu..." Ucap Dalvin semakin merasa bersalah mengingat perkataannya tadi.


"Kamu temannya Rio?" Ulang gadis itu bertanya.


"Iya... Saya, Dalvin, temannya Rio..." Jawab Dalvin.


"Masuklah... Maaf... Ini sedikit berantakan..." Ucap gadis itu seraya mundur.


"Ada beling disana..."


Dalvin yang tahu di belakang gadis itu berserakan beling, secepat kilat menarik lengan gadis itu hingga terjerembab ke dalam pelukannya. Lagi-lagi Dalvin merasakan sesuatu yang berbeda. Ia menatap wajah gadis itu dengan seksama.


"Maaf..." Ucap gadis itu bersegera melepaskan diri dari dekapan Dalvin.


"Ah... shhhh..." Gadis itu meringis sambil meninjitkan kaki. Tampaknya ia baru merasakan kesakitan setelah dari awal menginjak beling yang ia pecahkan sendiri.


Dalvin menoleh ke bawah. Ia baru menyadari kaki gadis itu terluka dan mengeluarkan banyak darah.


"Kamu ceroboh sekali..." Umpat Dalvin. Rasa iba muncul di hatinya. Ia menggendong Gadis itu dan masuk ke dalam rumah dengan hati-hati.

__ADS_1


Dalvin meletakkan gadis itu di sofa. Ia hapal betul seluk-beluk rumah itu. Ia membuka gorden jendela, dan betapa terkejutnya ia, rumah itu sangatlah berantakan.


"Ini tidak lagi sedikit... Tapi ini sangat-sangatlah berantakan..." Omel Dalvin dengan suara berbisik.


Ia kembali ingat kondisi gadis itu, lalu mengambil kotak P3K di dalam laci bofet yang terletak di samping pintu kamar Rio.


Dalvin ikut duduk di sofa yang sama. Dengan hati-hati, ia menarik kaki gadis itu ke pangkuannya.


"Sebenarnya kamu siapa?" Tanya Dalvin sambil membersihkan luka di telapak kaki gadis itu.


"Aku Sora, Soraya Amarta..." Jawab gadis itu. Ya, dia Soraya Amarta, gadis buta titipan Rio.


"Hubunganmu dengan Rio?"


"Rio... Dia pacarku..." Jawab Sora polos.


"Pacar? Sejak kapan kalian berpacaran? Kok aku tidak pernah tahu?" Sungut Dalvin.


"Memangnya kamu harus tahu apa pun tentang Rio?" Soraya balik bertanya. Tampak gadis itu mulai nyaman dengan keberadaan Dalvin.


"Ya, aku tidak perlu harus atau tidak harus tahu. Tapi, selama ini Rio hidup bersamaku. Aku tahu betul siapa dia, bahkan aku sangat hapal sekali setiap sisi dan sudut rumah ini. Jadi, pasti aku tahu dengan siapapun ia bergaul." Tutur Dalvin sambil membaluti kaki Soraya dengan perban setelah selesai diobatinya.


"Di rumah sakit..."


"Di rumah sakit? Kapan itu?" Dalvin semakin dibuat penasaran. Ia terus bertanya untuk mencari tahu siapa Soraya sebenarnya.


"Rio lelaki baik... Hanya saja, penyakit yang dideritanya membuat lelaki sebaik dia harus pergi begitu cepat meninggalkan dunia ini..." Soraya terdiam. Wajahnya kembali murung.


"Kamu tahu dia sakit?" Tanya Dalvin tak percaya. Ia sedikit cemburu, ternyata dirinya tak seberarti seorang pacar bagi Rio.


"Memangnya kamu tidak tahu?" Soraya balik bertanya.


Dalvin menggeleng. Ia merenung dan merasa berkecil hati.


"Hey... Kalau orang bertanya, ya dijawab?" Sarkas Soraya.


"Aku kan sudah men..."


Ah... Dia kan buta...


"Aku tidak tahu..." Jawab Dalvin melunak.

__ADS_1


"Terus, masih mengaku jika kamu teman yang baik?" Ketus Soraya mengejek.


"Bukankah katamu dia lelaki yang baik?" Meski hatinya panas, Dalvin tetap mencari alasan untuk berkilah.


"Memang..."


"Karena itulah aku tidak tahu sama sekali tentang penyakitnya. Mungkin dia tidak ingin membebaniku..." Ujar Dalvin menjelaskan, lebih tepatnya mencari pembelaan diri.


"Ah... Klasik..." Ejek Soraya tak mau percaya.


"Memangnya dia menceritakan langsung kepadamu tentang sakitnya? Aku rasa tidak tuh..." Balas Dalvin merasa tidak terima.


Soraya terdiam.


"Tidak, kan?" Desak Dalvin.


Soraya menggeleng pelan.


"Kamu tahu Rio baik, Sementara kamu tidak bisa melihat... Apa kamu tidak takut? Bahkan baru mengenal saja, kamu malah mau tinggal serumah bersamanya..." Sarkas Dalvin membalas kata-kata Soraya yang sedari tadi memojokkan dirinya.


"Kamu tidak tahu apa-apa... Dan aku rasa, kamu juga tidak perlu tahu..." Kilah Soraya seraya berdiri.


"Aaawww..." Pekik Soraya. Ia kembali terenyak ke sofa.


"Hati-hati, Sora..." Dalvin menahan lengan Soraya. Ia terlihat khawatir.


Soraya malah menepis tangan Dalvin. "Tidak perlu mencemaskan orang yang baru kamu kenal..." Ucap Soraya seakan membalas Dalvin.


"Si-siapa yang cemas? Saya hanya kasihan... Dan juga, Rio telah mengamanatkan kamu kepadaku..." Ucap Dalvin beralasan.


"Hah? Amanat?" Soraya tertegun. Ia tak menyangka, sebelum meninggal pun, Rio masih saja memikirkan dirinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2