MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
65. Soal Duta


__ADS_3

Danesh menunjuk pedagang permen kapas di pinggir taman. Ia merengek minta dibelikan permen itu kepada mamanya.


"Sayang, kamu lupa kalau kamu juga punya Papa sekarang? Sesekali minta sama Papa dong... Sedari tadi mintanya sama mama terus..." Ucap Dalvin terlihat cemburu.


"Papa Danteng mau belitan?" Tanya Danesh ragu-ragu.


"Tentu... Papa mau belikan apa saja untuk Danesh... Selagi, itu bermanfaat..." Jawab Dalvin sambil menggamit pipi Danesh yang tembem.


"Hole...! Ayo, Pa..." Danesh menarik lengan Dalvin kearah penjual permen kapas dengan semangat, Sementara Soraya menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan tingkah anak dan suaminya itu.


Hari ini Danesh terlihat begitu ceria. Ia berkali-kali tertawa dan berlarian di taman kota sambil dikawal oleh kedua orangtuanya. Ia tidak lagi cemburu melihat sebayanya bermain bersama orang tua yang lengkap.


Setelah puas bermain, mereka pulang ke rumah kediaman Fernando. Sandra tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.


"Hey, cucu oma datang..." Sambut Sandra seraya mengambil alih Danesh dari gendongan Dalvin.


"Pa! Papa! Lihat siapa yang datang..." Sandra berseru ke dalam memanggil Dean.


Tidak hanya Dean, Duta juga ikut berhamburan menyambut mereka.


"Ponakan Paman datang rupanya...!" Duta segara mengapit pipi Danesh yang berada di dalam gendongan mamanya. Ia berkali-kali menciumi Danesh sampai bocah itu merasa risih.


"Nginap disini, kan, Sora?" Tanya Sandra penuh harap.


"Iya, Ma... Katanya, papa Danesh kangen Mama..." Jawab Soraya sambil melirik Dalvin.


Sandra tersenyum. "Benar begitu, Vin?"


Dalvin mengangguk, lalu perlahan mendekati posisi mama tirinya itu. "Kami habis jalan-jalan di taman, Ma... Hari ini Danesh terlihat bahagia sekali kata mamanya. Berbeda dari sebelum-sebelumnya ketika mereka ke taman berdua... Sekarang sudah ada aku yang menemaninya juga."


"Iya... Mama juga sangat bersyukur dengan kebahagiaan ini... Mama senang kita sudah menemukan Sora lagi... Karena bagi kita, kebahagiaan kamu adalah hal yang kami tunggu-tunggu selama ini." Tutur Sandra sambil mengusap bahu Dalvin.


Dalvin tersenyum, lalu merebahkan kepalanya ke paha Sandra, membuat mama tirinya itu tersentak dan merasa canggung. "Jika aku bisa kembali ke masa kecil, aku tidak akan pernah kehilangan momen berharga seperti ini... Maaf tidak pernah melihat Mama dengan hati yang tulus, seperti Mama yang diam-diam memerhatikan aku dengan rasa bangga ketika aku meraih kemenangan, dan memerhatikan aku dengan mata cemas di kala aku terluka..."

__ADS_1


Mata Sandra tampak berkaca-kaca. Ia tersenyum haru mendengar ucapan Dalvin yang begitu menyentuh hatinya.


Dean juga sama. Diam-diam ia merasa malu karena telah membuat mereka kehilangan momen berharga sebelumnya. Karena keegoisannya, anak dan istrinya menjadi korban.


Sandra dengan ragu-ragu menempelkan telapak tangannya ke kepala Dalvin, lalu perlahan mengusapnya dengan lembut. "Mama punya dua anak lelaki yang harusnya Mama jaga dari dulu... Ketidaksabaran Mama yang membuat kita pernah menjalani kehidupan sulit..."


Malam ini mereka berkumpul bersama. Tampak Duta begitu asik dan bersahabat dengan Danesh. Bocah kecil itu tidak habis ide membuat pamannya kewalahan. Sandra menatapnya dengan rasa iba, lalu sentuhan tangan Dalvin di pundaknya membuat ia tersentak.


"Mama tahu, mungkin ini terlambat dan terdengar mereka-reka. Andai dulu kamu yang membawa Amira ke rumah ini, mungkin Mama akan keberatan. Untung saja dia adalah kakakmu, yang memandang Amira sebelah matanya saja. Mama sedikit lega, karena pada akhirnya hubungan mereka tidak berlanjut." Ungkap Sandra sambil menghela napas berat.


"Ada apa dengan Amira, Ma?" Tanya Dalvin pura-pura tidak tahu.


"Mama tidak memiliki rasa senang dengan kehadirannya... Cara bicaranya membuat Mama berharap sandiwara Duta berakhir, namun jika setelah kamu terhadapnya mati rasa..." Jelas Sandra.


"Apa yang salah dengannya, Ma?" Tanya Dalvin lagi seolah belum juga mengerti.


"Entahlah... Tapi, jika tidak ada yang salah dengannya, lalu mengapa dengan mudah kamu melupakan perasaanmu terhadapnya?"


"Kapan ya, Duta bisa memiliki rumah tangga seperti kamu... Memiliki istri yang baik, dan anak menggemaskan seperti Danesh... Mama tidak enak menanyakan langsung pada kakakmu..." Pikir Sandra seperti mengeluh.


"Ma... Jodoh itu tidak ada yang tahu... Mata seorang ibu pasti dapat menentukan yang terbaik untuk anak-anaknya... Aku juga tidak enak menanyakan itu kepada kak Duta... Kita tunggu saja ya, Ma..." Bujuk Dalvin sambil mengelus bahu Sandra.


****


Duta paham betul kekhawatiran di mata mamanya. Lima tahun perbandingan usianya dengan Dalvin, dan sampai adiknya itu memiliki anak tiga tahun, ia belum juga kunjung menemukan jodohnya.


Memang wajahnya yang tampan tidak membuat ia terlihat sesuai dengan umurnya yang sudah mencapai tiga puluh enam tahun.


Ia sendiri juga bingung, mengapa Tuhan belum juga mempertemukan dirinya dengan jodohnya.


"Amira bukan tipeku, dan aku juga merasa mama hanya berpura-pura nyaman terhadapnya... Lalu, aku harus menemukan jodohku dimana?" Pikir Duta. Ia sibuk memutar bolpoin di tangannya sedari tadi, berpikir harus mencari perempuan kemana untuk diperkenalkan kepada orangtuanya.


"Aku tidak punya teman seperti Dalvin yang mempunyai Rio di sisinya... Kalau aku punya, mungkin temanku itu yang akan memperkenalkan aku dengan seorang perempuan..."

__ADS_1


Duta berpikir kekanak-kanakan, mungkin karena dirinya memang tidak memiliki keberanian dan percaya diri dalam memilih perempuan. Ia takut jika perempuan yang ia dekati akan bersikap sama seperti Amira, yang memiliki ambisi dalam kemewahan dan bersifat maha sempurna.


"Astaga... Kenapa aku baru menyadari bahwa aku jadi geli sendiri memikirkan hal ini? Padahal aku sama sekali tidak tertarik untuk menikah cepat-cepat..." Keluh Duta sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.


"Heemmm... Tapi Danesh sangat lucu... Aku ingin memiliki anak yang seperti Danesh juga... Dan akan lebih bagus jika dia nantinya perempuan. Jadi, Mama dan Papa punya sepasang cucu..." Ucapnya lagi sembari tersenyum membayangkan betapa bahagianya ia memiliki anak perempuan.


Asik menghayal, ia dikejutkan oleh dering ponselnya di atas meja kerjanya. Ia dengan cepat meraih ponselnya itu.


"Dalvin?" Gumamnya.


Duta menggeser tombol hijau untuk menyambungkan teleponnya dengan Dalvin.


"Kenapa, Vin?" Tanyanya dengan suara malas.


"Malam nanti kak Duta kemana?"


"Tidak kemana-mana... Ada apa memangnya?" Duta menjawab dengan dahi berkerut.


"Aku ingin ajak Soraya dan Danesh makan malam di luar... Tapi Danesh malah nanyain pamannya ikut apa tidak... Kak Duta ikut, ya?" Terdengar Dalvin memohon dari seberang.


"Boleh juga... Dimana tempatnya?" Duta terlihat riang ketika mendengar nama Danesh disebut. Bocah kecil itu memang sudah merebut hatinya dari pertama kali bertemu.


"Aku akan kirimkan nanti..."


"Baiklah..." Jawab Duta cepat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2