
Dalvin mengusap punggung Soraya dengan lembut, lalu perlahan mengeluarkan Soraya dari dekapannya.
Dalvin merapikan rambut Soraya yang berantakan, namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat di area bahu istrinya itu terdapat ruam yang membiru.
"Bajingan…." Ucap Dalvin kembali murka. Api amarah berulang menguasai dirinya.
"Kamu tunggu disini sebentar, aku akan memberikan pelajaran untuknya…." Ucap Dalvin lagi sambil turun dari tempat tidur dan berlari keluar untuk mencari Duta yang sudah kabur.
"Dutaaaa…!" Seru Dalvin dengan kemarahan yang luar biasa.
Duta menghentikan langkahnya, lalu berlagak menantang Dalvin disana.
"Santai, Bro… Aku belum sempat apa-apain istri buta mu itu. Paling, ya_"
BUUUKKHH
Satu hantaman melayang ke pipi Duta, lalu kemudian menyusul hantaman lainnya secara bertubi-tubi. Dalvin benar-benar dikuasai amarah, sehingga ia tidak peduli telah membuat wajah Duta lebam-lebam.
"Astaga, apa-apaan ini?" Sandra tiba-tiba sudah datang untuk melerai. Ia menarik baju Dalvin agar tidak lagi memukuli Duta.
Sementara Dean juga baru saja datang bersama Sandra, namun ia memilih diam dan menyaksikannya saja. Ia belum ingin ikut campur dalam keributan yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
"Hentikan, Dalvin… Kamu bisa membunuh putraku…" Teriak Sandra sambil memukul-mukul bahu Dalvin.
Dalvin menghentikan pukulannya terhadap Duta, namun hatinya belum cukup puas. Ia hendak melayangkan tinjunya lagi ke tubuh Duta, namun melihat Sandra yang lebih brutal, ia menghempaskan kemarahannya ke dinding.
"Aaaaahhh..."
Setelah cukup puas, Dalvin menarik kerah baju Duta. "Meski istriku buta, bukan berarti kamu boleh menyentuhnya sesuka hatimu..." Hardik Dalvin tegas, lalu ia dorong tubuh Duta ke dinding sekuat-kuatnya.
Dean dan Sandra terperangah. Dean ikut menatap Duta dengan kemarahan, sementara Sandra malah mengelus pipi Duta yang lebam.
Dalvin menoleh sesaat kearah Dean, lalu berbalik menuju ke kamarnya.
Ia mulai berkemas, memasukkan baju-bajunya dan juga pakaian Soraya ke dalam koper. Ia mengambil sebuah kemeja lalu melingkari tubuh Soraya.
"Ayo, Sora, kita pergi dari sini sekarang…" Ajak Dalvin seraya menurunkan Soraya dari tempat tidur.
"Kita akan pergi sekarang?" Tanya Soraya tampak lebih tenang.
"Iya…" Jawab Dalvin.
__ADS_1
"Ke rumah Rio lagi?"
"Iya… Kita akan disana sementara waktu…" Ucap Dalvin menenangkan.
"Ummm…" Angguk Soraya.
Dalvin membimbing tangan Soraya keluar dari kamarnya, sementara tangannya yang satu lagi menarik koper yang berisi pakaian mereka.
"Kamu mau kemana, Vin?" Tanya Dean mencegah langkah Dalvin.
"Keluar dari rumah yang berisi penjahat seperti dia ini..." Jawab Dalvin ketus.
"Tapi ini rumahmu juga, Vin…." Kata Dean seolah menahannya.
"Pa, tidak perlu cegah dia untuk pergi... Harusnya kamu usir dia. Dia hampir saja membunuh Duta..." Ucap Sandra mengomel.
"Diam kamu, Ma..." Hardik Dean membuat Sandra terpojok.
Dean berjalan menghampiri Dalvin, dan ia menatap Soraya yang ketakutan bersembunyi di balik punggung putranya itu.
"Tetaplah disini, Vin… Semua masalah pasti ada penyelesaiannya… Ini rumah mendiang ibumu…" Ujar Dean mencoba melunakkan hati Dalvin yang terlihat masih dikuasai kemarahan.
Melihat mereka diam, Dalvin mengeratkan genggamannya pada tangan Soraya, lalu berjalan keluar dari rumah itu.
Dean tidak bisa lagi mencegah keputusan Dalvin. Ia melirik Duta dengan marah, lalu mendekatinya. Sementara Duta yang mengerti arti tatapan mata papanya hanya menunduk.
"Apa yang telah kamu perbuat, hah?" Tanya Dean marah.
"Aku, aku hanya main-main saja, Pa..." Jawab Duta asal.
PLAAKK
Satu tamparan mendarat di pipi Duta.
"Paaa..." Pekik Sandra sambil menarik kepala Duta ke dadanya.
"Jangan pukuli Duta lagi, Pa..." Hardik Sandra dengan air mata telah berlinangan.
"Bela teruuus, anakmu ini..." Ucap Dean sambil berlalu meninggalkan ibu dan anak itu.
****
__ADS_1
Selang beberapa menit Dalvin pergi meninggalkan rumah, Amira datang. Ia langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari Duta.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat Duta dengan wajah babak belur sedang diobati Sandra. "Kak Duta?"
Duta dan Sandra sama-sama menoleh kearahnya. "Amira? Kesini, Sayang…"
Sandra yang tidak tahu apa-apa dengan lembut memanggilnya.
"Kak Duta kenapa, Tante?" Tanya Amira cemas.
"Dalvin menghajarnya... Entah apa yang membuatnya menjadi gila seperti tadi..." Ketus Sandra.
"Dalvin?" Amira berubah marah.
"Apa masih karena aku, Tan? Apa Dalvin marah karena aku lebih memilih kak Duta? Apa dia masih tidak terima?" Gerutu Amira.
"Sepertinya begitu..." Kata Sandra dengan yakin.
"Ah sudahlah... Duta mau ke kamar..." Duta bertambah bete atas kedatangan Amira ke sana. Bahkan ia tidak menyapa sama sekali.
Duta bangkit meninggalkan Mamanya dan Amira. Ia terlihat kesal mengenang peristiwa tadi. Ia semakin dendam kepada Dalvin karena Dean bahkan ikut menamparnya.
Amira melongo. Ia bahkan datang hanya untuk bertemu dengan tunangannya itu, namun malah diabaikan begitu saja.
"Cincinnya?" Ucap Amira tercengang.
"Kenapa, Amira?" Tanya Sandra yang melihat raut wajah calon menantunya itu bersedih hati.
"Perasaan kak Duta tidak memakai cincin pertunangannya, Tan…" Kata Amira. Suasana hatinya mendadak panas.
"Tidak mungkin, Amira… Pasti kamu salah…" Ujar Sandra menenangkan Amira yang mulai cemberut.
"Awas saja, jika Amira bertemu Dalvin, Amira akan memakinya..." Ketus Amira kesal.
.
.
.
.
__ADS_1