MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
51. Gundah


__ADS_3

"Papa kalian tidak sempat menjelaskan kepada mama Wulan tentang kami, papa merasa telah dengan sengaja membuat mama Wulan meninggal..." Tangis Sandra melanjutkan ceritanya.


"Jadi, Mama tidak tahu kalau papa sudah menikah sebelum menikah dengan Mama?" Tanya Duta merasa prihatin terhadap mamanya sendiri setelah ia mendengar semuanya.


Sandra menggeleng. "Papa menikahi Mama karena merasa berhutang budi dengan kakek kamu. Waktu itu papamu pulang dari luar kota, dan papamu hampir menjadi korban begal. Kakek menyelamatkan papamu, sehingga papa sering mampir ke rumah kakek setiap kali ia melakukan perjalanan ke luar kota."


Sandra menghela napas berat. "Suatu hari sakit kakek semakin parah, dan kunjungan terakhir kali papamu untuk melayat sekaligus menikahi Mama..."


Sandra terisak mengenang kisah pertemuannya dengan Dean. Duta yang merasakan kepahitan di hatinya, segera menggenggam jemarinya. Lalu ia dibawa ke dalam pelukan anak nya itu.


Ia belum puas, lalu ia keluar kembali dari pelukan Duta. "Karena mama Wulan hamil tua, papa kalian akhirnya mengakui semuanya kepada Mama. Mama marah... Mama kecewa karena merasa telah dibohongi oleh papa kalian, dan Mama memutuskan untuk membuat ulah. Mama ingin papa kalian menceraikan Mama dengan cara meminta papa kalian memilih antara Mama atau Mama Wulan. Dan tanpa kami sadari, Mama Wulan mengetahui semuanya..."


Sandra terisak hebat. "Oh Tuhan... Ini salah Mama..."


Duta kembali memeluk Sandra. Ia tidak tahan melihat penyesalan di wajah mamanya itu.


"Mertua Mama, nenek kalian tidak pernah menyukai Mama... Beliau memaksa papa kalian untuk menikahi Mama agar ada yang bisa mengurus Dalvin dan papa kalian. Tapi pada kenyataannya, beliau tidak pernah membiarkan Dalvin menganggap Mama sangat tulus menyayanginya seperti Mama menyayangimu..." Isak Sandra melepas segala beban di hatinya.


Ia benar-benar memiliki kesempatan untuk menceritakan semuanya kepada Duta, di saat Duta terlihat menyesal dan lebih bersikap dewasa dibanding sebelumnya.


"Mama pikir dengan meninggalnya nenek, Mama akan merdeka... Tapi kenyataannya Dalvin memang takut jika melihat Mama... Ia selalu saja merasa sendirian..."


Duta mengelus lembut punggung Sandra. Ia baru memahami sedalam apa luka yang ditanggung mamanya selama ini.


"Aku bahkan tidak lagi mengingat hal kecilku. Yang aku tahu, aku tidak menyukainya, Ma... Dan aku pikir, dia akan membenciku karena sikapku itu... Tapi..." Duta terisak. Bayangan Dalvin berdarah-darah, kembali membuat ia merasa pedih.


Sandra menggeleng. Ia menggamit pipi Duta dengan kasih sayang. "Ayo kita ke rumah sakit... Kasihan papa... Dan kamu juga ingin melihat keadaan adikmu, kan?"


"Tapi..." Duta terlihat ragu. Ketakutannya tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak... Dalvin pasti sangat membutuhkan keberadaan kita di sampingnya..." Bujuk Sandra.


Duta mengangguk walau masih dalam keraguan.


"Mandilah... Mama akan bersiap dulu. Papamu butuh baju ganti, dari semalam ia tidak tertidur. Dan pastinya papa juga sangat mengkhawatirkan kamu..." Ucap Sandra seraya menarik pelan tangan Duta untuk bangkit.


Duta melangkah perlahan ke kamar mandi, sementara Sandra masih menatapnya dari belakang sampai ia menghilang di balik pintu.


"Mama tidak bohong, Nak... Benar, benar papamu juga mengkhawatirkan dirimu..."


Sandra berjalan sempoyongan ke dapur. Bau lezat makanan membuatnya yakin bahwa bi Yuna telah selesai memasak. Ia melihat rantang telah tersedia di atas minibar, sementara bi Yuna tengah beberes sambil menguap berkali-kali.


"Sudah selesai ya, Bi?" Tanya Sandra.


Bi Yuna berbalik menghadap kearahnya. "Sudah, Nyonya..."


"Bagaimana keadaan tuan Dalvin, Nyonya?" Tanya bi Yuna terdengar serak menahan tangis.


"Do'akan Dalvin kita ya, Bi... Saat ini Dalvin masih belum sadar... Ia baru saja selesai dioperasi..." Jawab Sandra tak kalah sendu.


"Boleh saya ikut Nyonya ke rumah sakit?" Pinta bi Yuna ragu-ragu.


"Boleh, Bi... Tapi tidak sekarang, ya... Bi Yuna istirahat saja dulu... Nanti kita gantian... Tuan Dean masih enggan meninggalkan Dalvin untuk sekarang..." Ucap Sandra menolak secara halus. Ia sangat tahu betul kondisi bi Yuna yang kelelahan karena diminta memasak dan menyiapkan perlengkapan dirinya dan Dean sejak dini hari tadi.


Matahari belum menampakkan sinarnya, namun Sandra dan Duta telah meninggalkan rumah hendak menuju ke rumah sakit. Kali ini kakak tirinya Dalvin terlihat kalem dan lebih banyak diam. Sesekali matanya memerah karena mungkin sedang memikirkan sesuatu, dan setiap kali itu Sandra akan menggenggam jemarinya untuk menguatkan dirinya.


"Dalvin pasti memaafkan kita, bahkan jauh dari sebelumnya..." Ucap Sandra.


Duta mengangguk, lalu kembali melihat dunia yang masih remang-remang di balik kaca jendela mobilnya.

__ADS_1


****


Semalaman Soraya tidak pulang. Hatinya begitu cemas, dan pikirannya terus tertuju pada Dalvin. Ia memandangi beling yang berserakan di lantai dekat meja kerjanya, pecahan gelas yang ia pakai kemarin sore. Hatinya semakin tidak menentu.


Ia mencoba memungut beling itu, namun karena badannya yang menggigil, membuat jarinya terluka.


Soraya memaksakan senyumnya. "Kenapa aku harus memikirkan dia? Mungkin saja sekarang dia sudah bahagia bersama wanita itu...".


Soraya kembali bangkit dan berjalan menuju jendela, ia membuka gorden lebar-lebar. Dunia mulai terlihat terang. Pemandangan kota dari atas gedung sangatlah indah, hanya saja hatinya masih terasa gundah.


Walau bagaimanapun ia mencoba, perasaannya masih saja sama. Ia mengabaikan keegoisan di hatinya, lalu keluar dari ruangan kerjanya dan kemudian menuju ke lobby.


Soraya mendekati seorang OB yang baru saja datang.


"Pagi, Nona..." Sapa OB itu menyapa dirinya terlebih dahulu.


"Pagi... Hari ini saya akan terlambat. Tolong bersihkan ruangan kerja saya, ya... Saya kemarin tidak sengaja memecahkan gelas..." Pinta Soraya dengan sopan.


"Baik, Nona..." Sahut OB.


Soraya keluar dari kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri. Ia berpikir untuk berkunjung ke rumah Rio, daripada hatinya akan gelisah terus menerus. Bahkan dari semalam ia hanya memikirkan suaminya yang jelas-jelas telah mencampakkan dirinya.


"Aku tidak peduli, setidaknya hatiku bisa lega jika telah bertemu dengannya..." Ucap Soraya seorang diri.


Tidak beberapa lama ia sampai di rumah itu. Hatinya berdenyut nyeri. Ia menggeleng mencoba menepis segala pemikiran-pemikiran buruk yang bergentayangan di dalam benaknya. Ia mulai melangkah masuk ke beranda rumah.


Hati Soraya kian berdenyut kencang ketika tangannya telah menyentuh handel pintu, dan ternyata pintu itu terkunci. Ia bingung, lalu ragu-ragu mengetuk pintu. Beberapa kali mengetuk, tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalamnya.


Soraya mengorek isi tasnya untuk mengambil duplikat kunci rumah yang sempat ia bawa. Jantungnya semakin berdebar ketika mengetahui pintu itu terbuka. Dengan pelan-pelan ia memasuki rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2