
Pagi menjelang. Ini kali pertama bagi Dalvin bermalam bersama istrinya kembali setelah bertahun-tahun berpisah. Ia teramat sangat bahagia, ketika terbangun dari tidurnya, ia dapat menemukan wajah-wajah orang terkasihnya.
Putranya yang lucu tidur di antara dirinya dan Soraya, menambah semangat untuknya agar terus hidup.
Dalvin bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju jendela. Ia membuka gorden lebar-lebar, namun matahari belum menampakkan sinarnya. Gerimis pagi menutup matahari beraktivitas.
Ia tersenyum lega. Ini bukan mimpi. Ini sungguh kenyataan. Ia dan Soraya telah bersama kembali, ditambah hadirnya seorang malaikat kecil menambah kebahagiaan di antara mereka.
Tangan halus melingkar di pinggang Dalvin, membuat ia sedikit tersentak dari lamunannya.
"Pagi..." Suara halus itu menyapa. Ia menyambut tangan Soraya yang menetap di pinggangnya, lalu membalikkan badannya menghadap ke istrinya itu.
"Pagi juga, Sayang..."
Pipi Soraya memerah. Mendengar kata sayang dari Dalvin untuk pertama kalinya.
"Bukankah harus begitu? Aku pernah berjanji padamu akan mengungkapkan Semuanya setelah kamu melihat, kamu masih ingat, kan?" Tanya Dalvin sambil merapikan rambut Soraya yang terlihat sedikit berantakan.
"Apa memangnya?"
"Aku mencintaimu... Sungguh-sungguh mencintai kamu, Sora... Aku ingin menafkahi kamu lahir dan batin..." Ungkap Dalvin sambil menggamit pipi Soraya.
Soraya tersenyum.
"Tapi, ini tidak terlambat, kan?" Tanya Dalvin mulai merasa malu melihat reaksi Soraya yang terus menatapnya tanpa henti.
Soraya tidak menjawab. Ia hanya melingkarkan tangannya ke pinggang Dalvin, lalu memeluk suaminya itu erat-erat. "Mendengar cerita dari Duta saja, aku sangat percaya bahwa kamu benar-benar mencintaiku... Lalu, bagaimana ada kata terlambat untuk mengungkapkannya? Aku yang salah, dan aku harus menelan kembali ucapan ku kemarin. Benar katamu, tiada kata terlambat untuk mengungkapkan perasaan cinta... Dan aku sekarang menjadi malu, karena telah berusaha berbohong mengatakan bahwa aku berada di titik paling kuat untuk melupakanmu... Padahal sudah dari dulu aku lakukan, tetap saja aku lemah untuk itu…."
Suara hujan semakin deras, membuat mereka refleks menoleh cepat keluar jendela.
"Masih ingat kenangan kita?"
"Bagaimana bisa aku melupakannya? Turun pada anakmu... Lihat saja, sebentar lagi dia akan bangun dan merengek minta keluar untuk main hujan..." Sungut Soraya.
"Benar begitu?" Tanya Dalvin tercengang.
"Maaa... Ujan? Danesh mau mandi di lual, ya?"
Soraya dan Dalvin spontan menoleh ke tempat tidur. Mereka terlihat tegang mendapati putra mereka telah duduk sambil mengucek mata.
"masih pagi, Sayang... Nanti kamu demam..." Bujuk Dalvin seraya mendekati Danesh.
"Mamaaa..." Danesh merengek kepada Soraya sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku juga kepengen... Kita main hujan di belakang, yuk..." Ajak Soraya sambil tersenyum centil membujuk suaminya.
"Emmm... Ibu sama anak, sama saja..." Oceh Dalvin.
"Ingat, siapa yang memulai, hayo?"
"Iya, iya... Ayo..." Akhirnya Dalvin mengabulkan permintaan anak dan ibu itu.
"Horeee..." Soraya dan Danesh bersorak kegirangan. Mereka berlarian keluar kamar menuju halaman belakang rumah.
Angkasa dan Raya tersenyum melihat kebahagiaan di depan mata mereka. Biasanya Soraya hanya berdua menikmati hujan bersama Danesh, namun sekarang mereka telah bertiga. Ia dan suaminya mengintip lewat jendela kaca.
"Mama, senang sekarang?" Tanya Angkasa sambil merangkul bahu Raya.
"Senang, Pa... Mama bahagia sekali rasanya... Bila sempat, kita berkunjung ke makam Wulan ya, Pa?"
"Boleh... Kita ajak mereka..." Jawab Angkasa sambil mengeratkan pelukannya ke bahu Raya.
****
"Ini tubuan siapa, Pa?" Tanya Danesh sambil memonyongkan bibirnya ke onggokan tanah di hadapannya.
"Ini makam Oma Wulan, Nak... Oma yang sudah melahirkan Papa ke dunia..." Jawab Dalvin Dengan suara serak membendung air mata.
"Iya, Sayang... Kita berdoa, ya, untuk Oma Wulan..." Ajak Soraya.
Danesh menurut. Ia menundukkan kepalanya dan hening.
Ma, lihatlah... Dalvin membawa menantu dan cucu Mama datang kesini... Mama senang, bukan? Akhirnya keinginan Mama terwujud. Mama memiliki menantu dari sahabat Mama sendiri, Tante Raya... Ma... Sudah ya, salah pahamnya... Mama Sandra ternyata orangnya sangat tulus... Ia menyayangi Dalvin seperti ia menyayangi kak Duta...
Terimakasih, Mama, karena Mama sudah mengizinkan Dalvin terlahir dari rahim Mama...
Dalvin mengedipkan matanya berulang kali agar air mata yang ia bendung tidak mengalir begitu saja. Ia merasa terharu karena ditemani oleh orang-orang tercintanya datang ke sana.
"Tante, Om..."
"Kapan kamu berhenti memanggil kami Tante dan Om, Vin? Kami ini mertuamu. Panggil kami seperti istrimu memanggil kami..." Protes Angkasa cepat.
Dalvin menundukkan wajahnya sesaat, lalu beralih melirik istrinya. "Maaf, Ma, Pa..."
"Begitu kan, enak, Vin..." Ucap Raya sambil tersenyum.
"Iya, Ma... Dalvin mau ngucapin terima kasih kepada Mama dan Papa... Ternyata selama ini yang sering berkunjung ke sini adalah Mama dan Papa..." Ucap Dalvin.
__ADS_1
"Kamu berkata seperti itu karena setiap kali datang, bunganya selalu segar, kan?" Tanya Raya.
Dalvin mengangguk.
"Kamu salah, Vin..." Bantah Raya.
Dalvin terpana. "Maksud, Mama?"
"Mamamu yang sering berkunjung ke mari... Kami diam-diam pernah melihat mamamu pulang dari sini. Waktu itu hanya rasa curiga yang ada di benak Mama terhadapnya, tapi setelah Mama tahu betapa tulusnya ia, Mama jadi merasa bersalah sendiri karenanya." Tutur Raya seperti mengenang.
"Maksud Mama, mama Sandra, kah?" Tanya Dalvin seolah tak percaya.
"Iya, Vin... Baru saja kamu ditinggal Wulan, Sandra mengasuh kamu layaknya anak kandungnya..." Sahut Angkasa membenarkan ucapan Raya.
Dalvin tertegun. Walau ia masih bingung, namun ia berusaha untuk mengerti sekarang. Perubahan Duta, bukan berarti perubahan pula bagi mama tirinya karena telah menyelamatkan nyawa Duta. Melainkan mama tirinya itu benar-benar tulus menyayanginya.
"Setelah ini kalian berencana kemana?" Tanya Angkasa seraya menuntun langkah mereka keluar dari pemakaman itu.
"Kami mau menghabiskan waktu bermain di taman, Pa..." Jawab Soraya.
"Setelah itu kami langsung ke rumah papaku, ya, Pa... Kami ingin bermalam disana..." Sambung Dalvin.
"Bagus itu, Vin... Mereka pasti juga merindukan kalian..." Ujar Angkasa menyetujui.
"Mama dan Papa juga ada acara besok pagi di kampung halaman pak Dwi... Kepala desa disana meminta kami datang, karena kita yang mensponsori terselenggaranya acara..." Tambah Raya.
"Titip salam untuk pak Dewi dan Bu Yas, ya, Ma... Salam juga buat tetangga disana yang sudah baik sekali sama Sora..." Pinta Soraya sambil menggandeng tangan mamanya.
"Iya... Lain kali kalian juga harus berkunjung ke sana, ya... Mau kan, Vin?" Raya beralih menoleh kepada Dalvin.
"Iya, Ma, tentu... Dalvin juga harus berterimakasih kepada warga di sana karena telah menjaga Sora selama Sora mengandung..." Sahut Dalvin meyakinkan mertua perempuannya itu.
"Pamit sama opa dan Oma, Sayang..." Suruh Dalvin pada Danesh.
Angkasa dan Raya bergantian menciumi pipi gembul Danesh sebelum mereka menaiki mobil yang dibawa oleh sopir rumah.
"Dah, Oma...! Dah, Opa ...!" Seru Danesh melambaikan tangannya.
.
.
.
__ADS_1
.