
"Oma... Opa...!" Bocah itu berlari menghampiri seseorang yang memanggilnya, dan orang itu tidak lain adalah Raya bersama Angkasa.
Raya ikut terpana melihat keberadaan Dalvin. Raut wajahnya terlihat tak bisa ditebak. Ia tersenyum, namun matanya memerah semu.
"Dalvin..." Panggil Raya sambil berjalan perlahan kearah Dalvin.
Dalvin membalas senyuman itu dengan gugup. "Apa kabar, Tante? Lama tidak berjumpa..."
Raya mengangguk kecil, "baik... Kamu sendiri bagaimana?"
"Baik juga, Tante... Emmm... Bocah lucu ini cucu Tante?" Tanya Dalvin mencoba mengalihkan perasaannya.
Raya menoleh pada cucunya, lalu mengangguk. "Apa dia mengganggumu? Dia memang sedikit usil."
Dalvin tergelak sembari menoleh pada Danesh, "jika dapat, saya ingin diganggu olehnya setiap hari..."
Angkasa yang masih berdiri jauh dari mereka segera merapat, ia memandang Dalvin dengan tatapan yang sulit diterka, sehingga Dalvin dibuat salah tingkah olehnya.
"Mmm maaf atas sikap saya terakhir kali, Tante, Om... Saya sangat menyesal..." Ucap Dalvin terlihat merasa bersalah.
"Sudah jalannya kamu bersikap seperti itu, Vin... Om rasa, Om akan dilema jika seandainya kamu tidak menolak waktu itu. Tapi, ya sudahlah... Semua yang berlalu biarlah berlalu..." Sahut Angkasa.
"Terimakasih, Om..." Dalvin berusaha tersenyum meski hatinya masih merasa sungkan.
"Capa om danteng ini, Opa?" Tanya Danesh sambil melirik Dalvin.
"Om ganteng ini anaknya teman Oma, Sayang..." Raya menyahut seraya mengangkat Danesh ke dalam gendongannya, sementara Angkasa hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Terakhir kali papamu datang, kami tidak berada di rumah, dan itu sudah cukup lama... Tolong sampaikan maaf Om pada orangtuamu, Vin... Kami benar-benar belum sempat berkunjung..." Ujar Angkasa.
"Baik, Om, nanti saya sampaikan... Atau, apa Om dan Tante ikut saya saja ke rumah? Sepertinya papa dan mamaku jam segini sudah berada di rumah..." Ajak Dalvin.
"Tidak, Vin, terimakasih... Mungkin lain kali saja. Mama Danesh sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dia baru saja kembali dari luar kota..." Elak Angkasa.
"Emmm, begitu rupanya..." Dalvin mengangguk-angguk. "Om dan Tante pulang dengan apa? Perlu saya antar?"
"Ah, tidak usah repot-repot, Vin... Om bawa mobil sendiri..." Jawab Angkasa sambil menunjuk kearah mobilnya yang tidak jauh dari sana.
"Kalau begitu saya permisi, Om, Tante..." Dalvin menyalami Raya dan Angkasa bergantian, lalu menatap Danesh sambil tersenyum. "Lain kali kita ketemu lagi ya, Ganteng..."
__ADS_1
"Oce, Om Danteng..." Sahut Danesh sambil menunjuk jempolnya ke hadapan Dalvin.
Dalvin tergelak, hatinya kian damai memandangi wajah bocah tiga tahunan itu.
"Mungkin karena Tante sangat berharap kamu menjadi menantu Tante, sehingga Tante merasa wajah Danesh sangat mirip sekali denganmu, Vin..." Ujar Raya dengan raut kekecewaan. Matanya tampak berkaca-kaca dan memerah mengatakan hal itu.
Dalvin hanya tersenyum sambil menunduk. "Maafkan saya, Tante... Jika saya tidak terlebih dahulu bertemu istri saya, mungkin saya akan menerima perjodohan itu dengan senang hati... Apalagi ini wasiat mama..."
"Sudah, Ma, sudah... Jangan bebani pikiran Dalvin dengan perasaanmu..." Angkasa mengelus pundak Raya.
"Maafkan saya, Om, Tante... Saya ingin sekali berlama-lama, tapi saya ada urusan penting... Lain kali saya akan ikut papa dan mama untuk mampir ke rumah Om..." Ucap Dalvin Pamit.
"Om akan tunggu..." Jawab Angkasa mengerti posisi Dalvin.
"Hey, Ganteng... Lain kali kita bertemu lagi, ya..." Ucap Dalvin pada Danesh sambil mencubit kecil pipinya.
"Dada, Om Danteng..." Danesh melambaikan tangan sampai Dalvin tak terlihat lagi.
****
"Bagaimana meeting hari ini, Vin?" Dean datang bersama Sandra dan langsung menghampiri Dalvin yang tengah bersantai di ruang keluarga.
"Baguslah... Mengenai proyek ini kamu memang ahlinya..." Puji Dean seraya duduk di samping Dalvin.
"Oh ya, Pa, Ma... Tadi aku tidak sengaja bertemu om Angkasa bersama istrinya..." Ujar Dalvin bercerita.
"Dimana?" Tanya Sandra terlihat antusias.
"Di parkiran restoran... Mereka membawa bocah kecil tiga tahunan, kata mereka cucu mereka..." Jawab Dalvin sembari menoleh kepada Sandra.
"Cucu?" Dean dan Sandra serentak bertanya. Mereka terlihat kaget akan pernyataan Dalvin yang sama sekali tidak pernah mereka ketahui.
"Iya, Ma, Pa..."
"Kapan putrinya Raya menikah? Kok mereka tidak mengundang kita, ya, Pa?" Sandra memandang ke arah Dean dengan bingung.
"Entahlah, Ma... Mungkin Raya kecewa kepada kita karena penolakan Dalvin waktu itu..." Jawab Dean sedikit murung.
"Maafkan aku, Pa..." Dalvin terhenyak mendengar jawaban papanya.
__ADS_1
"Sudahlah, Vin... Perasaan seseorang juga tidak bisa dipaksa, kan? Jika kamu menerima, namun belum tentu untuk putri mereka. Apalagi waktu itu mereka bilang putri mereka sedang berada di luar negeri..." Ujar Sandra menimpali.
"Betul kata mamamu, Vin... Papa juga tidak menyesalinya... Hanya saja Papa jadi kepikiran. Hubungan kami sempat memburuk sejak mama Wulan meninggal, dan mereka baru mau menemui Papa ketika hendak menjodohkan kamu dan putrinya empat tahun yang lalu... Entah karena kecewa, mereka tidak lagi pernah datang setelah penolakan mu waktu itu... Ketika Papa dan mamamu sengaja berkunjung ke rumah mereka, pelayan mereka mengatakan dengan gugup bahwa mereka sedang tidak berada di rumah..." Tutur Dean.
"Tidak, Pa... Tante Raya tidak pernah marah kepada Papa dan Mama. Mereka tadi memintaku untuk menyampaikan permohonan maaf mereka kepada Papa dan Mama soal itu. Kata mereka, mereka akan mampir di lain waktu. Tapi mereka berharap kita mau berkunjung ke rumah mereka..." Ujar Dalvin.
"Jadi, mereka tidak marah?"
"Sepertinya tidak... Tante Raya terhadapku masih sama seperti terakhir kali..." Jawab Dalvin begitu yakin.
Malamnya Dalvin pamit kepada orangtuanya untuk kumpul bersama teman-temannya semasa di perusahaan Angkasa Raya. Ia mendengar perusahaan itu semakin maju semenjak dipegang oleh putri pemilik perusahaan.
"Apa kabar, Vin? Untung saja aku masih menyimpan nomor ponselmu..." Sapa Mytha, gadis sekantor dengannya dulu dan bahkan sempat menahan dirinya.
"Baik, Myth... Kamu sendiri bagaimana?"
"Semakin membaik... Karirku juga..." Jawab Mytha terlihat begitu bersemangat.
"Baguslah..." Ucap Dalvin sambil tersenyum.
"Hey, Vin..." Seorang pria yang juga merupakan staf di perusahaan Angkasa Raya datang menghampiri mereka. "Tumben hadir, biasanya Mytha sampai nangis darah pun kamu tidak akan pernah mau datang..."
"Dan hari ini pun juga sudah terlambat, Vin... Pimpinan perusahaan baru saja pergi..." Timpal pak Dwi.
"Maaf, Pak... Tadi siang saya ada meeting dadakan... Harusnya ini meeting papaku, karena berhalangan, terpaksa aku menggantikan..." Ujar Dalvin beralasan.
"Enak ya, Vin, jadi CEO di perusahaan keluarga... Nanti kalau aku dipecat, aku kerja di perusahaan mu, ya...?" Seloroh Mytha.
"Siiip...." Dalvin mengacungkan jempolnya. "Oh, ya... Aku ke toilet sebentar..."
Dalvin berjalan ke arah belakang, tatapannya begitu hampa memandang dengan mata sayu penuh kerinduan. Dadanya setiap hari semakin sesak. Bukan berangsur terlupa, namun kenangan itu semakin hidup di hatinya.
Tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak bahu seseorang, sehingga ia terpental ke dinding. "Soraa....!"
.
.
.
__ADS_1
.