MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
41. Pertemuan Soraya Dengan Rio


__ADS_3

Soraya berjalan perlahan-lahan dengan memapah diri ke dinding. Air matanya terus mengalir tanpa sekalipun ia seka.


"Aku benci... Aku benci gelap... Aku sangat membenci semuanya... Kenapa aku bisa buta? Kenapa, Tuhaaaan?" Erangnya seolah tak terima dengan kenyataan hidupnya sendiri.


"Mau seterang apa dunia yang kamu butuhkan?" Tiba-tiba terdengar sahutan dari seorang lelaki muda yang berjalan mengekornya.


Soraya tersentak lalu semakin mempercepat langkahnya.


BAAMM...


Tong sampah di depannya membuat ia tersungkur. Ia semakin terisak meratapi kekurangan dalam dirinya.


"Ulurkan tanganmu, biarkan aku membantumu..." Ucap lelaki itu sambil membungkuk di hadapannya.


"Siapa kamu?" Ketus Soraya berusaha menguatkan diri agar tidak terlihat takut.


Lelaki itu malah tersenyum, dan tanpa izin menarik bahu Soraya untuk duduk di bangku panjang rumah sakit.


"Heeemmm... Tidak baik banyak mengumpat..." Ucap lelaki itu lagi.


"Dan sebaiknya tidak perlu juga ikut campur dengan urusan orang lain, kan...?" Balas Soraya sembari memperlihatkan muka masam.


"Ini masih di lingkungan rumah sakit, dan aku mendengar keributan yang membuat banyak orang terganggu karenanya... Apa harus aku biarkan begitu saja?" Lelaki itu berkata sambil tersenyum.


Soraya terdiam. Ia merasa terpojok karena ucapan lelaki itu.


"Apa dengan marah bisa membuat semua lebih baik?" Tanya lelaki itu lagi.


Soraya menunduk. Ia kembali menangis.


"Mereka tidak bisa membantuku sama sekali... Padahal aku hanya ingin melihat lagi... Aku tidak sanggup lama-lama dalam kebutaan ini..." Isak Soraya tidak peduli dengan siapa ia sedang bercerita.


"Siapa yang tidak bisa membantumu?" Dengan sabar lelaki itu terus menanyai dirinya.


"Mereka, mereka tidak mau mencarikan aku mata... Mereka membiarkan aku terus-terusan buta seperti ini..." Umpat Soraya kesal.


"Dokter?" Seperti seorang kakak yang menenangkan adik kecilnya, begitu sabar lelaki itu memperlakukan dirinya.


Soraya mengangguk. Ia kemudian menyeka air matanya karena merasa lebih baik setelah mengutarakan perasaannya kepada seseorang, meski orang itu tidak diketahuinya siapa.


Lelaki itu mengambil tangan Soraya lalu ia bersalaman dengannya. "Aku Rio..."


Soraya terdiam sejenak sambil menggigit bibir bawahnya. Ia merasa sedikit risih, namun ia mulai percaya bahwa lelaki ini terdengar tulus.


"Soraya..." Balas Soraya memperkenalkan dirinya.


Rio tersenyum lalu perlahan mengurai jabat tangan mereka.

__ADS_1


"Donor mata itu ada prosedurnya, Raya..."


"Jangan panggil aku Raya..." Potong Soraya cepat.


Dahi Rio mengerut tipis. Ia melihat betul rasa tidak suka Soraya ketika dipanggil Raya.


"Sora, atau Soraya... Itu lebih tepat..." Sambung Soraya meralat nama panggilan untuk dirinya.


"Wanita memang sulit dimengerti..." Dengus Rio sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Padahal hanya sebuah nama, ia bahkan mempermasalahkannya sampai ke akar-akarnya..."


"Kamu dokter, kah?" Tanya Soraya tanpa menggubris perkataan Rio.


"Bu- Emm, iya... Aku dokter disini..." Jawab Rio berbohong.


"Jadi, bagaimana prosedurnya? Apa kamu bisa membantuku secepatnya? Tadi aku tidak mendengar kepastian dari dokter di rumah sakit ini, mungkin kamu bisa saja berbeda..." Desak Soraya.


"Begini saja... Kamu sebutkan dimana alamat rumahmu, dan aku akan mengantarmu pulang... Besok ketika sudah ada pendonor, aku akan segera menjemputmu lagi... Tidak akan lama, percayalah..." Bujuk Rio dengan hati-hati.


"Aku tidak akan pulang sebelum aku bisa melihat lagi... Di rumahku tidak aman sekarang..." Bantah Soraya menolak bujukan Rio.


"Tidak aman?"


"Orang tuaku... Emmm, aku tidak harus cerita hal pribadi, kan?" Ketus Soraya menolak untuk berterus terang.


"Baiklah... Lalu aku harus mengantarmu kemana?" Tanya Rio lagi masih dengan sabarnya.


"Iya, tapi tidak harus menunggu disini, Soraya... Atau, bagaimana jika kamu pulang ke rumahku saja?" Ujar Rio terus berusaha membujuk Soraya.


"Rumahmu? Kamu siapa? Apa kamu bisa aku percaya?" Tanya Soraya sinis.


Rio tergelak. "Konyol... Kamu benar-benar konyol, ya..."


Rio menghentikan tawanya, lalu memegang bahu Soraya dan menatap wajah pucat itu dengan serius.


"Maaf jika ini terasa lancang olehmu... Tapi, hal mustahil jika aku memintamu menatap mataku hanya untuk bisa melihat ketulusan niatku, kan...?" Ujar Rio.


"Aku tidak mengenalmu, lalu bagaimana mungkin aku bisa pulang ke rumahmu? Siapa kamu sebenarnya? Apa mau kamu?" Berang Soraya sambil membuang muka.


"Masa dokter ajakin pasien ke rumahnya?" Gumam Soraya berbisik.


Rio tersenyum sendiri. "Aku mendengarnya..."


****


Setelah dengan susah payah membujuk, akhirnya Rio berhasil membawa Soraya pulang.


"Ini rumahku, Jalan Merpati Putih nomor 9B..." Ucap Rio.

__ADS_1


"Jauh dari rumah sakit?" Tanya Soraya yang masih diam di posisinya.


"Lumayan... Kalau mau ke rumah sakit, panggil taksi saja di depan... Kamu cukup mengatakan nama rumah sakitnya ke sopir taksi itu..." Jawab Rio seraya masuk ke dalam kamarnya.


Soraya menunggu sambil meremas perutnya yang terasa lapar dan berkali-kali berbunyi sedari mereka sampa ia.


Tidak beberapa lama Rio kembali ke hadapan Soraya.


"Mari ku antar ke kamar..." Ajak Rio sambil menggandeng tangan Soraya.


"Jangan macam-macam, ya..." Ucap Soraya memperingati.


"Bawel..."


Meski Soraya terlihat ragu-ragu, namun Rio tetap sabar membantunya. Hal Wajar jika gadis itu hati-hati dengan dirinya. Jika Soraya tidak buta, mungkin dia akan cepat menolak ajakan Rio. Masih banyak tempat bagi gadis seperti Soraya selain memilih tinggal di rumah orang yang tidak ia kenal, apalagi seorang lelaki.


"Di sudut ada kamar mandi, kamu bisa gunakan sesuka hatimu... Ya, anggap saja rumah sendiri..." Terang Rio.


"Tadi aku beli makanan, ini juga ada roti yang bisa tahan dua bulan... Tapi, kalau melihat dari size badanmu, seminggu juga habis..." Canda Rio sambil tertawa kecil.


"Kamu pikir aku rakus?" Rutuk Soraya berlagak kesal.


"Bercanda... Oh ya, aku akan ke kantor lagi hari ini... Kamu-"


"Ke kantor?" Potong Soraya cepat. Wajahnya tiba-tiba berubah curiga kembali.


"Emmm, maksudku ke rumah sakit... Aku ada pasien hari ini..." Ujar Rio meralat ucapannya.


"Kamu istirahat saja, ini aku beri kunci serap... Jika kamu masih saja tidak percaya aku, kamu bisa pergi diam-diam...," kata Rio sembari menyodorkan sebuah kunci ke tangan Soraya.


Suasana mendadak hening ketika suara langkah kaki Rio berangsur menjauh.


"Terimakasih, Rio..." Ucap Soraya sebelum Rio benar-benar pergi. Hatinya telah lunak dan mulai percaya penuh.


Ia sedikit malu ketika tidak mendapat jawaban dari Rio. "Setelah aku bisa melihat nanti, aku akan bayar semuanya..."


Rio tersenyum. Lalu mengangguk sambil menyahuti ucapan Soraya, dan pintu kamar pun terdengar berderik disusul pintu luar rumah.


Soraya yang kelaparan segera meraba makanan yang dikatakan Rio tadi di atas meja samping tempat tidur.


Perutnya yang melilit kelaparan sudah tidak tahan ketika mencium aroma makanan yang dibelikan Rio untuknya. Tanpa menunda-nunda, ia langsung melahap makanan itu dengan cepat.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2