MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
16. Menikah


__ADS_3

Soraya bergerak malas menuju ke kamar mandi. Ia tahu hari sudah siang, namun tanda-tanda kedatangan Dalvin tak juga tampak. Ia menjadi ragu, dan berpikir bahwa pria itu tidaklah bersungguh-sungguh dengan ucapannya kemarin.


Soraya tanpa tongkatnya berjalan dengan berpapah ke dinding.


BUUKHH


"Ya Tuhan, apa itu tadi?" Ucapnya ketakutan ketika merasa dahinya membentur sesuatu.


Ia meraba-raba, dan ia tampak kebingungan. Tangannya terus bergerilya, menyentuh dengan kepenasaran yang tinggi.


"Dalvin? Kamukah itu?" Tanya Soraya ketika berhasil meraba wajah sosok yang ia bentur.


"Kenapa belum bersiap? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa hari ini kita akan menikah?" Ketus Dalvin.


"Ka-kamu tidak mengubah pikiranmu? I-ini kan keliru, Vin..." Ucap Soraya gugup.


"Dengan kita menikah, semua akan lebih mudah, Sora... Ini keputusan yang tepat untuk kita berdua..." Ucap Dalvin tanpa keraguan.


Tidak. Bukannya dia tidak ragu. Hanya saja, kejadian di rumah tadi membuat ia lebih tidak yakin lagi jika ia masih belum punya pasangan.


Papanya akan terus memaksa dirinya menikah demi sebuah jabatan, dan kelakuan Duta yang terus-menerus menginjak harga dirinya lewat Amira.


"Sudah terlambat... Sepertinya kita ke salon saja..." Ajak Dalvin seraya menarik lengan Sora.


"Tapi, Vin..." Bantah Soraha sambil tetap bertahan di posisinya.


Dalvin menghentikan langkahnya. Ia menatap Soraya sambil menggamit bahu gadis itu.


"Katakan, Sora... Katakan jika kamu meragukanku... Katakan jika kamu tidak ingin mengkhianati Rio, maka aku tidak akan memaksamu untuk kali ini, dan untuk seterusnya..." Tegas Dalvin.

__ADS_1


Ia tidak mendesak. Ia hanya berusaha kompromi dengan hatinya, apabila Soraya juga berada dalam kebimbangan seperti dirinya.


Soraya tertegun. Beberapa saat, gadis itu terisak.


"Sora?" Tatap Dalvin kebingungan. Ia tiba-tiba merasa bersalah telah dengan sengaja melampiaskan kemarahannya pada Soraya.


"Maafkan aku..."Ucap Dalvin melunak.


"Apa dengan kita menikah, semua akan baik-baik saja? Aku malu menerimamu karena kehinaan pada diriku, tapi aku takut menolakmu karena aku tidak akan pernah lagi menemukan angin sepertimu. Angin surga yang ditutunkan Tuhan untuk menuntun langkahku dalam kegelapan duniaku ini..." Ucap Soraya getir.


"Aku takut kehilangan kesempatan, jika menikah denganmu benar-benar keindahan setelah gelap yang selama ini aku rasakan... Dalvin, jika suatu hari nanti kamu bosan bersama perempuan buta ini, maka katakan baik-baik, ya... Jangan pernah campakkan aku diam-diam... Jika kamu sudah berjanji, maka mari kita menikah..." Ucap Soraya dengan berlinangan air mata.


Mata Dalvin ikut berkaca-kaca. Ia meresapi setiap ketakutan dalam hati gadis buta di hadapannya itu.


Sungguh kasihan memang, tapi bahkan dia tidak sampai berpikir untuk menyakiti gadis itu walau nanti.


Dalvin menghapus air mata Soraya yang berjatuhan, lalu menarik bahu gadis itu ke dalam dekapannya. Ia memeluk Soraya untuk memberi keyakinan penuh, sehingga Soraya tidak akan merasa rendah diri lagi di hadapannya.


****


Pernikahan mereka telah sah secara negara, meski tanpa dihadiri satu pun dari keluarga mereka masing-masing.


Semua orang-orang yang juga mendaftarkan pernikahan mereka di hari itu, menatap mereka dengan tatapan heran. Berpikir mereka adalah dua sejoli yang saling cinta, namun terhalang restu orang tua, sehingga mereka diam-diam menikah tanpa dukungan dari keluarga mereka.


"Kawin lari, ya?" Tanya salah seorang kepada mereka.


Dalvin tak menyahut, ia hanya tersenyum acuh menanggapi pertanyaan orang itu. Ia terus menggenggam tangan Soraya agar gadis itu tidak berkecil hati mendengar bisik-bisikan orang banyak tentang mereka. Karena setiap ocehan orang-orang, selalu fisik Soraya yang mereka sebut.


"Semua akan baik-baik saja, Sora..." Bisik Dalvin.

__ADS_1


Soraya mengangguk.


"Setelah ini kita berkemas. Aku akan membawamu ke rumahku..." Ucap Dalvin lagi.


Soraya tak menanggapi. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang dilakukan Dalvin adalah yang terbaik untuk mereka.


Usai acara pernikahan, Dalvin kembali ke rumah Rio untuk mengemasi pakaian Soraya. Ia tidak memiliki rencana selain mengenalkan istrinya kepada orang rumah, terutama kepada papanya dan Duta.


"Sora..." Panggil Dalvin.


"Hmm?"


"Setibanya di rumahku nanti, kamu tidak perlu memerdulikan apa pun ucapan keluargaku, ya... Kamu hanya perlu mendengarkan perkataanku..." Ucap Dalvin memperingati.


"Memangnya kenapa?" Tanya Soraya keheranan. Ia pikir dengan Dalvin membawanya kesana, berarti semua keluarga Dalvin akan menerima dirinya dengan baik.


"Banyak hal yang terjadi di dalam keluargaku, dan itu juga tidak penting bagimu... Yang terpenting itu, kamu selalu dalam lindunganku..." Jelas Dalvin.


"Baiklah..." Jawab Soraya singkat. Dengan ucapan Dalvin begitu, mengerti atau tidak mengerti, ia tidak perlu bertanya lagi.


Dalvin menghentika mobilnya tepat di depan pintu utama rumahnya yang mewah. Dalam jam segitu, ia yakin keluarganya telah berkumpul di rumah.


"Ini rumahku, Sora... Sangat besar dan megah... Tapi aku tidak perlu menuntunmu ke seluruh penjuru rumah ini, karena keberadaanmu cukup di dalam kamarku saja..." Ucap Dalvin.


Soraya masih tak menyahut. Ia pasrahkan semuanya, dan ia serahkan jalan hidupnya kepada pria yang baru beberapa hari ini ia kenal, dan saat ini bahkan telah menjadi suaminya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2