
Dalvin memasuki rumahnya yang telah sepi dari tetamu pesta pertunangan Duta. Tanpa basa-basi ia menyelonong masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak menyadari bahwa ia sedang ditunggui oleh Dean di ruang keluarga.
"Dari mana saja kamu, Vin?" Tanya Dean membuat langkah Dalvin terhenti.
"Jalan-jalan, Pa..." Jawabnya santai dan terdengar sangat acuh.
"Kamu memang tidak pernah memerdulikan keluargamu ini, Vin... Sebenarnya apa maumu?" Dean berjalan kearah Dalvin yang masih mematung di pojok ruangan.
"Sudahlah, Pa... Aku tidak ingin berdebat kali ini... Aku capek..." Ketus Dalvin yang memasang wajah cuek.
"Capek apa, Vin? Kerja juga tidak... Apa kamu mau selamanya menjadi anak tidak berguna, hah? Gunakan kesempurnaan yang kamu miliki, Vin... Jangan sia-siakan pengorbanan orang yang sudah rela berkorban untuk kamu... Kamu pikir-pikirkan lagi ucapan Papa, banyak di luaran sana orang yang..."
"Cukup, Pa..." Potong Dalvin tak kalah berang.
"Sejak kapan Papa bisa ngomel begini? Biasanya Papa juga tidak pernah peduli tentang apa pun yang aku lakukan... Dan kalau masalah tidak kerja, bukankah Papa sendiri yang memberhentikanku dari perusahaan?" Ketus Dalvin seraya berbalik meninggalkan Dean.
"Itu contoh kalau anak dimanjai, Pa... Dia akan bangkang dan tidak bisa membanggakan orang tua..." Tiba-tiba Sandra datang memanas-manasi.
__ADS_1
"Dalvin biar jadi urusanku, Ma... Kamu tidak perlu ikut campur, karena kamu juga tidak akan pernah bisa menerima dirinya, kan?" Ucap Dean mematahkan semangat Sandra untuk mengomporinya. Ia berbalik arah menuju ke kamarnya.
"Maksud Papa bagaimana? Kurang apa selama ini Mama terhadap anak itu?" Tanya Sandra sambil mengejar langkah Dean hingga ke kamar mereka.
BRAAKK...
Sandra membanting pintu kamar setelah mereka sama-sama berada di dalamnya. Ia masih tidak terima akan perkataan Dean yang seolah-olah membela Dalvin.
"Paaa... Jawab, Pa..." Desak Sandra seraya menarik lengan Dean dengan kuat.
"Menyebut namanya saja kamu seolah tidak sudi, Ma. Lalu bagaimana aku bisa berpikir jika kamu telah menerimanya selama ini? Kamu pikir aku tidak bisa melihat dan merasakan bagaimana perasaan Dalvin, hah? Dia juga putra kandungku, dan aku seolah tidak mampu menjadi papa yang baik untuknya..." Ucap Dean menggebu. Ia seolah meluapkan isi kemarahan yang telah ia coba simpan selama ini.
"Aku mungkin masih bisa disebut wajar jika membedakan kasih sayang antara Duta dan Dalvin, tapi sementara kamu?" Sandra menggeleng.
"Pikirkan baik-baik, Pa... Ibu mana yang rela melihat anaknya, terlihat menyedihkan di mata papa kandungnya sendiri? Selama ini, Duta hanya cemburu, Pa... Ia berusaha keras melakukan berbagai apa pun, hanya untuk mendapat lirikan dari kamu..." Ucap Sandra masih dalam pendiriannya.
"Berdebat dengan kamu percuma, Ma... Ujung-ujungnya, kamu tidak akan pernah mau disalahkan..." Ketus Dean sambil menarik dasi yang masih melingkar di kerah bajunya.
__ADS_1
****
Dalvin terlihat kesal. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur, lalu memejamkan matanya. Ia masih memikirkan perkataan papanya tadi, sehingga ia merasa malas untuk melakukan hal apa pun.
Tak butuh waktu lama, ia malah tertidur pulas tanpa membuka sepatu dan mengganti pakaiannya. Mungkin ia kelelahan setelah berbenah di rumah Rio, atau mungkin ia lelah dengan suasana hatinya di rumah keluarganya sendiri.
Beberapa jam berlalu, sudah hampir setengah delapan malam Dalvin baru terbangun. Ia merasakan pegal di sekujur tubuhnya.
"Astaga, aku melupakannya..." Ucap Dalvin spontan bangkit dari tidurnya. Ia tiba-tiba terkenang Soraya yang pasti akan kelaparan menunggu makanan yang ia janjikan.
Dalvin merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan ponsel genggamnya yang tersimpan disana. Ia segera memesankan makanan secara online untuk dikirimkan ke rumah mendiang sahabatnya itu, dan tentunya untuk Soraya, gadis buta dari kahyangan.
"Dari kahyangan?" Dalvin berpikir sejenak. "Mungkin saja ia bidadari yang diturunkan ke Bumi untuk menemani Rio si jomblo akut sebelum meninggal... Ah, aku masih ingat, kamu bahkan tidak pernah melirik satu orang pun perempuan, Yo..." Ejek Dalvin mengenang Rio.
Ia tertawa sesaat, lalu berjalan mendekati nakas samping tempat tidurnya. Dia mengamati foto Rio bersama dirinya yang terpajang di atas nakas itu.
"Beneran dia pacarmu, Yo? Rasanya tidak mungkin, dia saja bersemedi di dalam kamarmu... Dan mana mungkin kamu akan mau berbagi kamar dengan wanita mana pun?" Ucap Dalvin berbicara pada foto Rio.
__ADS_1
Lamunannya buyar, sebuah notif di ponselnya membuat ia tersenyum lega. "Selamat makan, Sora... " Ucap Dalvin setelah diberitahu kalau makanan yang ia pesan telah terkirim ke alamat, ia yakin bahwa Soraya telah menyantapnya malam itu.