MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
29. Sadis Sekali Orang Itu


__ADS_3

Amira berjalan sambil menangis di trotoar. Hatinya sangat sakit melihat keseriusan di wajah Duta saat mengatakan bahwa dirinya hanya jadi objek untuk menyakiti perasaan Dalvin.


Tidak peduli secantik apapun ia, Duta sama sekali tidak tertarik dengannya. Dan hal itu membuat ia merasa kecewa karena dipermainkan.


Amira bergerak mendekati bibir jalan. Ia berusaha memberhentikan taksi yang akan membawanya pergi dari sana.


Tak lama menunggu, sebuah taksi berhenti tepat di hadapannya. "Noble Housing kosong dua-B…."


Amira terus menatap ke luar jendela, tiba-tiba ia kepikiran Dalvin. Ia langsung merogoh ponselnya di dalam tas kecil yang ia tenteng sedari tadi untuk menelepon.


Ketika ia baru saja melakukan panggilan, dering ponsel sopir taksi juga terdengar di depan.


Sopir taksi terlihat gelagapan, membuat Amira bertambah heran, panggilannya ditolak seperti yang dilakukan sang sopir.


"Anda menolak panggilan di ponsel Anda juga?" Tanya Amira.


Sopir taksi tidak menyahut. Amira semakin dibuat penasaran. Ia menggamit bahu sang sopir untuk melihat wajahnya. Namun sopir taksi malah berusaha mengelak dan mengikuti tangan Amira.


"Tolong jangan ganggu saya, Nona, saya sedang mengemudi..." Ucap sopir itu dengan sopan.


"Dalvin? Kamu Dalvin, kan?" Amira begitu yakin. Ketika ia mendengar suara sopir taksi, ia semakin dibuat menggila. Ia menjulurkan setengah badannya ke depan untuk melihat pasti wajah sopir itu.


Sopir taksi menepikan mobilnya dan keluar, kemudian Amira mengikuti dan berdiri di hadapan sang sopir.


"Ternyata benar, kamu Dalvin..." Ucap Soraya sambil tersenyum.


"kenapa memangnya, Amira?" Tanya sopir taksi yang ternyata memanglah Dalvin.


"Apa lagi ini, Vin? Setelah kamu merusak hubunganku dengan kak Duta, sekarang kamu malah menyamar menjadi sopir taksi... Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?" Tuduh Amira.


Dalvin membuang muka untuk sesaat. "Jika kamu pikir aku saat ini sedang menyamar, kamu salah... Aku bekerja mencari uang untuk menafkahi istriku, bukan untuk menyamar..."


"Istri? Apa maksudmu, Vin?" Amira terlihat tidak percaya. Ia meremas bahu Dalvin dengan sangat erat dan berusaha mendengar lebih jelas lagi pernyataan Dalvin.


"Iya, aku sudah menikah... Hampir dua bulan... Jadi, jika kamu merasa aku telah merusak hubunganmu dengan Duta, kamu salah..." Ucap Dalvin masih melunakkan suaranya.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak sekali mengatakan kebenarannya padamu, Amira... Tapi, sekarang ya sudahlah... Jalani saja..." Tambah Dalvin seraya beranjak hendak masuk kembali ke dalam mobil.


Amira secepat mungkin memeluk pinggang Dalvin dari belakang. "Maafin aku, Vin... Maaf..."


Dalvin tersentak. Sekelebat perasaannya kembali ke semula ketika ia masih menyukai Amira. Namun janji yang pernah ia ucap pada Soraya, membuat ia berusaha melepaskan pelukan Amira dari tubuhnya.


"Jangan begini, Amira... Aku sudah memaafkan kamu. Sekarang masuklah, aku akan mengantarmu pulang..." Perintah Dalvin lalu kembali membuang muka.


Ia membukakan pintu mobil bagian belakang, namun Amira malah melenggang ke bagian depan samping sopir.


Dalvin hanya menatapnya, lalu masuk kembali ke dalam mobil.


Sementara suasana berubah canggung. Namun Amira terus memerhatikan Dalvin.


"Aku menyesal tidak mendengar ucapanmu waktu itu, Vin..." Ucap Amira membuka percakapan di antara mereka.


Dalvin hanya diam, ia tetap fokus melihat ke jalanan.


"Vin, kamu masih menyukaiku, kan?" Tanya Amira tampak berharap.


Dalvin masih tak menyahut. Ia hanya tidak tahu jawabannya apa. Karena memang, cinta pertama pasti akan sulit dilupakan, meski kita pernah disakitinya berkali-kali


Mobilnya kembali berhenti. "Kita sudah sampai di depan rumahmu. Sekarang turunlah... Aku juga harus pulang, Amira... Istriku sudah menunggu di rumah..."


"Tapi, Vin..." Bantah Amira.


"Sudah malam, Amira..." Potong Dalvin.


Amira terpaksa menurut. Dengan berat hati ia turun dari mobil itu.


****


Soraya begitu senang mendengar langkah kaki yang begitu familiar dari luar rumah. Ia segera membukakan pintu.


"Kamu menungguku?" Tanya Dalvin ketika disambut dengan senyuman oleh Soraya. Ia segera masuk dan menghempaskan tubuhnya ke sofa, sementara Soraya mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa sudah dapat?" Tanya Soraya tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Dalvin padanya.


"Sudah, tapi besok aku tidak lagi bekerja disana..." Ketus Dalvin.


Soraya yang mulanya terlihat senang, langsung wajahnya kembali berubah muram. "kenapa?"


"Aku dipecat..." Jawab Dalvin kesal.


"Kok bisa? Pertama kerja masa langsung dipecat? Kamu melakukan kesalahan apa?" Tanya Soraya beruntun.


"Harusnya kamu tanya dulu pekerjaanku apa dan dimana, bukan langsung menyerocos begitu..." Ujar Dalvin.


"Iya, maaf..." Soraya terlihat merasa bersalah.


"Tadi aku diterima jadi sopir taksi sip malam, eh penumpang pertamaku malah tidak membayar argonya. Kalau aku setor uangku, nanti kita makan apa? belum tentu besok masih ada penumpang..." Jelas Dalvin tanpa menceritakan yang sebenarnya kepada Soraya.


"Sadis sekali orang itu... Memangnya kamu tidak memintanya?" Tanya Soraya berubah simpati.


"Nggak tega... Penumpangnya itu orang tua, sudah nenek-nenek... Kasihan kalau dipaksakan memintanya..." Jawab Dalvin berbohong.


"Emmm... Terus gimana lagi?" Tanya Soraya ikut bingung.


"Tidak usah kamu pikirkan, Sora... Besok aku akan berusaha lebih keras lagi..." Kata Dalvin menenangkan.


"Bagaimana jika kamu mendaftarkan diri menjadi driver online saja. Kan sekarang banyak tuh aplikasi yang sudah resmi..." Usul Soraya.


Dalvin tampak berpikir, namun tidak lama ia tersenyum. "Ide yang cemerlang, Sora... Ini benar-benar ide yang bagus... Untung saja aku tidak jadi menjual mobilku..."


Dalvin menatap Soraya. Hatinya kembali tenang ketika melihat wajah Soraya yang begitu riang setelah mendapat pujian darinya.


Jika saja aku bersabar, mungkin aku tidak pernah meragukan hatiku yang merasa jatuh cinta setiap kali melihat wajahnya...


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2