MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
19. Inikah Kenikmatan Yang Sesungguhnya Itu?


__ADS_3

Ingat, pernikahan kita hanya karena terpaksa, Sora...


Soraya terus merenungi satu kalimat Dalvin semalam. Ia sadar akan hal itu, namun ia baru menyadari rasa sakitnya ketika Dalvin kembali mengulangi perkataannya sebagai tekanan untuk Soraya.


"Sora rindu mama dan papa..." Lirihnya sambil menangkupkan Wajahnya di atas telapak tangannya sendiri.


"Andai Sora tidak buta..." sesalnya lagi.


Soraya terisak. Ia baru merasakan perih lagi setelah terakhir kalinya ketika menyadari ia menjadi buta.


Tok tok tok


Soraya mengusap kasar wajahnya. Ia beringsut turun dari tempat tidur hendak membukakan pintu.


"Non Soraya, ini Bi Yuna..." Terdengar seruan bi Yuna dari luar.


"Sebentar, Bi..." Sahut Soraya berusaha menggapai pintu.


Soraya membuka pintu dengan perlahan. Ia menyembunyikan dirinya di balik pintu itu.


"Non, Bibi bawakan makan siang untuk Non Soraya... Boleh Bibi masuk?" Tanya bi Yuna. Di tangannya terdapat nampan berisi sepiring nasi beserta minumannya.


"Silakan, Bi..." Jawab Soraya sambil tersenyum.


Suara langkah kaki bi Yuna dapat ia dengar dengan jelas, sehingga ia tahu perempuan paruh baya itu telah masuk ke dalam kamar Dalvin.


Soraya menutup pintu, lalu mengikuti bi Yuna ke Sofa.


Setelah meletakkan nasi untuk Soraya di atas meja, bi Yuna menatap lekat wajah Soraya. Ia begitu takjub melihat kecantikan yang sebenarnya pada gadis itu.


"Non Sora pasti merasa terkekang, ya?" Tanya bi Yuna tiba-tiba.

__ADS_1


"Maksud, Bi Yuna?" Soraya balik bertanya. Ia tidak mengerti mengapa bi Yuna mempertanyakan hal itu.


"Non Sora pasti ingin keluar juga, kan?" Bi Yuna tak menjelaskan. Ia seakan lebih tahu tentang Soraya dibandingkan dengannya sendiri.


"Sora hanya tidak mengerti mengapa Dalvin melarang Sora keluar, Bi... Sora bagai putri Rapunzel walau baru sehari berada di rumah ini..." Keluh Soraya.


"Bi Yuna mengerti perasaan Non Sora... Tapi percayalah, apa yang dilakukan tuan Dalvin adalah yang terbaik untuk dirinya dan diri Non..." Jelas bi Yuna.


"Apa hubungan Dalvin dan keluarganya tidak baik ya, Bi? Mengapa Dalvin bersikap begitu dingin jika berada di rumah ini?" Tanya Soraya.


"Ya, begitulah, Non..." Jawab bi Yuna.


Soraya hendak bertanya lagi, namun segera ia urungkan. Seperti halnya dengan masalah pribadinya, mungkin Dalvin pun juga begitu. Ia tidak ingin orang lain tahu.


"Kalau begitu Bibi kembali ke belakang ya, Non... Non Sora habisin makanannya..." Pamit bi Yuna.


"Baiklah, Bi... Terimakasih, maaf merepotkan Bi Yuna..." Ucap Soraya.


Selepas bi Yuna pergi, Soraya segera menyantap makan siangnya. Ia jadi tak berselera, namun sesuai pesan bi Yuna tadi, ia harus menghabiskannya.


Dalvin sangat lelah. Ia tampak mulai berputus asa. Setelah terakhir kali mengucapkan sumpah untuk tidak mau menginjakkan kakinya lagi di perusahaan papanya, ia harus gonjang ganjing mencari pekerjaan.


Sudah beberapa kali ia mengikuti interview, namun tidak satupun ia diterima.


Tabungannya mulai menipis, dan hal tidak mungkin jika ia harus merengek kepada papanya untuk biaya hidupnya dan Soraya.


Mata Dalvin begitu sayu. Sebuah perusahaan besar berdiri di hadapannya.


"Angkasa Raya... Hal mustahil jika aku bisa masuk dan bergabung di perusahaan ini... Papa Amira pasti akan menolakku..." Gumam Dalvin. Ia baru menatap luarnya saja, namun ia sudah terlebih dahulu pesimis dan memutar arah membelakangi gedung itu.


Dalvin mengangkat lengannya untuk melihat waktu. Ia menghela napas berat. "Sudah sore..." Ocehnya.

__ADS_1


Dalvin kembali ke mobilnya dan memutuskan untuk pulang.


Di perjalanan pulang, ia tak sengaja melihat pedagang burger yang sangat sepi pembeli. Ia merasa kasihan, lalu menepikan mobilnya tepat di samping gerobak pedagang itu.


"Sora pasti akan menyukainya..." Ucapnya sambil tersenyum mengingat istrinya di rumah.


"Bungkus dua, Pak..." Pintanya.


Pedagang itu mengangguk. Tampak binar bahagia di wajah tua yang mulai keriput.


Baru saja pesanannya dibungkus, beberapa orang datang berkerumunan untuk membeli juga. Pedagang itu semakin semangat. Dengan buru-buru ia menyelesaikan pesanan Dalvin.


"Ternyata benar, tidak ada usaha yang mendustakan hasil... Semangat Dalvin..." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Dalvin kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah. Sesampai di rumah, seperti biasanya ia akan langsung masuk ke kamarnya. Kali itu ia melihat papanya, namun papanya terlihat acuh dan tidak menghiraukan kedatangannya.


Hati Dalvin begitu sakit jika diacuhkan seperti itu. Tapi ia sadar, sudah menjadi resiko baginya, apalagi ia menikah tanpa memberitahu papanya kandungnya sendiri.


Dalvin membuka pintu kamarnya perlahan-lahan. Ia melihat ke sekeliling. Kamarnya kosong. Ia tak menemukan keberadaan Soraya di dalam.


"Sora..." Panggilnya.


"Soraaa..." Ulangnya lagi.


"Soraya Amarta?"


Beberapa kali ia memanggil, namun sama sekali tidak ada jawaban. Dalvin berlari kearah kamar mandi. Baru saja ia hendak menarik gagang pintu, namun pintunya malah terbuka terlebih dahulu dari dalam.


Awalnya ia sangat terkejut. Baru saja ia hendak memaki, Soraya bergerak menampakkan tubuhnya yang hanya dibaluti handuk putih.


Dalvin mematung. Matanya sama sekali tak berkedip melihat keindahan tubuh Soraya. Rambut Soraya pun juga tersimpan dalam gulungan handuk.

__ADS_1


Oh Tuhan, inikah kenikmatan yang sesungguhnya itu?


Dalvin menelan ludah pelan-pelan. Ia yakin gadis itu belum mengetahui keberadaannya. Ia bergerak pelan dan kembali ke pintu kamar, lalu berpura-pura membuka pintu seolah-olah ia baru saja datang.


__ADS_2