MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
48. Presdir Wanita


__ADS_3

Dalvin tidak habis pikir dengan alasan pimpinan perusahaan, menerima dirinya bekerja disana hanya karena pada saat itu merupakan hari keberuntungan Presdir. Ia jadi penasaran dan bersedia menuruti permintaan pak Dwi untuk datang kembali ke kantor hari ini.


"Terimakasih, Vin, kamu sudah memenuhi saran dari saya..." Ucap pak Dwi.


Dalvin tersenyum. "Seharusnya aku yang berterimakasih, Pak..."


Asik mengobrol, tiba-tiba kantor dihebohkan dengan kedatangan Presdir baru yang merupakan anak dari pemilik perusahaan. Mereka segera menyambut dengan berdiri di posisi meja kerja mereka masing-masing.


Seorang Presdir wanita diikuti dua orang lelaki di belakangnya memasuki kantor. Wanita smart kasual yang elegan, dengan blazer berwarna cemerlang dan kancing yang besar-besar dipadukan dengan dress putih pendek di atas lutut.


Rambutnya dikuncir biasa, serta heelsnya yang tinggi membuat ia benar-benar terlihat berbeda.


Tanpa siapapun tahu, bola matanya bergerilya ke kiri dan kanan untuk mencari tahu keberadaan seseorang.


Dalvin tetap menundukkan kepalanya sehingga Presdir wanita yang tidak lain adalah istrinya, tidak dapat melihat wajahnya. Hal percuma juga, karena sebenarnya Soraya tidak pula mengenali wajah Dalvin.


Soraya kali ini berbeda, wanita karir yang cantik dan anggun, bukan perempuan buta yang lemah. Dalvin merasakan getaran ponselnya di saku celananya. Ia semakin menundukkan kepalanya untuk merogoh ponselnya itu. Di layar ponselnya tertera nama dokter Sony sebagai penelepon.


Sementara Soraya merasakan jantungnya berdegup kencang, ia menghentikan langkahnya sesaat lalu menoleh kearah Dalvin yang sibuk memerhatikan ponselnya. Karena Soraya tidak menyadari bahwa lelaki itu adalah Suaminya, ia kembali melanjutkan langkahnya.


Usai menyambut kedatangan Presdir, Dalvin bergegas ke belakang untuk menjawab telepon dokter Sony.


"Halo, Dok..."


"Halo, Tuan Dalvin... Anda tidak melupakan hari ini, kan? Saya ingin memastikan mata istri Anda baik-baik saja..." Ucap dokter Sony dari seberang.


"Oh ya, saya akan ke sana sekarang, Dok..." Setelah panggilan berakhir, Dalvin bergegas kembali ke meja kerjanya. Ia menghampiri pak Dwi yang sudah mulai bekerja.


"Ada apa, Vin? Kok terlihat gelisah begitu?" Tanya pak Dwi ketika melihat Dalvin tergesa-gesa menuju kearahnya.


"Saya mohon maaf sekali, Pak... Saya tidak bisa bertemu Presdir, ada hal penting yang sangat mendesak yang harus segera saya lakukan." Ujar Dalvin.


"Apa semua baik-baik saja?" Pak Dwi ikut terlihat khawatir akan kepanikan yang tergambar di wajah Dalvin.


"Iya, Pak... Saya hanya ada keperluan mendesak yang tidak bisa saya tinggal... Tolong titip surat ini, Pak... Saya besok tidak akan kembali lagi..." Pinta Dalvin seraya menyodorkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya.

__ADS_1


Wajah pak Dwi tampak kecewa, ia hanya merasa sedih harus ditinggal Dalvin yang dianggapnya sangat baik selama bekerja disana.


"Datang bos baru, teman kerja lama yang keluar..." Keluh rekan-rekan kerja Dalvin.


Ia hanya tersenyum sambil menyalami semua rekannya itu.


****


Dalvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak kepikiran harus melakukan cek up ke rumah sakit untuk Soraya. Pikirannya kacau membayangkan Soraya yang bisa saja mengalami gangguan kembali pada matanya karena terlalu banyak menangis.


"Apa Duta melakukan hal ini hanya untuk memisahkan antara aku dan Soraya? Apa dia sama sekali tidak punya hati kepada Soraya, sehingga dia tidak memerhatikan kesehatan Soraya?" Gerutu Dalvin merasa kesal.


Tidak beberapa lama, Dalvin sampai di rumah Rio. Ia masuk ke dalam rumah yang ternyata sama sekali tidak terkunci. Ia memanggil Soraya ke sana kemari mencari keberadaan istrinya itu. Ia terlihat panik ketika melihat rumah begitu berantakan seperti awal mula ia bertemu Soraya di rumah ini.


"Sora, aku pulang..." Panggil Dalvin untuk kesekian kalinya. Ia mulai lelah, lalu duduk bersandar di tepi tempat tidur.


Hatinya semakin hancur ketika melihat ponsel Soraya berserakan di lantai kamar itu. Ia mengusap kasar wajahnya, mengingat ia telah begitu kejam melukai perasaan Soraya yang tidak bersalah.


Dalvin perlahan bangkit dan berjalan menuju lemari. Ia berharap menemukan sesuatu di dalamnya, setidaknya alamat keluarga Soraya. Ia bahkan tidak pernah menanyakan apa nama desa asal Soraya sebelumnya.


Seumur umur aku tidak pernah merasa jatuh cinta. Namun ketika berhadapan dengannya, dia membuatku tahu getaran itu ada.


Sifatnya yang keras, namun di dalam hatinya tersimpan banyak kebaikan...


Gadis buta milikku, Soraya Amarta... Huhh... Sungguh sulit sekali menjinakkan hatimu, bahkan aku harus bertaruh tenaga hanya untuk tahu serangkaian namamu...


Jika bukan aku, semoga Dalvin dapat memilikinya, menjaganya dan mencintainya....


Dalvin terhuyung, sendinya mendadak terasa ngilu. Curhatan hati Rio yang selama ini baru ia temui keberadaannya. Ia tidak menyangka Soraya begitu berarti, dan sampai kapanpun sangat berarti bagi dirinya sendiri.


Tidak seharusnya ia kalah oleh ancaman Duta, dan ia sangat menyesali kebodohannya sebagai seorang suami.


Dalvin segera keluar dari rumah, ia berpikir untuk datang ke rumah sakit saja, harapannya Soraya akan ke sana untuk memeriksakan diri.


Sesampai di rumah sakit, Dalvin langsung menemui dokter Sony, dan dokter itu malah menyambutnya dengan raut kebingungan. "Kusut sekali, Tuan? Anda naik angkot kah datang kemari?"

__ADS_1


Dalvin tersenyum menyangka ucapan dokter Sony hanyalah sebuah candaan.


"Saya sangat salut sekali kepada Anda, Tuan... Begitu cintanya Anda kepada istri Anda, sampai-sampai Anda rela menjual mobil Anda untuk biaya operasinya..." Ujar Dokter Sony menambahkan.


Dalvin awalnya masih belum ngeh akan ucapan dokter Sony, namun sesaat wajahnya berubah kebingungan. "Aku tidak menjual mobilku, Dok... Bahkan mobilku hari ini masih ku pakai..."


"Benarkah? Lalu biaya operasinya?" Berganti dokter Sony yang dibuat kebingungan.


"Duta yang membayarkan, Dok..." Ucap Dalvin lesu.


Jemari dokter saling bertaut di atas meja, ia semakin terlihat bingung mendengar pengakuan Dalvin.


"Tapi, yang saya tahu biaya operasinya sudah dibayar sebelum tuan Duta membayar... Kata staf administrasi kami, seseorang melunasinya sebelum tuan Duta datang, bahkan sebelum Anda dan istri Anda datang ke rumah sakit ini..." Jelas Dokter Sony begitu yakin.


Dahi Dalvin mengerut. "Siapa orang itu, Dok? Apa dia meninggalkan identitasnya?"


"Tidak, Tuan Dalvin... Beliau hanya membayar, lalu pergi begitu saja... Dan saya setelah diberitahu, saya pikir Anda sampai menjual mobil..." Jawab dokter Sony.


Jantung Dalvin berdetak kencang. Darah dalam tubuhnya serasa menjalar cepat ke ubun-ubun. Ia begitu marah mendengar cerita dokter Sony, dan jelas bahwa Duta telah berhasil mengakalinya.


Siapa? Siapa yang telah membayarnya? Ia tidak berpikir sama sekali, ya ia rasa, ia sangat marah kali itu.


"Istriku belum kemari, Dok?" Tanyanya lesu.


"Loh, kenapa bertanya, Tuan? Anda tidak datang bersama?" Dokter Sony balik bertanya.


"Saya permisi, Dok... Saya lupa menjemput istri saya..." Pamit Dalvin yang tampak mulai kehilangan kendali, dan mengabaikan kebingungan di wajah dokter Sony.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2