MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
63. Aku Tidak Sekejam Itu


__ADS_3

Dunia hampir gelap, sementara Dalvin terus menatap Soraya dengan penuh harap.


Soraya perlahan berjalan kearah Dalvin, lalu tak sabar ia langsung berlari sekencang-kencangnya dan menghamburkan diri ke dalam pelukan Dalvin yang telah menunggunya di ujung pagar.


"Jangan pergi lagi, aku mohon... Jangan..." Ucap Dalvin menggebu. Ia semakin memeluk erat tubuh Soraya seolah tak ingin melepaskannya lagi. Lama mereka hanyut terbawa perasaan yang menggelora. Rindu yang pada akhirnya berujung pertemuan tak terduga, setelah bertahun-tahun lamanya mereka terpisah.


Soraya menggeleng. "Aku tidak pernah pergi, aku selalu menunggumu..."


Dalvin mulai mengurai pelukannya. Ia menggamit pipi Soraya dan menatap istrinya begitu dalam. Ia tersenyum dengan air mata yang mengalir deras. "Jika waktu dapat kembali, maka akan aku pastikan bahwa aku tidak akan mengambil keputusan bodoh itu lagi. Aku menyesal, Sora..."


Soraya mengangguk. Ia meletakkan telapak tangannya ke tangan Dalvin yang masih bertengger di pipinya. "Aku juga... Aku tidak akan pernah percaya bahwa kamu benar-benar meninggalkanku... Aku yang salah... Aku yang bodoh..."


Dalvin menggeleng, lalu meletakkan telunjuknya ke bibir Soraya. Ia kembali membawa tubuh Soraya ke dalam pelukannya.


Dean dan Sandra yang masih berdiri di samping mobil merasa terharu melihat pertemuan sepasang suami istri itu. Mereka saling merangkul dan tersenyum. Begitu pula dengan kedua orang tua Soraya beserta Duta yang berada di ambang pintu rumah. Mereka seakan hanyut terbawa suasana haru Soraya dan Dalvin.


Mereka semua seakan sedang menyaksikan film romantis, ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Ikut mengeluarkan air mata, dan kemudian tersenyum atas kebahagiaan mereka.


"Danesh?" Dalvin teringat akan bocah lucu yang memanggil istrinya itu mama.


Soraya mengangguk cepat. "Iya, Vin... Dia Danesh kita... Putramu..."


Setelah suasana membaik, kedua orang tua mereka berkumpul di ruang tamu rumah itu bersama Duta. Sementara Dalvin dan Soraya langsung menuju ke kamar Danesh.


"Dipaksa pun mereka malah menolaknya, namun siapa yang tahu ternyata mereka telah menikah diam-diam di belakang kita..." Tutur Dean.


"Entahlah... Saya juga sulit percaya dengan kenyataan ini... Tapi saya merasa, saya lah orang yang paling berbahagia atas takdir mereka..." Sahut Raya dengan wajah menerawang.


"Segeralah menyusul, Duta... Bukankah kamu lebih tua dari Dalvin?" Gurau Angkasa.


"Dalvin begitu cepat dipertemukan dengan jodohnya, namun melalui banyak rintangan yang sulit... Biarlah aku mengikuti alur yang diciptakan oleh Tuhan saja, Om... Aku yakin, kebahagiaan mereka akan membawa kebahagiaan tersendiri bagiku..." Jawab Duta.

__ADS_1


"Om salut denganmu..." Puji Angkasa. "Sesekali mainlah ke kantor... Setelah Dalvin dan Soraya berbulan madu nantinya, mereka akan disibukkan kembali ke dunia bisnis. Mungkin kalian dapat bekerjasama dalam sebuah proyek yang menarik..."


"Tentu, Om... Atas restu mama dan papa, aku akan mengangkat nama Fernando setinggi-tingginya... Dan aku yakin, bekerjasama dengan perusahaan Angkasa Raya adalah keputusan yang paling tepat..."


Sandra dan Dean tersenyum melihat tingkah putra sulung mereka yang telah jauh berubah dari sebelumnya. Lebih dewasa dan bijaksana.


"Apapun yang kamu lakukan, Mama dan Papa pasti merestui, Nak... Karena Mama yakin, kamu sudah mampu membedakan antara yang benar dan yang salah..." Ucap Sandra terdengar bijak.


"Pribadi, saya senang sekali memiliki besan dengan keluarga Fernando... Semoga kita dapat berteman baik dan menjadi besan yang akur, Sandra..." Ucap Raya seolah membuka jalan persahabatan dengan selir mendiang sahabatnya.


Mata Sandra tampak berkaca-kaca mendengar ucapan Raya. Baru kali ini dia melihat ketulusan di mata Raya untuknya, setelah terakhir kali waktu Dalvin masih baru ditinggal ibunya, Raya menatap dirinya dengan sinis. Ia mengangguk cepat.


"Terimakasih, Raya..." Sahut Sandra begitu terharu.


****


"Maaf karena aku tidak di sampingmu pada saat kamu melalui hal berat, Sora... Seharusnya aku yang menemani dirimu ketika kamu mengandung dan melahirkan anak kita..." Ucap Dalvin dengan suara parau dipenuhi rasa penyesalan.


Mereka saling menatap, sementara Danesh tertidur pulas di tengah-tengah mereka. "Seharusnya aku yang minta maaf... Padahal aku tahu bagaimana Duta dulunya, tapi aku malah memercayai suasana panas kala itu... Jika seandainya saja aku bertahan menunggumu di rumah Rio, mungkin kita akan bertemu..."


"Jika seandainya aku menunggumu, mungkinkah kamu tidak akan koma?" Tanya Soraya.


"Jika tidak ada kejadian itu, mungkin kak Duta masih bersifat sama terhadapku..." Pikir Dalvin.


Soraya tergelak.


"Sstt..." Dalvin menempelkan telunjuknya ke bibirnya sendiri. "Jangan keras-keras, nanti Danesh bangun..." Ucapnya setengah berbisik.


"Tapi aku senang jika Duta sudah berubah... Kamu sekarang pasti bahagia..."


"Hari ini Tuhan memberiku kebahagiaan yang berlipat ganda... Keluarga yang aku impikan, keluarga yang begitu hangat dan menyenangkan... Ada papa dan mama yang mengerti perasaanku. Ada kakak yang selalu perhatian... Dipertemukan dengan istri yang sangat aku cintai dan selalu aku rindukan, beserta putraku yang lucu dan menggemaskan... Dan ada mertua yang telah lama mengharapkan aku menjadi menantunya..." Jawab Dalvin panjang lebar. Ia tersenyum, kemudian mengambil tangan Soraya dan menciuminya begitu lama.

__ADS_1


"Kamu tidak bilang ke Danesh kalau papanya sudah meninggal, kan?" Tanya Dalvin terlihat was-was.


Soraya kembali tergelak.


"Ssstt..."


"Habis, kamu lucu sih..." Protes Soraya.


"Tidak, kan?" Desak Dalvin.


"Aku tidak sekejam itu..." Jawab Soraya membantah tuduhan Dalvin.


"Lalu?"


"Aku bilang, papanya kerja..." Jawab Soraya.


"Pernah aku mengajak Danesh bermain ke taman... Danesh melihat orang-orang sebayanya datang ke sana dengan ditemani oleh kedua orang tua yang lengkap. Dia terlihat sedih, lalu bertanya padaku. Ma, papa Danesh dimana?" Soraya mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir, sementara Dalvin terus mendengarkan cerita Soraya yang membuat hatinya terenyuh.


"Aku jawab, papa Danesh kerja... Besok papa pasti pulang... Danesh sabar, ya..." Soraya kembali menghentikan ceritanya.


Melihat Soraya kesulitan mengatur nafasnya karena menangis, Dalvin segera berpindah ke posisi Soraya. Ia memeluk istrinya itu dan mengelus lembut punggungnya. Berkali-kali ia mengecup dahi Soraya untuk menenangkan.


"Maafkan aku... Maafkan aku, Sora... Itu pasti tidak mudah bagimu..." Ucap Dalvin merasa bersalah dan terus membujuk Soraya agar tidak menangis lagi.


"Tapi aku bahagia sekarang... Akhirnya aku terlepas dari pertanyaan Danesh yang membuat hatiku semakin terluka. Dia tidak akan menanyai papanya lagi, karena papanya sekarang sudah berada di sisinya... Aku bangga jika papa Danesh adalah kamu, Vin... Aku sayang kamu... Aku selalu merindukan kamu, dan tidak bohong jika rasa rindu itu datang, aku akan merasa tersakiti olehnya..." Ucap Soraya di sela isak tangisnya dalam dada Dalvin.


Dalvin terbawa perasaan. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Soraya sambil mengecup pucuk kepala istrinya itu berkali-kali.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2