MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
31. Usaha Duta


__ADS_3

Duta sama sekali tidak bisa melupakan wajah Soraya. Setiap apapun yang ia lakukan, wajah cantik itu selalu menggoda dirinya. Ia tak tahan, lalu memutuskan untuk mencari keberadaan Dalvin.


Duta tidak pernah peduli sebelumnya kemana Dalvin dan dimana tempat tinggal Rio, tapi kali ini tentang Soraya. Sungguh sangat menggangu pikirannya. Ia tertarik, dan baru kali ini ada yang membuat ia lengah menjadi nomor satu bagi papanya.


"Bukan siapa dia, dan tidak peduli bagaimana keadaannya, aku rasa aku telah jatuh cinta..." Gumam Duta.


Duta diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar Dalvin. Ia begitu senang mendapati kamar adik tirinya itu tidak terkunci.


Duta tertegun. Ia teringat perbuatannya terakhir kali terhadap Soraya. Rasa bersalah menggelitik relung hatinya. "Akan lebih baik jika saja aku tidak memulai perkenalan yang salah...."


Ia melihat tempat tidur yang berantakan dan lemari yang ternganga lebar. Ia ingat betul kepergian Dalvin dengan amarah dan tergesa-gesa waktu itu.


Duta berkeliling mencari sesuatu. Ia sangat penasaran dan berharap mendapatkan petunjuk atas keberadaan Dalvin bersama Soraya sekarang.


Lelah mencari, ia hampir saja menyerah. Ia sama sekali tidak menemukan apa-apa disana. Namun ketika ia bersandar di tepi tempat tidur Dalvin, matanya tak sengaja melihat foto adik tirinya itu bersama lelaki yang begitu asing baginya di atas bufet sampingnya.


"Sepertinya lelaki inilah yang bernama Rio, sahabat Dalvin itu... Apa aku mesti tanyakan saja kepadanya tentang keberadaan Dalvin dan Soraya? Aku rasa dia akan tahu dimana mereka sekarang..." Kata Duta tampak sedang berpikir.


Duta mengamati foto itu dengan seksama. Dahinya berkerut ketika melihat lekat background foto itu. "Seperti di depan gedung PT. Nusa Kembangan, apa mungkin dia ini bekerja disana?"


Beberapa saat kemudian Duta keluar dari kamar Dalvin dengan mengendap-endap. Ia tahu, meskipun mamanya yang melihat dirinya keluar dari sana, ia akan ditatar habis-habisan dan ditanyai ini itu.


Duta tidak bersabar untuk menunggu waktu. Ia langsung menuju ke lokasi yang ada dalam foto.


Sesampai disana, Duta disambut baik oleh direktur perusahaan PT. Nusa Kambangan.


"Suatu kehormatan bagi kami atas kedatangan CEO muda dari group Fernando ke kantor kami ini..." Ucap Direktur.


Tanpa basa-basi, Duta meletakkan foto Dalvin


bersama Rio yang ia temui tadi. "Saya ingin bertemu lelaki ini... Pasti dia pegawai disini, kan?" Tanyanya sambil menunjuk gambar Rio.


Dahi direktur itu mengerut ketika ia melihat foto Rio. "Saya akan tanyakan pada personalia kami... Tunggu sebentar, Tuan..."


Direktur itu menghubungi personalia perusahaan untuk segera datang ke ruangannya.


Tidak beberapa lama, pegawai yang dipanggilnya pun datang.


"Apa lelaki ini bekerja disini?" Tanya direktur itu sambil menunjuk gambar Rio kepada pegawainya.


Pegawai itu memerhatikan dengan seksama. "Beliau almarhum, Pak... Sampai akhir hayatnya mengabdikan diri di kantor ini sebagai manager pemasaran..."


"Almarhum?" Duta tercengang.


"Oh, dia Rio? Saya hampir melupakannya... Wajahnya sungguh berbeda..." Ucap Direktur itu ikut tercengang.

__ADS_1


"Sepertinya foto ini diambil sudah sangat lama, Pak... Waktu ia baru saja bekerja di perusahaan ini tampaknya..." Timpal personalia.


"Dia sudah meninggal?" Tanya Duta.


"Benar sekali, Tuan... Sangat disayangkan, dia meninggal muda karena penyakit yang dideritanya..." Tutur direktur itu dengan mimik sedih.


"Apa saya bisa meminta alamatnya? Dia ini sahabat adik tiri saya..." Pinta Duta dengan perasaan was-was. Ia takut harapannya akan sia-sia untuk dapat menemui Soraya lagi.


"Sebentar, Tuan... Saya akan mencarikannya..."


****


Duta melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia semakin tidak sabar menemui siapapun yang ada di alamat dalam kertas yang diberikan pegawai PT. Nusa Kambangan tadi.


Baginya, Rio adalah satu-satunya orang yang dapat memberikan ia informasi tentang keberadaan Soraya dan Dalvin. Namun sungguh tidak sesuai dengan harapannya, Rio ternyata telah meninggal.


Duta sampai di depan sebuah rumah minimalis. Ia kembali mencocokkan alamat yang tertera di depan rumah dengan alamat yang tertulis di kertas kecil dalam genggamannya.


"Terlihat kosong, tetapi rumah ini sangat bersih... Apa mungkin ada keluarganya di dalam?" Gumam Duta sambil terus menatap rumah di depannya.


Seorang perempuan paruh baya melintas disana, dan Duta segera mencegatnya dengan sopan.


"Permisi, Nyonya... Maaf mengganggu waktu Anda sebentar... Apa rumah ini kosong?" Tanya Duta sambil menunjuk ke rumah itu.


"Tidak, Tuan... Sepasang suami istri yang menempatinya... Jika ingin mencari rumah kosong, disana Anda akan menemukannya..." Tunjuk perempuan itu mengarah ke seberang.


"Bagaimana tidak? Penghuninya seorang perempuan buta, sementara suaminya bekerja siang dan malam... Makanya rumah ini selalu terlihat sepi, Tuan..." Ucap perempuan itu menjelaskan.


"Buta?"


"Benar, Tuan..." Jawab perempuan itu meyakinkan Duta.


"Berarti saya tidak salah, Nyonya... Ini alamat yang saya cari..." Ucap Duta terlihat senang.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan..." Pamit perempuan itu.


"Baik, Nyonya... Terimakasih atas waktunya..."


Setelah perempuan paruh baya itu berlalu, Duta segera mendekati rumah minimalis yang ditempati Soraya dan Dalvin, rumah milik almarhum Rio.


Di beranda rumah, Duta meremas jemarinya sendiri. Ada perasaan tak karuan di hatinya. Keinginannya yang semula begitu besar untuk bertemu Soraya yang selalu mengganggu hatinya, tiba-tiba menciut. Ia menjadi takut, persis seperti orang yang pertama merasakan jatuh cinta.


Seperti bukan dirinya. Ia menjadi begitu lemah dan tak berdaya memikirkan Soraya yang pasti akan menolak kehadirannya disana.


Sementara di dalam, Soraya kebingungan. Ia mendengar suara mobil berhenti di pekarangan rumah disusul langkah kaki seseorang ke depan pintu, namun tidak ada tanda-tanda orang itu mengetuk pintu.

__ADS_1


Soraya segera menelepon Dalvin. Ia mulai merasa cemas jika yang datang bukanlah orang baik, melainkan orang yang berniat jahat kepadanya.


"Kenapa meneleponku?" Tanya Dalvin dari seberang.


"Sepertinya ada yang datang... Aku sedikit risih..." Jawab Soraya.


"Siapa?" Tanya Dalvin berlagak acuh tak acuh.


"Aku juga tidak tahu," Bisik Soraya.


"Mungkin tetangga sebelah... Ckkk aku bahkan sudah melarangnya..." Decak Dalvin kesal.


Belum sempat ia menjelaskan apa-apa, ia malah mendengar ribut-ribut di seberang telepon seakan seseorang mendesak Dalvin untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia segera mengakhiri panggilan telepon mereka.


"Maafkan aku, pasti kamu kesulitan disana gara-gara telepon dariku..." Sesal Soraya merasa bersalah.


Soraya meletakkan ponselnya di atas sofa, lalu berjalan perlahan menggunakan tongkatnya menuju ke arah pintu. Ia sungguh penasaran, namun ia juga ketakutan.


Ia mendekatkan daun telinganya ke pintu, berharap mendengar sesuatu yang lebih dari luar.


Di luar, Duta memberanikan diri mengetuk pintu pelan-pelan.


"Siapa?" Sambut Soraya cepat.


"Soraya, kamukah di dalam?"


Soraya tampak berpikir mencerna suara orang di luar.


"Soraya, ini aku, Duta..."


Soraya terperanjat. Ya, suara mengerikan yang pernah ia dengar kembali hadir. Ia bergerak mundur penuh ketakutan.


"Pergiiii!" Teriaknya sambil melempar tongkat dalam genggamannya ke pintu.


"Soraya, tenanglah... Aku datang kemari untuk berdamai dan meminta maaf kepadamu..." Ucap Duta sambil terus mengetuk pintu.


Soraya hanya menggeleng. Ia berusaha meraba apapun di sekitarnya. Lalu ia mendapati sofa dan menariknya ke pintu. Ia seolah menahan pintu itu agar tidak dapat dibuka Duta.


Kursi, Sofa, meja dan bahkan banyak benda lainnya telah tertumpuk di belakang pintu. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan mengunci diri disana. Tubuhnya bergetar, ia menangis terisak-isak di balik lemari pakaian bagian sudut kamar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2