
Dalvin terpana melihat pemandangan di depannya. Soraya dengan dituntun salah seorang penjaga toko keluar dari ruang ganti.
"Cantik..." Gumam Dalvin dengan takjub. Matanya tak berkedip sama sekali melihat keindahan pada diri Soraya.
"Dalvin?" Panggil Soraya berusaha mencari keberadaan Dalvin. Wajah gadis itu tampak cemas sepertinya.
"Dalvin...!" Ulangnya. Ia hampir terlihat menangis.
"Eh... I-iya, kenapa?" Sahut Dalvin gelagapan. Ia mendekat, lalu mengamati wajah Soraya yang tampak ketakutan.
Soraya meraba wajah Dalvin dengan seksama, lalu barulah ia mulai tenang kembali.
"Kenapa, Sora?" Tanya Dalvin ikut mencemaskannya.
"Kamu masih disini... Aku pikir kamu meninggalkanku... Aku gelisah... Aku takut... Jangan campakkan aku, Vin..." Ucap Soraya panik.
Para penjaga toko tampak menahan tawa mereka, namun mereka tak berhenti memandang Soraya dan Dalvin dengan pandangan haru.
"Tenanglah... Aku tidak akan meninggalkanmu..." Bujuk Dalvin menenangkannya.
"Kenapa mereka menyuruhku berganti pakaian disini, Vin?" Tanya Soraya berbisik. Ia terlihat bingung sambil meremas gaun yang dipakainya.
"Aku yang meminta mereka..." Jawab Dalvin.
"Hah? Untuk apa? Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Soraya semakin dibuat panik.
"Memangnya kamu sedang memikirkan apa, heh?" Dalvin berbalik menanyai Soraya. Ia ikut bingung melihat kecemasan di wajah gadis itu.
"Mereka juga mendandaniku... Terus, pakaianku sedikit mencolok rasanya... Kamu mau membawaku kemana? Kamu tidak akan menjualku, kan?" Tuduh Soraya merengut.
TUK
"Aaaawww..." Pekik Soraya sambil memegang jidatnya.
"Jangan terlalu buruk isi pikiranmu itu..." Sarkas Dalvin.
Soraya masih merengut sambil mengusap-usap jidatnya. "Bagaimana aku tidak berpikiran buruk? Kamu kan pengangguran..." Gerutunya.
Tatapan penjaga toko seketika mengarah kepada Dalvin, membuat harga dirinya serasa jatuh di hadapan mereka.
"Masih saja menghinaku, aku tinggal di lampu merah..." Ancam Dalvin berlagak marah.
"Jangaan..." Pekik Soraya sambil berusaha menggamit lengan Dalvin.
__ADS_1
Penjaga toko disana pun ikut tertawa melihat tingkah mereka.
Dalvin menarik tangan Soraya keluar dari toko itu.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" Tanya Soraya masih takut-takut.
"Ke lampu merah..." Ucap Dalvin terdengar ketus.
"Dalviiiin..." Teriak Soraya marah.
"Jika aku mau bertanya padamu, kamu mau kemana?" Tanya Dalvin mulai melunak.
"Aku mau pulang saja..." Jawab Soraya cepat. Ia merasa mardeka jika disuruh memilih begitu.
"Selain pulang..." Hardik Dalvin.
"Aku tidak mau kemana-mana, Vin... Aku juga tidak bisa melihat, percuma..." Rengek Soraya.
Dalvin seketika menghentikan langkahnya, sehingga tubuh Soraya ikut tertahan karena genggaman tangannya yang begitu kuat.
Soraya hampir terjungkal, namun dengan cepat Dalvin menangkap bahu Soraya. Meski Soraya tidak bisa melihat, namun ia begitu paham posisinya saat itu. Wajahnya terlihat canggung, ia seketika menjadi gugup.
Dalvin mengamati wajah Soraya untuk sesaat. Ia tidak mengerti, mengapa jantungnya berdegup kencang saat itu.
Dalvin menghela napas. "Aku ingin bersenang-senang hari ini... Tolong temani aku..." Ucap Dalvin.
"Ta-tapi kemana?" Tanya Soraya masih dalam pemikiran cemasnya.
"Kamu sudah tidak memercayaiku lagi?" Balas Dalvin bertanya.
Soraya terdiam. "Baiklah... Hari ini kita jalan-jalan..."
"Kemana?"
"Menurutmu, dimana tempat yang cocok untuk orang tak bisa melihat sepertiku?" Soraya balik bertanya.
Dalvin tersenyum, lalu mengusap poni Soraya yang sedikit berantakan.
****
"Aaaaaaa..." Soraya menjerit. Ia menggeliat kegelian sambil meronta-ronta. Sementara Dalvin malah tertawa terpingkal-pingkal sambil menahan tubuhnya.
"Apa itu, Vin? Kamu jangan macam-macam, ya..." Berang Soraya.
__ADS_1
"Memangnya kamu pikir ini apa, hah?" Tanya Dalvin di balik sisa tawanya.
"Aku nggak tau, aku geliiii..."Pekik Soraya.
Dalvin berusaha menghabiskan sisa tawanya.
"Ini cuma lumut, Sora... Hahaha..." Ungkap Dalvin masih saja terbahak.
Soraya terdiam.
"Lu-lumut?" Tanyanya ragu.
"Iya, cuma lumut..." Jawab Dalvin meyakinkan Soraya.
"Iiii... Aku jadi berpikir yang aneh-aneh... Geli tahu..." Sungut Soraya sambil menggidikkan bahunya.
"Kamu tahu kita sekarang ada dimana?" Tanya Dalvin setelah suasana di antara mereka kembali canggung.
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti, di dekat sini ada air terjunnya... Benar, kan?" Tanya Soraya kembali bersemangat.
"Benar... Kita di air terjun Lembah Jodoh (Fiktif belaka)... Kamu suka?"
"Aku suka, Vin... Ini pasti menyenangkan, jika saja mataku bisa melihat..." Jawab Soraya tiba-tiba sendu.
Dalvin menggendong Soraya, membuay gadis itu terkejut dan memberonta.
"Dalvin, kamu mau apa?" Pekik Soraya.
"Tenanglah... Kamu bisa membuat kita terjatuh di atas bebatuan ini..." Tukas Dalvin membuat Soraya terpaksa tenang.
Sebelah tangan Soraya berpegangan di kerah depan Dalvin. Ia terus mengamati suasana di sekelilingnya dengan seksama, hingga suara air semakin keras terdengar di telinganya. Percikan air pun mulai terasa di kulitnya.
Tak lama, Soraya merasakan dingin air ketika Dalvin menurunkannya pelan-pelan. Dalvin menarik lembut tangan Soraya yang masih memegang bajunya dengan erat.
"Nikmati kebahagiaanmu disini, Sora. Meski kamu tidak bisa melihat, tapi kamu masih bisa menikmati keindahan alam lewat telingamu. Dengarlah burung-burung disana. Ia seolah menceritakan, bahwa alam ini dalam keadaan baik-baik saja, dan siap memberimu kenyamanan dengan cerahnya sang surya..." Ungkap Dalvin begitu tulus.
.
.
.
.
__ADS_1